06 Okt 2013 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2013
Iman Besar
6 Oktober 2013

Matius 15:21-28, “Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. 22 Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” 23 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak.” 24 Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” 25 Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku." 26 Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” 27 Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” 28 Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh.”

Yesus mengatakan tentang perempuan ini, “Besar imanmu.” Alkitab membicarakan iman besar, iman lemah, dan juga iman kuat dan iman taat. Namun apakah sifat iman besar? Ini bukan pertama kalinya Tuhan kita mengatakan ini. Di Matius 8, seorang perwira datang kepada-Nya untuk memohon Yesus melakukan mujizat atas nama hambanya yang lumpuh. Yesus mengatakan kepadanya, “sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.” Dan kedua-duanya adalah orang non-Yahudi.

Ayat 21, “Lalu Yesus pergi dari situ,” maksudnya dari Galilea dimana Dia telah melayani cukup lama, “dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon.” Tekanan semakin tinggi, pelayanan-Nya begitu besar sampai semua orang tahu tentang hal itu. Dan permusuhan semakin naik dari orang-orang yang ingin memaksa Dia menjadi raja dan orang-orang Farisi ingin membunuh-Nya.

Jadi dari hiruk-pikuk Galilea, Dia pergi ke utara, ke daerah Tirus dan Sidon. Dia keluar dari wilayah hukum politik dan agama pemimpin-pemimpin Israel. Perjalanan itu mungkin sejauh 70 kilometer melalui jalan-jalan gunung yang kasar. Dan cuacanya berubah banyak, dari cuaca panas di Lautan Galilea ke gunung-gunung tinggi yang sejuk dari Lebanon selatan.

Jadi Yesus meninggalkan Palestina, tanah Israel, selama waktu singkat untuk pergi ke daerah perbatasan Fenisia. Bagi Yesus ini adalah pengunduran diri sengaja. Ada beberapa orang yang menganggap ini suatu kontradiksi bahwa Dia benar pergi ke tanah non-Yahudi karena apa yang dia katakan di ayat 24, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Kita akan melihat bahwa ini benar-benar tidak melanggar kebenaran ayat itu.

Markus 7:24 mengatakan, “Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya.” Jadi Dia tidak khususnya pergi kesitu untuk melayani. Orang- orang Fenisia, daerah itu sekarang dikenal sebagai Libanon, telah mendengar banyak tentang pelayanan-Nya.

Sejak Matius 4, ketika Yesus mulai pelayanan-Nya di Galilea, ayat 24 mengatakan bahwa orang-orang datang dari daerah sebelah utara perbatasan Palestina dan mereka turun ke Galilea karena mereka telah mendengar dari Yesus. Dan mereka membawa banyak orang bersama mereka, dan Dia menyembuhkan penyakit-penyakit mereka dan mengusir setan-setan mereka.

Markus 3:8 yang juga mencatat waktu mula-mula, mengatakan, “Dari daerah Tirus dan Sidon datang banyak orang kepada-Nya, sesudah mereka mendengar segala yang dilakukan-Nya.” Perhatikan bahwa mereka memiliki hati yang mau menerima. Hati mereka adalah hati yang tidak terbeban legalisme agama Yudaisme, yang tidak terikat oleh rantai tradisi. Mereka kurang bangga secara intelek dan kurang bangga secara agama.

Lihatlah Matius 11:21, Yesus mengatakan, “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat- mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung.” Jadi Yesus mengatakan bahwa orang-orang Fenisia jauh lebih mau menerima dan itu tidak demikian diantara orang-orang Yahudi.

Jadi meskipun Dia tidak membuka sepenuhnya pelayanan kepada orang-orang non-Yahudi, atau membatalkan prioritas Israel, Dia mengulurkan diri-Nya kepada hati-hati yang terbuka. Yesus tahu hal itu ketika Dia datang kesitu, Dia akan bertemu dengan wanita ini, karena Dia memang tahu segalanya. Dan sebelum Dia pergi, menurut Markus 7:31, Dia melayani banyak orang di daerah itu, jadi Dia merespon kepada hati lain yang terbuka.

Ada simbolisme di dalam hal ini, Dia meninggalkan agama traditional untuk iman benar. Dia meninggalkan kebanggaan agama untuk kerendahan hati. Dia meninggalkan orang yang tidak mau mencari untuk orang yang mencari dengan hati terbuka. Dia selalu sedia bagi orang seperti itu. Misi-Nya selalu apa yang Dia katakan di Matius 28, “pergilah ke seluruh dunia, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.”

Lihatlah ayat 22, “Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru kepada-Nya.” Orang ini, menurut pandangan orang Yahudi, tidak diizinkan masuk ke dalam berkat Allah. Pertama karena dia perempuan, dan kedua karena dia orang Kanaan. Mereka penduduk asli Tanah Perjanjian, dan Allah dulu mengatakan kepada Israel, “Inilah sekarang tanahmu, tanah Perjanjian, dan ketika Anda masuk ke dalam negara ini, lenyapkanlah semua orang Kanaan ini.”

Markus menamakannya orang Siro-Fenisia, yaitu dari daerah Suria dan Fenisia, atau Suria dan Libanon. Inilah wanita yang datang kepada Yesus dan dia adalah gambaran iman sejati yang menyelamatkan. Dia diluar perjanjian, orang berdosa dari negara yang berdosa, yang tidak layak untuk memohon apapun dari Tuhan kita, dan dia adalah teladan sempurna dari orang berdosa yang datang tanpa hak istimewa dan tanpa keunggulan untuk merangkul Yesus Kristus oleh iman saja.

Kita dapat menyimpulkan bahwa dia sama sekali tidak puas dengan berhala dia. Jika dia telah menyembah Astarta saja atau bersama dengan dewa-dewa lain, mereka tidak sanggup menyelesaikan masalahnya. Kebutuhannya tidak dipenuhi jadi dia datang kepada Yesus Kristus dengan kepercayaan dalam hatinya bahwa Dia sanggup memuaskan kebutuhannya. Yesus mengatakan tentang dia di ayat 28, “Hai ibu, besar imanmu.”

Ini catatan penting: Iman besar itu istilah relatif. Bagi dia, imannya besar karena pengetahuannya sangat terbatas. Dia orang kafir diluar perjanjian, diluar Firman Allah dan dia berada di suatu daerah dimana Tuhan Yesus tidak memperlihatkan mujizat-mujizat-Nya. Jadi berdasarkan informasi terbatas dan kadar kecil, imannya besar.

Disisi lain, ketika Tuhan kita mengatakan kepada murid-murid, “Hai kamu yang kurang percaya,” iman mereka kecil dibanding semua yang mereka sudah tahu dan sudah mereka lihat. Namun dalam kasus perempuan ini, ini iman besar, inilah kunci seluruh bagian ini. Jika Anda tidak mengerti bahwa iman wanita ini adalah intinya, Anda tidak akan mengerti apa yang terjadi.

Ada lima hal yang menunjukkan iman besar. Yang pertama adalah iman besar diarahkan kepada yang benar. Dia memiliki iman kepada orang yang benar. Dia kecewa akan berhala, semua yang non-dewa, semua hal duniawi seperti uang, status dan pengetahuan dunia. Dia sekarang percaya sepenuhnya kepada Yesus. Banyak orang besar imannya, tetapi kepada hal-hal keliru.

Kedua, iman penuh pertobatan. Kita melihat hal itu di ayat 22, “Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku.” Apakah artinya itu? Apakah arti belas kasihan? Belas kasihan berarti, “Aku disini meskipun Aku tidak berhak apapun juga.”

Istilah “belas kasihan” adalah istilah Alkitabiah. Di Perjanjjian Lama dan Perjanjian Baru, kata Yunani adalah eleeo, dan itu digunakan 500 kali. Ini menggambarkan hubungan manusia dengan Allah yang menggambarkan bahwa manusia datang kepada Allah hanya untuk memohon belas kasihan. Daud berseru kepada Allah di Mazmur 51, “Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!” Ini sebaliknya dari kebanggaan spiritual orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat.

Iman sejati yang menyelamatkan benar-benar mengerti berkat Kristus. Ada pertobatan, ada pengertian tidak layak, dan ada penyesalan. Anda menyadari Anda minta kemurahan hati yang tidak layak. Iman besar memiliki pertobatan, itu bukan suatu yang ditambahkan kepada iman. Iman dan pertobatan, sama seperti anak siam kembar, tergabung hayati. Iman dan pertobatan seperti dua jari di roda yang sama.

Ketiga, imannya juga sangat menghormati. Dengarkanlah perkataannya, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud!” Dia memberikan-Nya judul yang sangat menghormati, dan sebenarnya itu dua judul. Yang pertama adalah Tuhan, keilahian berdaulat, dan kedua adalah Putra Daud, Mesias yang dijanjikan dan Juruselamat. Dia tahu Yesus memiliki kuasa supranatural.

Faktanya bahwa dia mencari dan percaya bahwa Yesus sanggup menyelamatkan anaknya perempuan dari kuasa setan menunjukkan bahwa dia percaya bahwa Yesus memiliki kuasa atas kerajaan supranatural Iblis dan setan-setannya. Dia mengerti bahwa didalam kata ‘Tuhan’ ada keilahian, ada sesuatu yang supranatural, dan berdaulat atas kegelapan dan setan-setan.

Kemudian perempuan ini menamakan-Nya, “Anak Daud.” Ini judul Mesias, hak menjadi raja, dan ada keberdaulatan di dalamnya juga. Daud adalah raja, dan Tuhan ini yang adalah anaknya juga keturunan raja. Dia melihat dalam nama Mesias itu Kristus yang adalah raja dan berdaulat. Ini benar-benar kontras besar dengan orang-orang Yahudi yang tidak sopan yang menamakan-Nya pemabok, teman orang berdosa dan kerasukan setan.

Orang-orang sekarang juga sangat tidak sopan dan tidak menghormati Kristus. Mereka menggunakan nama-Nya sembarangan, sebagai kata kutukan, sebagai julukan untuk mengekspressikan amarah mereka atau kepahitan. Bahkan di gerejapun, saya kuatir kita kadang juga kurang menghormati. Iman besar sangat menghormati, ada rasa penghargaan dan kagum.

Dia mengatakan, “anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Ini harus menjadi peringatan bahwa anak kecilpun di masyarakat yang tidak percaya bisa kerasukan setan. Memang baik sekali untuk melihat ibu yang diluar perjanjian, yang belum mengenal Allah, mengasihi bayinya. Kita tidak selalu melihat kasih seperti itu di masyarakat kita. Allah telah menciptakan di dalam manusia, bahkan juga dalam orang-orang yang tidak percaya, bahwa seorang ibu harus mengasihi anaknya. Kita lihat itu semakin berkurang di masa kini.

Keempat, iman besar bertekun. Perhatikanlah mulai di ayat 23, Yesus memberi beberapa halangan untuk perempuan ini. Ada orang yang datang kepada Kristus dan mereka harus bergumul mengatasi keraguan mereka sendiri, ada beberapa yang harus bergumul untuk mengatasi ketidakmampuan mereka sendiri, namun perempuan ini, supaya mendapatkan Kristus, dia harus mengatasi halangan- halangan yang ditempatkan Yesus sendiri.

Di ayat 23, dia berkata, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita." 23 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya.” Mungkin Anda berkata, “Itu bukan sifat Kristus. Maksudku, mengapa Dia berdiam saja? Apakah Dia tidak peduli? Dia peduli. Apakah Dia tidak berbelas kasihan? Tentu, tetapi apakah yang Dia lakukan? Mengapa Dia tidak mengatakan apa-apa?

Yesus ingin menguji, menguatkan dan untuk menambahkan iman perempuan ini sampai mencapai potensi penuh, jadi Dia memberi hambatan dimana perempuan ini harus bertekun untuk menunjukkan realitas iman benar. Karena itulah cerita ini berada di dalam teks ini, untuk memperlihatkan kontras dengan kedangkalan yang kita lihat sebelumnya. Jadi Yesus memasang hambatan dimana hanya melalui iman sejati dengan bertekun ada jalan keluar.

Jadi Yesus tidak mengatakan apa-apa. Penguasaan diri murid-murid-Nya tidak begitu kuat, ayat 23 meneruskan, “Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak.” Mereka mengatakan tolonglah, suruhlah dia pergi. Sembuhkanlah saja dia dan suruhlah dia pergi.

Malah Yesus mengatakan ini kepadanya, dan tentu mereka mendengar ini di ayat 24, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Waduh, ini mengatakan ,”Hai, Anda bukan orang Yahudi, maaf ya.” Mengapa Dia mengatakan hal itu? Dia telah menyembuhkan hamba perwira itu, telah berbelas kasihan kepada orang Samaria. Dan banyak orang yang keluar dari Tirus dan Sidon di Matius 4 telah disembuhkan, dan setan-setan telah diusir keluar dari mereka.

Yesus mengatakan pada permulaan bahwa rencana itu masih tetap sama. Dia akan kembali ke Israel dan berkhotbah kepada mereka dan memanggil mereka untuk percaya dan masuk ke dalam Kerajaan-Nya. Bahkan pada saat Dia naik ke Surga, Petrus berdiri di Kisah Para Rasul 3 dan mengatakan, “Kamu telah membunuh Pangeran Kehidupan,” dan pada akhir khotbahnya dia mengatakan, “Kamu masih mendapat bagian dalam perjanjian.” Dengan kata lain, Allah tetap memanggil mereka untuk datang.

Markus 7:27 menambahkan dalam catatannya bahwa Yesus mengatakan, “Biarlah anak-anak kenyang dahulu.” Dengan kata lain, “Saya akan memberi makan kepada orang Israel dulu.” Kita selalu tahu bahwa Dia akan pergi keseluruh dunia dan Israel direncanakan untuk menjadi salurannya, dan sudah banyak orang non-Yahudi merespon, namun Yesus ingin memberi tahu bahwa itu tetap rencana Allah, untuk bekerja melalui Israel.

Kelima, iman besar merendahkan diri. Ayat 25, “Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia.” Ini ibu yang sangat merendahkan diri. Dia tidak marah, dia meyembah. Dia mengatakan, “Tuhan, tolonglah aku.” Tahukah Anda, dia menyembah, dan kata Yunaninya adalah proskuneo, yang berarti dia sujud dan menaruh kepalanya di tanah dalam ibadah.

Penyembahan selalu diterima Tuhan. Dimana pun Yesus disembah, Dia menerima hal itu karena memang Dia layak disembah, Dia adalah Allah. Ini hati yang sungguh-sungguh mencari, yang bersikap mencari kebahagiaan, dimana Anda datang mengemis dalam roh, dengan lemah lembut, dengan lapar dan haus akan kebenaran dan bahkan Tuhan sendiri tidak dapat memasang hambatan cukup besar untuk menolak Anda.

Kemudian Tuhan berkata, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Pada permulaan Dia berdiam saja dan sekarang Dia menamakannya anjing! Ini hambatan yang lain lagi. Mungkin Anda berpikir, “Apakah Tuhan ingin mengubah perempuan ini atau tidak?” Namun Dia memberikannya gambaran kecil.

Ada dua kata dalam bahasa Yunani untuk ‘anjing’ dan yang satu adalah untuk anjing yang kotor dan ganas yang berlari dengan anjing lain dekat sampah. Yang lain adalah kata untuk anjing peliharaan kecil dan itulah perkataan yang digunakan Yesus. Ini bukan pernyataan yang menyakiti, Dia mengatakan pada waktu makan bersama, janganlah memberi makanan anak-anak kepada anjing peliharaan yang mengemis di kaki.

Dan perempuan itu berkata, “Benar Tuhan.” Nah, dia bukan hanya beremosi, namun dia pikirannya tajam, “namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Dia menangkap analogi-Nya dan mengambil langkah lebih lanjut, dia bertekun. Jika Yesus akan menjadikan hal dia bukan orang Yahudi menjadi masalah, dia ingin meneruskan dengan keadaan itu. Itupun tidak dapat memberhentikan dia.

Itu memang pernyataan yang benar. Selama waktunya Yesus memberi makanan kepada anak-anak Israel, ada remah-remah yang jatuh kepada orang-orang non- Yahudi, dan kita dapat melihat itu sepanjang berita Injil. Akhirnya tentu waktunya akan datang dimana gereja didirikan dan orang-orang non-Yahudi dirangkul dengan cara luar biasa. Wah, ibu ini sangat bertekun.

Lihatlah respon Tuhan di ayat 28, “Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki. Dan seketika itu juga anaknya sembuh.” Itu hari yang menyelamatkan bagi ibu itu karena besar imannya. Itu pekerjaan iman besar. Bagaimana dengan iman Anda? Marilah kita berdoa supaya iman kita sebesar itu juga.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu