25 Agt 2013 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2013
Fokus kepada Yesus
25 Agustus 2013

Lihatlah Matius 14:22-33, “Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid- murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. 23 Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. 24 Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. 25 Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. 26 Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut. 27 Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

“28 Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” 29 Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. 30 Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" 31 Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" 32 Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah. 33 Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”

Ayat terakhir adalah puncaknya segala sesuatu – yaitu menyembah Anak Allah. Ketika kita memproklamirkan nama Yesus, sama seperti murid-murid-Nya dulu, kita menyadari sekali jenis tanggapan apa yang bisa kita harapkan, sama seperti mereka. Kita menyadari hal itu karena kita juga telah mendengar ajaran Yesus.

Di Matius 13, Yesus mengajarkan bahwa akan ada empat macam respon terhadap pesan Injil. Ia menggambarkan respon orang itu dengan tanah; akan ada tanah yang keras dan berbatu – yaitu mereka yang terang-terangan menolak pesan itu. Kita melihat reaksi itu waktu pelayanan Yesus di Nazaret pada akhir Matius 13, ketika Dia tidak mau melakukan banyak mujizat ditengah mereka karena ketidakpercayaan mereka. Dia ditolak orang-orang dari komunitas-Nya sendiri. Ini adalah tanah yang berbatu.

Kita melihat pada permulaan Matius 14 ilustrasi yang lain dari jenis tanah itu. Kita melihat Herodes yang juga menolak pesan Yesus Kristus terang-terangan dan jika ia diberi kesempatan dia juga akan membunuh Kristus sama seperti dia membunuh Yohanes Pembaptis. Jadi kita dapat menemukan di zaman Kerajaan Tuhan sekarang ini banyak orang yang akan menolak-Nya dengan kekerasan yang sama seperti yang mereka lakukan pada waktu itu.

Kita kemudian melihat orang-orang yang berbeda. Kita melihat 5000 orang diberi makanan dan kita dipertemukan dengan orang-orang yang seperti tanah dangkal, dimana mereka tertarik sementara dan ada yang bertumbuh sedikit. Namun tidak pernah ada buah karena akarnya tidak dapat bertumbuh banyak karena tanah itu terlalu dangkal. Kita juga melihat tanah berduri dimana kelihatannya akan ada buah namun langsung mati karena lalang itu mencekik kehidupan yang tertanam disitu.

Kita melihat di dalam orang banyak yang mengikuti Yesus beberapa orang yang mencari jawaban politik, ekonomi dan sosial untuk masalah-masalah mereka. Mereka mencari seorang Mesias yang dapat menggulingkan Roma dan menghadapi pemerintahan Herodes dan memberikan mereka kemerdekaan nasional. Namun ketika Yesus, sehari sesudah Dia memberi makanan kepada mereka, sehari sesudah Dia berjalan diatas air, mengatakan kepada mereka, “Yang Aku bicarakan kepada kamu bukanlah hal makanan jasmani, namun hal makanan rohani: “Akulah roti kehidupan,” mereka malah pergi.

Dan Tuhan juga memberikan kita, dalam bagian firman malam ini, suatu ilustrasi tanah yang baik, karena kita temukan di ayat 33 bahwa murid-murid yang berada di dalam perahu datang dan menyembah Dia sambil mengatakan, “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.” Keadaannya selalu sama ketika kita juga mengabarkan Injil. Pasti akan ada perlawanan kuat, dan akan ada tanggapan pendek yang akan layu dan menghilang, namun kita juga akan menemukan penyembah-penyembah tulen dimana hati mereka sudah dipersiapkan oleh Tuhan untuk menerima firman-Nya.

Murid-murid itu adalah tanah yang baik karena mereka percaya dan merespon. Ketika di Yohanes 6:14-15 mereka melihat banyak orang yang ingin Yesus dijadikan raja karena da telah menyembuhkan mereka, mengajarkan mereka, dan memberi makanan kepada mereka, kelihatannya pada saat itu oleh murid-murid itu bahwa ini adalah yang telah mereka tunggukan. Mereka mengira bahwa semua pelayanan mereka, waktu menunggu mereka dan persiapan mereka telah mencapai puncaknya. Mereka juga ingin Yesus menjadi raja mereka.

Kemudian di ayat 22, tepat pada puncak popularitas-Nya setelah dua tahun, dimana mereka dapat membayangkan mengalahkan permusuhan dan penolakan pemimpin-pemimpin agama dan politik, waktu orang-orang mau menjadikan-Nya raja, namun pada saat itu juga Yesus memaksa mereka kedalam perahu itu dan menyuruh mereka untuk menyeberang duluan sementara Ia menyuruh orang banyak untuk pergi dan Dia berdoa sendirian.

Karena Kerajaan-Nya tidak pernah suatu kerajaan politik atau kerajaan ekonomi, atau negara yang menanggung kesejahteraan atau kerajaan yang bergantung kepada revolusi fisik. Yesus mengatakan kepada Pilatus di Yohanes 18:36, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini.” Namun mereka pasti kecewa waktu mereka berdayung di perahu kecil mereka di bagian utara Lautan Galilea, sambil menanyakan diri kapan Kerajaan itu akan benar datang.

Tuhan kita ingin memberi mereka suatu gambaran Kerajaan itu sebenarnya apa, dengan berjalan diatas air. Itu menunjukkan mereka bahwa Dia jauh lebih dari raja duniawi saja, Yesus adalah Raja semesta alam semua hal. Kemudian Dia membangun iman di dalam hati mereka yang menunjukkan bahwa Kerajaan-Nya ada di dalam hati manusia, di dalam hati mereka yang mengasihi-Nya dan melayani-Nya. Jadi di waktu pagi itu di Lautan Galilea, mereka melihat Raja tulen dan Kerajaan-Nya.

Apakah terjadi sehingga mereka percaya apa yang mereka katakan di ayat 33, “Engkaulah benar Anak Allah,” ketika tidak lama sebelumnya mereka masih sangat kecewa? Sesudahnya ketika orang banyak sudah pergi, Tuhan mengatakan kepada mereka, “Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?" 68 Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; 69 dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Kristus, Anak Allah yang hidup.” Jawaban dari pertanyaan itu datang di bagian sekarang ini.

Sekarang, setelah meninggalkan orang banyak itu di tepi pantai dimana mereka ingin mejadikan-Nya raja, Yesus memberikan murid-murid itu suatu bukti yang luar biasa besar, Matius 14:25 mengatakan, “Sekarang di waktu jaga malam keempat datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.” Namun yang terjadi lebih banyak dari hanya itu saja, karena disini telah didemonstrasikan sifat-sifat Allah yang mereka harus lihat pada saat itu, yang menyebabkan mereka menyimpulkan Yesus adalah Anak Allah.

Pernyataan “Anak Allah” itu adalah penegasan bahwa Yesus Kristus adalah Allah. Itu digunakan 45 kali di Perjanjian Baru. Ini mengatakan bahwa Dia esensi-Nya sama dengan Allah Bapak. Dan klaim itulah yang menyebabkan orang Yahudi menyalibkan Yesus. Mereka mengerti sekali bahwa Yesus sebagai Anak Allah mengklaim Dia adalah sama dengan Allah.

Bagaimana murid-murid itu menyimpulkan hal itu? Kita melihat minggu yang lalu bahwa Yesus memberikan mereka bukti otoritas ilahi-Nya dan kuasa-Nya dengan caranya Dia mengontrol bukan saja mereka, tetapi orang banyak itu juga. Dan di ayat 23 Dia berada diatas gunung berdoa secara pribadi. Disini kita tahu bahwa Kristus juga sayang kepada mereka, bukan saja Dia mahakuasa namun Dia juga mengasihi umat-Nya dan peduli keadaan mereka.

Kita memiliki Allah yang mengasihi, setia, yang memelihara dan penuh belas kasihan. Ketika mereka melihat sifat-sifat itu di dalam Yesus Kristus, mereka yakin bahwa inilah sama dengan Allah dan yang memelihara umat-Nya. Mereka telah mengalami bahwa Dia menyembuhkan mereka. Bahkan ibu mertua Petrus telah disembuhkan. Mereka telah mengalami bahwa Dia memberi makanan kepada mereka, dan sekarang mereka melihat bahwa Dia datang ke mereka ditengah kebutuhan mereka dan menjadi tempat perlindungan mereka.

Ketika Yesus memerintahkan murid-murid di ayat 22-23, “untuk pergi keseberang,” teks itu mengatakan saat mereka mulai perjalanan mereka, anginnya berlawanan. Gampang sekali bagi mereka untuk memutar balik dan menuju kembali ke tempat asal mereka. Namun dari pada itu, mereka meneruskan ke arah Tuhan memerintahkan mereka pergi, pokoknya mereka taat.

Ketika orang percaya itu taat, meskipun badainya sangat besar, dia aman sama seperti tidur dirumah di ranjang sendiri, karena bagi orang percaya tempat perlindungannya adalah ditempat ketaatan kepada Tuhan. Masih ingat bahwa mereka mengambil perahu satu-satunya? Mereka berada ditengah laut dan mereka pikir bahwa Tuhan tidak bisa datang karena tidak ada perahu lain. Ini ajaran yang sangat penting tentang kasih Tuhan yang melindungi, ketika secara manusiawi tidak ada jalan, Dia bikin jalan, badai itu malah menjadi jalan-Nya untuk menyelamatkan umat-Nya.

Ada pertunjukkan keilahian Yesus yang lain lagi, dimana kasih-Nya diperlihatkan dan kita temukan hal itu di ayat 28. Meskipun Matius, Markus dan Yohanes mencatat Yesus berjalan diatas air, hanya Matius memberitahukan kita kejadian khusus ini dengan Petrus. Ayat 28, “Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” 29 Kata Yesus: "Datanglah!”

Firman Tuhan berkali-kali ingin supaya kita menyadari bahwa Allah kita adalah Allah yang mengasihi. Dan caranya Dia menunjukkan kasih Alkitabiah adalah dengan bertemu orang dengan kebutuhannya. Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.” Mengapa? Karena kasih-Nya, Dia bertemu dengan manusia saat kebutuhannya terbesar, yaitu dosanya. Banyak orang berkomentar mengapa Petrus melakukan apa yang dia lakukan.

Hanya untuk memastikan Petrus mengatakan, “apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Petrus ingin berada bersama Yesus, sehingga dia berani keluar dari perahu dan pergi dimana Yesus berada. Apakah Anda berani mencoba berjalan diatas air? Hanya jika Anda percaya bahwa Dia memiliki kuasa untuk menopang Anda sama seperti Dia sendiri ditopang. Secara sederhana, itu tindakan kasih yang fondasinya adalah iman.

Jangan menghakimi Petrus. Petrus ketiduran pada waktu ada pertemuan doa. Namun kita semua pernah tertidur dalam pertemuan doa, paling tidak kita yang memang datang ke pertemuan doa. Petrus mencoba menghalang Kristus dari kayu salib, dan Tuhan harus berkata di Matius 16:23, “Enyahlah Iblis.” Namun kita semua pernah menghalangi tujuan Allah, benar? Petrus berdiri di sidang Yesus dan menyangkal-Nya tiga kali, dan kita semua pernah menyangkal Dia berkali-kali, yang paling sering saat kita berdiam saja, benar?

Bisa saja Anda mengritik Petrus karena kesalahannya banyak dan memang Anda benar, tetapi janganlah kita katakan bahwa dia tidak mengasihi Yesus Kristus atau dia tidak mempercayai-Nya. Yang mengisi hati Petrus adalah bahwa dia benar mengasihi Yesus Kristus dan merasa benar aman di hadirat-Nya. Dia percaya jika Tuhan sanggup berjalan atas air, maka dia yakin dia juga dapat pergi kemana Yesus berada dan aman dan selamat ditengah lingkungan yang tak terkontrol dan yang sangat ditakutinya.

Sementara itu Tuhan sedang membangun watak Petrus yang akan memimpin dan menjadi katalis di tahun-tahun pertama sejarah gereja, karena Petrus memang seperti itu di tigabelas bab pertama Kisah Para Rasul. Petrus menerima pelajaran terakhir yang besar di Injil Yohanes dan Tuhan akhirnya menerangkan komitmen Petrus dalam pelayanan, dengan caranya Tuhan menanyakan 3 kali apakah Petrus benar mengasihi Dia.

Ada sesuatu di dalam Petrus yang mengatakan, “Jika sesudah semua yang terjadi ini, dan masih belum jelas bahwa saya mengasihi Dia, mulai dari sekarang itu akan jelas bagi semua orang,” Dan itu memang terjadi. Menurut tradisi ketika dia memberi hidupnya dia minta supaya ia disalibkan terbalik, karena dia merasa tidak berhak untuk disalibkan sama seperti Tuhan-Nya. Itu menunjukkan bahwa Petrus adalah martir yang setia.

Karena itu dia sanggup memimpin rasul lain dan itulah alasannya dia selalu nama pertama di daftar para rasul setiap kali itu muncul di Alkitab. Dia juga yang terdekat dengan Yesus Kristus karena dia selalu ingin berdekatan. Lihatlah ayat 29, Yesus berkata, “Datanglah!” Tuhan tidak pernah mengundang seseorang untuk melakukan sesuatu yang berdosa atau angkuh. Ketika Dia mengatakan, “Datanglah,” itu perkataan dari ayah yang penuh kasih bagi anak-Nya yang mencari keselamatan dalam pelukan ayahnya.

Yesus tahu iman Petrus lemah, yang tidak dapat bertahan di dalam badai sama seperti perahu kecil itu. Namun Tuhan tidak pernah menolak iman yang lemah; Dia mengambilnya dan membangunnya. Dia tidak pernah menolak kasih yang lemah, Dia mengambilnya dan membangunnya, karena itulah esensi kasih ilahi – yaitu mengambil pria atau wanita dimana mereka berada dan menyertai mereka melalui badai hidup yang membesarkan kapasitas mereka untuk percaya Allah dan lebih mengasihi-Nya.

Jadi Yesus mengatakan, “Datanglah, ini adalah pelajaran yang terbesar di dalam hidupmu Petrus.” Ayat 29 mengatakan, “Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.” Itulah satu-satunya keinginannya: pergi ke Yesus. Namun ini cobaan yang sangat besar. Dia tahu Tuhan sanggup menangani badai, dia telah melhat hal itu sendiri. Dia memikir Tuhan menguasai segala sesuatu, namun saat dia keluar, cobaan itu lebih besar dari apa yang dia bayangkan.

Dia berjalan diatas air namun ombak dan angin itu sangat menakutkan. Ayat 30 mengatakan, “Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!” Dia ingin berada bersama Yesus, imannya membawa dia keluar dari perahu, namun dia tidak pernah berada di dalam badai diluar perahu.

Inilah pokoknya. Kita tidak perlu diajarkan apa yang kita sudah tahu, kita perlu diajarkan apa yang kita masih belum tahu. Bagaimana lagi orang akan diperkuat imannya kalau tidak dengan menempatkannya dalam situasi yang belum pernah dia alami, dan kemudian menunjukkan bahwa Allah setia dan berkuasa sehingga sekarang dia dapat percaya dan bergantung kepada Allah lebih-lebih lagi, benar?

Inilah dasarnya kehidupan orang Kristen: belajar untuk berfokus lebih lagi kepada Yesus dan percaya Allah lebih lagi sehingga kita dapat keluar dengan iman dan mencoba melakukan semua hal yang dengan kekuatan sendiri mustahil. Jadi Petrus takut dan mulai tenggelam. Jadi dia berteriak, “Tuhan, tolonglah aku!” Disini kita melihat Tuhan yang penuh kasih di ayat 31, “Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”

Apakah Anda tahu bahwa “iman kecil” lebih baik dari pada tanpa iman? Kita semua boleh dikatakan bersifat iman kecil dicampur dengan keraguan. Karena itu Tuhan membawa kedalam hidup kita masalah-masalah, cobaan, pergumulan dan kesakitan supaya, setelah kita mengalami hal-hal itu, kita percaya bahwa Dia memelihara kita. Iman kecil itu semakin bertumbuh. Petrus belajar bahwa Yesus sanggup memeliharanya ketika dia tidak dapat memelihara dirinya.

Matius 14:32, “Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah.” Semua angin langsung berhenti. Mereka berada ditengah lautan, badai berhenti dan di Yohanes 6:21 dikatakan mereka langsung berada ditepi pantai. Waduh! Markus 6:51 mengatakan, “Mereka sangat tercengang dan bingung.” Kemudian dikatakan bahwa mereka menyembah Dia. Jadi, mereka sadar bahwa segala kuasa hanya adalah milik Allah.

Apakah artinya pesan ini bagi Anda? Sembahlah Dia dengan seluruh hati Anda! Dia telah memperlihatkan keberdaulatan Allah, kemahatahuan Allah, kuasa pemeliharaan Allah, kasih ilahi Allah, kuasa Allah; Dia adalah Allah dalam bentuk manusia! Allah mengundang Anda untuk bertekuk lutut kepada Yesus Kristus, mereka melakukan itu dan mereka seperti tanah subur yang menghasilkan banyak buah. Bagaimana dengan Anda? Mana buahnya? Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu