18 Agt 2013 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2013
Berjalan di atas Air
18 Agustus 2013

Ini adalah salah satu mujizat yang paling penting dan paling terkenal di dalam hidup Tuhan kita, di dalam hidup murid-murid-Nya dan di dalam hidup kita juga. Untuk mengerti kejadian indah ini marilah kita melihat dulu ke Matius 14:33, “Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”

Ada sesuatu yang terjadi yang telah menyakinkan mereka akan hal itu. Dan yang terjadi begitu meyakinkan sampai hari berikutnya Petrus, yang berbicara untuk semua murid itu berkata, “Kita percaya dan yakin bahwa engkau adalah Kristus, Anak Allah yang hidup.” Itu merupakan penemuan terbesar yang Anda dapatkan, yaitu bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang hidup.

Ayat 33 itu merupakan pertama kalinya seorang manusia mengatakan hal itu. Allah Bapak mengatakan hal itu pada pembaptisan Yesus, setan-setan mengatakan hal itu di pantai timur lautan, namun murid-murid-Nya belum pernah mengatakan hal itu sebelumnya. Mereka telah menyaksikan mujizat atas mujizat, penyembuhan, pembangkitan orang mati, pengusiran setan-setan, mereka telah mendengar khotbah dan ajaran yang luar biasa dan mereka mendengarkan itu selama dua tahun lamanya.

Namun sesuatu yang sangat luar biasa pasti terjadi untuk memberikan mereka keyakinan yang begitu besar seperti tertulis di ayat 33 dan hari berikutnya di Yohanes 6:69-70. Dan itulah realitas penting sekali di Perjanjian Baru bahwa Dia sama dengan Allah. Di Perjanjian Lama hanya Allah patut disembah. Hukum Taurat mulai dengan, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” Itu adalah monoteisme agama Yahudi dimana hanya Allah yang benar harus disembah.

Namun di Perjanjian Baru, berkali-kali kita belajar bahwa Yesus Kristus juga harus disembah. Kesimpulannya adalah bahwa Yesus Kristus adalah sama dengan Allah, dan itu ditegaskan dalam pernyataan bahwa Dia adalah Anak Allah, Dia sama esensi-Nya dengan Allah. Jika kita melihat Perjanjian Baru, kita dapat melihat penyembahan Kristus tertanam dimana-mana.

Di Injil kita melihat orang majus pertama menyembah Dia di Matius 2, orang kusta menyembah Dia di Matius 8, orang non-Yahudi menyembah Dia di Yohanes 12, orang perempuan Kanaan menyembah Dia di Matius 15, orang kerasukan di kuburan menyembah Dia di Markus 5, orang buta menyembah Dia di Yohanes 9, murid-murid-Nya menyembah Dia pada kebangkitan-Nya dan sekali lagi di gunung di Matius 28 dan kemudian menyembah Dia pada pengangkatan-Nya di Lukas 24.

Di dalam surat-surat, Ibrani 1 mengatakan bahwa semua malaikat Allah menyembah Dia. Di Filipus kita mendapatkan bahwa Allah memerintah bahwa setiap mahluk di bumi dan diatas bumi dan dibawah bumi bertekuk lutut menyembah Yesus Kristus. Dan pada saat kita sampai ke buku Wahyu, kita melihat Dia disembah semua mahluk itu di dalam kemuliaan-Nya di bab 4, 5, 11 dan 19.

Jadi selama dua tahun, pelayanan-Nya semakin meningkat dan Dia telah memberitakan injil, menyembuhkan orang dan mengusir setan-setan. Kemudian di bagian terakhir Yesus diikuti murid-murid yang juga mulai memberitakan injil dan mengusir setan dan menyembuhkan orang. Kegirangan orang-orang semakin besar dan orang-orang itu menjadi yakin bahwa Yesus harus menjadi Raja mereka.

Namun pada saat itu, Yesus menyuruh murid-murid-Nya untuk pergi; Dia menyuruh orang-orang untuk pergi dan Dia naik gunung sendirian. Di dalam perahu dayung kecil mereka, selagi mereka berusaha untuk menuju ketengah laut, mereka pasti rada kecewa dan mencoba mengerti bagaimana mereka sudah berjuang selama dua tahun untuk mencapai titik ini, namun saatnya kelihatan itu akan terjadi malah Yesus mengundurkan diri.

Yesus tidak menginginkan komitmen yang dangkal, orang banyak itu hanya memikirkan soal politiknya dan memikirkan diri sendiri, yang mereka pikirkan hanya makanan gratis saja. Pagi berikutnya mereka muncul lagi untuk sarapan dan Yesus mengatakan kepada mereka, “Kalian hanya mencari Aku bukan karena kamu peduli Aku atau percaya apa yang Aku katakan, namun karena kalian ingin makanan gratis lagi.” Dan kemudian mereka pergi. Mereka seperti tanah berduri, hanya tinggal untuk mendapatkan sesuatu. Ketika Yesus memberikan mereka khotbah teologia mereka menghilang. Namun murid-murid-Nya tidak pergi.

Ketika itu, di Yohanes 6:67-69, Yesus mengatakan kepada mereka, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?" 68 Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; 69 dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.” Orang banyak pergi, namun mereka tinggal. Mereka mengatakan, “Kami yakin.” Bagaimana mereka bisa mendapatkan keyakinan teguh seperti itu? Itu oleh karena apa yang terjadi di bagian ini.

Lihatlah Matius 14:22-33, “Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid- Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. 23 Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. 24 Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. 25 Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. 26 Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut. 27 Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

“28 Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." 29 Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. 30 Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" 31 Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" 32 Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah. 33 Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”

Coba perhatikanlah ada lima aspek dari sifat ilahi yang dinyatakan dalam kejadian ini. Pertama, mereka menyembah-Nya, karena mereka tahu Dia adalah Anak Allah berdasarkan otoritas ilahi-Nya. Hal ini hanya tersirat disini, namun di ayat 22 dikatakan, “Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.” Ini menunjukkan bahwa Yesus mengontrol segala sesuatu. Dia berkuasa atas mereka yang menjadi milik-Nya dan mereka yang bukan milik-Nya.

Namun Dia juga mengontrol angin dan ombak dan lautan dan pikiran mereka dan iman mereka dan segala sesuatu yang lain yang Dia mengontrol. Yesus berotoritas atas semua orang dan segala sesuatu, dan itu terlihat jelas dalam kisah ini. Di Yohanes 5, Dia mengatakan Dia berotoritas untuk menghakimi semua orang dan otoritas itu diberikan kepada-Nya oleh Allah Bapak. Jadi Dia berotoritas atas waktu dan kekekalan, atas kehidupan dan kematian dan atas nasib.

Di Markus 1:27 orang-orang menanyakan, “Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata- kata dengan kuasa. Roh-roh jahatpun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya.” Bukan saja Dia memiliki otoritas atas kehidupan dan kematian, waktu dan kekekalan, Surga dan neraka dan nasib, namun Dia juga berotoritas atas dunia supranatural dan atas malaikat-malaikat yang jatuh.

Dia juga bisa memberikan otoritas itu kepada orang lain, menurut Lukas 9:1, kepada murid-murid-Nya, “Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit.” Kita melihat hal itu di Kisah Para Rasul 3 dengan Petrus dan Yohanes di tempat ibadah dimana mereka menyembuhkan orang lumpuh itu yang sedang minta-minta, “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” Disitu Petrus menggunakan otoritas yang diberikan kepadanya oleh Kristus.

Di Matius 28:18 Yesus pada akhirnya mengatakan, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” Apakah artinya segala kuasa? Definisinya adalah kontrol atau kuasa yang memerintah dan berdaulat. Dia berkuasa di atas segalanya. Dia berkuasa atas alam, Dia menciptakan kapan saja apa saja yang Dia inginkan; Dia memberhentikan badai kapan saja Dia ingin dan menyebabkan angin itu reda. Dia dapat berjalan di atas air. Dia berotoritas.

Kembalilah ke ayat 22. Dikatakan bahwa langsung setelah orang-orang diberi makan mereka ingin menjadikan–Nya raja, “Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang.” Tuhan tahu ini sulit bagi mereka, jadi Dia menyuruh mereka pergi dan Dia menghilangkan godaan itu. Menyadari kelemahan mereka dan kerentanan mereka terhadap rencana orang banyak itu, Dia mengatakan, “Pergilah ke sisi seberang.”

Markus memberitahukan kita bahwa mereka sedang menuju ke Betsaida, Yohanes mengatakan bahwa mereka menuju ke Kapernaum; kedua kota itu berdampingan, Betsaida adalah pinggiran kota Kapernaum. Ini hanya berarti mereka menuju ke- arah yang sama dalam perjalanan pendek di sudut kecil dari Lautan Galilea. Kemudian dikatakan, ketika ada badai, angin itu berlawanan dengan mereka.

Biasanya orang mengatakan, “Ah janganlah kita melawan angin itu, Marilah kita balik dan angin itu akan meniup kita kembali ke pantai.” Namun mereka tidak melakukan itu, ketika Tuhan mengatakan, “Pergilah ke Kapernaum,” mereka melakukan itu. Mereka berjuang sepanjang perjalanan meskipun mereka tidak maju banyak, mereka teruskan dalam ketaatan mereka kepada otoritas Kristus.

Bahkan orang banyak itu tidak dapat melawan kuasa-Nya, atay 23 mengatakan bahwa setelah Yesus menyuruh orang banyak itu pergi, Dia pergi sendirian untuk berdoa. Dia menyuruh semua orang banyak itu untuk pergi! Mereka ingin menangkap-Nya namun kuasa-Nya total terhadap mereka semua. “Mereka itu pergi kemana?” Mereka itu semua tidur, ribuan orang itu semua tidur di lereng berumput itu dan dimana saja mereka bisa tidur.

Darimana kita tahu dimana mereka itu tidur? Karena ketika mereka bangun pagi esoknya, mereka semua masih ada di tempat yang sama menurut Yohanes 6:22-65 dan mereka mengatakan, “Ini waktunya sarapan. Yesus ada dimana?” Namun Yesus tidak ada disana, Dia sudah ada di Kapernaum. Disitulah Dia mengajarkan mereka bahwa sesungguhnya jikalau mereka tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, mereka tidak mempunyai hidup. Mereka mengatakan, “Ah, tidaklah,” dan sejak itu. banyak murid meninggalkan Yesus dan Dia meluangkan waktu semakin banyak dengan murid-murid-Nya dan semakin sedikit dengan orang-orang.

Perhatikanlah di katakan di ayat 23 bahwa waktunya sudah malam. Menurut definisi Yahudi ini adalah waktu malam kedua. Malam pertama dari jam 3-6, dan malam kedua dari jam 6-9. Dia memberi mereka makan dari jam 3-6, malam pertama. Dan dalam malam kedua yaitu dari jam 6-9, itu sudah mulai gelap. Dan pada saat itu semakin gelap, Dia sendirian di gunung dan Dia berdoa. Ingatlah selalu behwa jika Yesus perlu berdoa, apalagi kita harus perlu berdoa.

Di Lukas 22:31-32, Yesus mengatakan kepada Petrus, “Simon, lihat Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, 32 tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur.” Bukankah itu sesuatu yang menghiburkan? Itulah pekerjaan Kristus sebagai Imam Besar. Sekarang juga pada saat ini, di takhta Allah Bapa, Dia berdoa bagi Anda dan saya dan Dia berdoa dengan kuasa dan otoritas Allah. Bukankah itu memberikan kita keyakinan yang besar?

Kedua, pengetahuan-Nya yang ilahi. Ayat 24, “Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa kilometer jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.” Injil Yohanes mengatakan mereka sudah 25-30 stadia jauhnya di lautan, yang adalah kira-kira 5-6 kilometer ditengah laut. Markus menambahkan bahwa mereka tertekan waktu mereka berdayung. Dan Yohanes 6:18 mengatakan bahwa anginnya kencang. Saat itu gelap dan suram, badainya keras dan yang paling buruk, Yesus tidak ada.

Terakhir kali mereka berada dalam badai seperti ini, Yesus sedang tidur di bagian belakang perahu dan mereka hanya perlu membangunkan-Nya dan Dia dapat memberhentikan badai, yang memang Dia lakukan. Namun sekarang Dia tidak ada disitu. Dan yang lebih buruk lagi, Dia tidak dapat datang karena mereka mengambil perahu satu-satunya yang ada. Yohanes mengatakan di Yohanes 6 bahwa keesokan harinya ketika orang banyak itu bangun, mereka melihat tidak ada perahu lain.

Tetapi sementara itu, waktu mereka sedang ditengah lautan mengalami semua trauma ini, Dia berada diatas bukit dan berdoa bagi mereka. Bukankah ini gambaran yang indah dari pekerjaan syafaat Imam Besar Kristus, benar? Mereka tidak tahu hal ini, namun mereka dalam keadaan aman. Selama lima atau enam jam mereka berusaha keras tanpa hasil. Namun bukankah menyenangkan untuk menyadari bahwa Yesus tahu hal itu? Dan Dia tahu keadaan Anda sekarang juga.

Ayat 25, “Waktu berjaga malam keempat datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.” Tidak istimewa, hanya dikatakan Dia berjalan diatas air, sama seperti Anda berjalan di pantai laut. Hal ini digambarkan sebagai hal biasa saja sehingga itu sangat mengagumkan. Dia tahu kemana Dia mau berjalan; Dia tahu percis dimana mereka berada. Tidak masalah keadaannya gelap sekali. Ini adalah pengetahuan ilahi-Nya – Dia tahu segala sesuatu.

Mazmur 139 mengatakan bahwa malam dan siang itu sama bagi Dia. Ini terjadi pada waktu berjaga malam yang keempat. Waktu berjaga pertama adalah dari jam 6-9 malam, waktu berjaga kedua adalah dari jam 9-12; waktu berjaga ketiga adalah dari jam 12-3; dan waktu berjaga keempat dari jam 3-6 pagi. Jadi mereka telah berusaha sepanjang malam dan mereka cemas dan ketakutan.

Dia menunggu lama sekali sebelum Dia datang, ini semua bagian dari pelajaran itu. Apakah Anda menyadari bahwa jika Anda tidak pernah mengalami badai, Anda tidak akan tahu bahwa Dia sanggup menguasai badai? Kita tidak akan pernah mengerti benar kuasa Allah bagi kita sampai kita tertekan sampai ke ekstrim. Itu bagian pelajaran itu. Mengapa Anda pikir Tuhan kita tidak langsung pergi ke Marta dan Maria sampai Lazarus sudah meninggal sampai dia bau? Karena hanya dalam ketidakmungkinan situasi ekstrim itu mereka baru mengerti betapa besar kuasa-Nya.

Yesus tahu waktu kita duduk dan waktu kita bangun – dimana kita berada dan apa kebutuhan kita. Dia mengenal kita sejak kita berada di kandungan. Jika kita naik ke surga, Dia berada disana, jika kita berada di neraka, Dia ada disitu. Jika kita berada di ujung lautan, disana tangan-Nya akan membimbing kita dan tangan kanan-Nya akan menopang kita. Tidak masalah kita ada dimanapun, karena Dia tahu segala sesuatu.

Bahkan waktu Dia berjalan diatas air, air itu akan menjadi rata dan menjadi tenang; bahkan Dia tidak akan menjadi basah. Dia menuju ke mereka. Mengapa? Karena mereka ada kebutuhan dan sudah hampir putus asa. Dia tidak dapat melihat mereka dari atas bukit, atau di dalam kegelapan di malam badai itu, namun Dia tahu percis dimana mereka berada.

Ketiga, perlindungan ilahi-Nya atau kasih ilahi-Nya. Ayat 26, “Ketika murid- murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: ‘Itu hantu!’” Dalam bahasa Yunani itu berarti penampakan. “Lalu berteriak-teriak karena takut.” Markus menambahkan bahwa mereka semua melihat Dia, jadi bukan hanya satu orang yang memikir melihat Yesus. Karena selalu ada orang liberal yang ingin memberitahu kita bahwa mereka hanya memikir melihat-Nya.

Markus menambahkan suatu hal lain yang menarik, kelihatannya bahwa Yesus sedang melewati perahu mereka. Tuhan selalu ada disitu, namun Dia ingin mendengar teriakan hati orang yang ada kebutuhan. Dia selalu berhenti bagi mereka yang memanggil, dan mereka berseru, “Itu hantu!” Matius 14:27 mengatakan, “Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Kuatkanlah hatimu. Ini Aku, jangan takut!”

“Kuatkanlah hatimu” adalah ucapan sehari-hari di Inggeris yang berarti, beranilah, kuatkan hatimu, jangan takut. Karena Allah adalah pelindung umat-Nya, itu kebenaran yang sangat besar. Badai tidak pernah begitu ekstrim sampai Dia tidak tahu dimana kita berada, atau Dia tidak dapat berjalan diatas air. Dia akan melindungi umat-Nya dan Dia tidak pernah terlambat.

Ini terjadi bukan untuk mengajarkan murid-murid itu untuk berjalan diatas air, tidak ada orang yang pernah sanggup melakukan itu, Setelah kejadian ini, tidak ada orang di Alkitab yang pernah berjalan diatas air. Ini untuk mengajarkan orang yang terbatas kemampuannya bahwa Allah sanggup dan rela untuk menolong dan melakukan yang mustahil. Ini untuk mengajarkan bahwa dalam keadaan ekstrim, kita tidak usah takut karena Dia berada bersama kita, dan Dia akan merespon terhadap kebutuhan kita. Marilah kita teruskan ajaran ini minggu depan untuk melihat apa lagi yang Allah ingin mengajarkan kita. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu