28 Jul 2013 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2013
Kuasa Ketidakpercayaan
28 Juli 2013

Kita telah selesai melihat tujuh perumpamaan dari Matius 13 dan sekarang kita datang kepada bagian terakhir yaitu Matius 13:53-58, “Setelah Yesus selesai menceriterakan perumpamaan-perumpamaan itu, Iapun pergi dari situ. 54 Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: "Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu?”

“55 Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? 56 Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?" 57 Lalu mereka tersinggung oleh Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” 58 Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.”

Kita tahu kuasa iman atau kepercayaan. Bahkan, Tuhan kita mengatakan jika orang memiliki iman sebesar biji sesawi, dia dapat memindahkan gunung, dapat melakukan yang mustahil. Daud percaya Allah dan diberi kekuatan untuk membunuh Goliat. Abraham percaya Allah dan menjadi bapak bangsa besar. Orang cacat percaya Allah dan dia disembuhkan. Orang bangsawan percaya Allah dan anaknya dibangkitkan. Orang kusta percaya dan ditahirkan.

Disisi lain kita juga perlu mengerti kuasa ketidakpercayaan. Sama seperti kepercayaan menyelamatkan jiwa dan menyebabkan kuasa Allah dilepaskan sepenuhnya atas nama orang itu, demikian pula ketidakpercayaan memberhentikan berkat kuasa Allah. Ayat 58 mengatakan hal itu dengan baik, “Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.” Kuasa ketidakpercayaan memberhentikan Allah dalam menunjukkan kemampuan-Nya.

Jadi marilah kita membaca ayat 53, “Iapun pergi dari situ.” Disitu artinya Kapernaum. Masih ingat di Matius 11:23-24 Yesus mengatakan, “Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. 24 Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu."

Yesus telah mengucapkan kutukan di Kapernaum, dan ketika dikatakan di akhir ayat 53, “Iapun pergi dari situ,” sejarah Kapernaum berakhir dan penghakiman Allah mulai. Ini menandai krisis sejarah kota itu yang tidak dapat kembali ke keadaan semula. Jika Anda pergi sekarang ke Kapernaum tidak ada orang yang tinggal disana, seluruhnya hancur. Kota itu telah merasakan kutukan Yesus Kristus karena ketidakpercayaan mereka.

Yesus kembali ke Nazaret di ayat 54, “Setibanya di tempat asal-Nya.” Jaraknya dari Kapernaum tidak jauh berjalan kaki. Dikatakan bahwa Dia pergi ke rumah ibadat dan mengajar mereka. Ini bukan pertama kalinya Dia melakukan itu. Pada permulaan pelayanan-Nya di Galilea, Dia pergi ke kampung halaman-Nya sendiri. Dan seperti kebiasaan-Nya ia masuk ke rumah ibadat pada hari Sabat.

Marilah kita melihat apa yang terjadi setahun sebelumnya di Lukas 4:16-30, “Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.17 Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis:

“18 "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku 19 untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Ini teks yang sangat penting yang menggambarkan pelayanan Mesias dengan sangat teliti, pelayanan Yesus Kristus. Dia mengatakan, “Mesias sekarang berada ditengah saudara sekalian, ini telah digenapkan.” Ini klaim yang sangat besar, ini hari terbesar diatas semua hari lain di dalam sejarah Israel, ini hari dimana janji telah digenapkan!

“20 Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. 21 Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya." 22 Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: "Bukankah Ia ini anak Yusuf?”

“23 Maka berkatalah Ia kepada mereka: "Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!" 24 Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. 25 Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. 26 Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.”

“27 Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu." 28 Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. 29 Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. 30 Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.”

Jadi Yesus meninggalkan Nazaret dan Dia pindah ke Kapernaum. Satu tahun kemudian, dan kita sekarang kembali ke Matius 13. Keinginan-Nya adalah untuk kembali dan memberikan mereka kesempatan kedua, bagi Nazaret, kota yang bangga dan berprasangka dan berpikiran sempit itu. Dia kembali dengan keberanian dan anugerah dan penuh kasih kepada orang-orang yang sama itu yang dulu berusaha untuk membunuh-Nya.

Matius 13:54 mengatakan, “Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka.” Dia langsung kembali ke dalam pusat badai itu, langsung kembali ke rumah ibadat yang dulu dan mengajar mereka. Orang- orang semua duduk di tempat duduk mereka yang sama. Di Matius 7:28-29 dikatakan bahwa takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, 29 sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. Pertama, ini berarti berbicara dengan keyakinan. Marilah kita sebentar melihat bagaimana caranya Yesus berbicara.

Cara kedua Dia mengajar adalah dengan pengetahuan mahatahu karena Dia adalah Allah. Ketiga, selalu ada kasih karunia dalam caranya Dia berbicara dengan kehangatan, lemah lembut, kasih dan sensitivitas. Keempat, berbicara- Nya sangat kuat. Di Lukas 4:32 dikatakan, “Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa.” Kuasa itu berarti ada efek besar pada para pendengar.

Ciri kelima dari pembicaraan-Nya adalah di Yohanes 7:46, dimana mereka mengatakan, “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” Pidato-Nya unik, Dia mengatakan apa yang tidak pernah dikatakan orang lain. Dia tidak membicarakan yang sudah jelas, namun apa yang belum jelas dan Dia terutama membicarakan tujuan di dalam hati. Dia menembus tradisi untuk membicarakan hal-hal yang mereka belum pernah mendengar.

Jadi apakah respon mereka terhadap Seseorang yang berotoritas, yang tahu segalanya, yang murah hati, yang berkuasa dan unik, mereka kagum sekali. Mereka terpesona oleh-Nya, terkejut dan heran. Namun lihatlah apa yang ada didalam hati mereka di ayat 58, “Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.

Bisa saja Anda heran, dan kagum dan terpesona akan Yesus, namun itu sama sekali tidak berarti jika hati Anda dipenuhi ketidakpercayaan. Bagaimana ini dapat di jelaskan? Bagaimana orang dapat dipenuhi ketidakpercayaan setelah mendengar semua ini? Karena ketidakpercayaan itu adalah pilihan, itu tidakan kehendak Anda, ini sesuatu yang Anda menentukan. Marilah kita melihat lebih lanjut kepada kuasa ketidakpercayaan.

Pertama, ketidakpercayaan mengaburkan yang jelas. Lihatlah ayat 54, Dia mengajar dan mereka terpesona, namun lihatlah pertanyaan mereka, "Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu?” Itu pertanyaan yang bodoh. Dari mana lagi datangnya mujizat supranatural? Dari mana lagi datangnya hikmat ilahi?

Komentator liberal tentang Firman Allah atau orang-orang teologia liberal setiap kali melakukan hal yang sama juga. Mereka menyangkal kebenaran dan mereka mulai menyusun suatu skema mustahil untuk menghilangkan segalanya yang supranatural dan kemudian mereka melihat pekerjaan mereka dan mengatakan wah ini bagus sekali dan mereka memuji kepintaran mereka sendiri.

Salah satu apologetika terbesar atau pertahanan keilahian Kristus adalah kenyataan bahwa bukan teman-teman-Nya atau murid-murid-Nya atau gereja Kristen yang menegaskan Dia melakukan mujizat-mujizat itu, yang menegaskan itu adalah musuh-musuh-Nya. Berkali-kali di Alkitab, musuh-musuh-Nya tidak pernah menyangkal mujizat-mujizat-Nya. Mujizat-mujizat-Nya berribu-ribu, sebegitu banyak sampai tertulis di Yohanes 21:25, “Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.”

Yesus secara praktis menghilangkan penyakit dari Palestina, mengajarkan secara mendalam setiap subyek yang dapat dibayangkan berhubungan dengan kehidupan, kematian, waktu, kekekalan, Allah, manusia, surga dan neraka. Yohanes 5:36 mengatakan, “Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting dari pada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku.” Setiap orang seharusnya dapat melihat hubungan diantara kenyataan supranatural ini dan Allah.

Setiap orang Yahudi tahu bahwa hikmat datang dari Allah, dan ketakutan akan Tuhan adalah permulaan hikmat, namun tetap mereka mengatakan, “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu?” Apakah mereka memikir Dia telah belajar kursus tinggi di Sekolah tinggi Pelatihan Rabi? Tentu tidak. Mereka tahu itu datang dari Allah. Jadi dari mana Dia mendapatkan kuasa melakukan mujizat luar biasa itu – menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, memberi penglihatan kepada orang buta, pendengaran kepada orang tuli dan menyembuhkan orang cacat? Pertanyaan itu adalah kebodohan orang yang tidak percaya. Bagi mereka yang terus menerus menuntut lebih banyak lagi jenis bukti seperti itu, itu menunjukkan mereka cinta kejahatan.

Kedua, ketidakpercayaan juga mementingkan hal tidak relevan. Ketika Anda memberi kesaksian kepada seseorang yang menolak dan tidak percaya, pasti mereka akan melekatkan diri kepada sesuatu yang sama sekali tidak relevan dan memusatkan kepada hal itu untuk mengalihkan Anda dari hal yang dipentingkan. Mungkin Anda telah membawa orang ke gereja dan Anda menjelaskan Kristus kepada mereka. Anda menerima komentar seperti ini, “Ah, mereka tidak ramah. Saya tidak suka tempat dudukku; orang didepan aku selalu menggoyangkan kepalanya, pendeta itu bicaranya terlalu keras , atau terlalu lama. Saya tidak senang musik itu.”

Orang Yahudi benar-benar terkejut ada orang dari kota mereka yang dapat naik sampai kekuasaan seperti itu. Mereka tidak mau menerima bahwa Yesus dari komunitas mereka bisa menjadi lebih tinggi dari pada mereka sendiri, itu semua masalah kebanggaan, masalah iri hati, masalah kepicikan. Itu semua terikat kepada hati mereka yang tidak percaya, sehingga mereka bikin-bikin semua hal- hal yang sama sekali tidak relevan.

Matius 13:55-56, “Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? 56 Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” Apakah hubungannya dengan kebenaran yang Dia ucapkan? Yakobus juga pada mulanya tidak percaya namun kemudian menjadi kepala gereja Yerusalem dan memimpin penatua-penatua Yerusalem di Kisah Para Rasul 15.

Di Yohanes 7:15 mereka memakai sikap yang sama lagi, kali ini di Yerusalem. Dia masuk ke dalam tempat ibadah dan mengajar, sama seperti Dia lakukan di Nazaret. Kemudian ada reaksi yang sama, orang-orang Yahudi takjub. Namun inilah reaksi mereka, “Bagaimanakah orang ini mempunyai pengetahuan demikian tanpa belajar?” Mereka mengatakan bahwa orang ini tidak mungkin istimewa karena Dia tidak memiliki gelar. Mereka mengabaikan kata-kata-Nya dan karya-Nya karena Dia tidak memiliki pendidikan manusia.

Dan ketiga, ketidakpercayaan membutakan Anda kepada kebenaran. Di ayat 57 dikatakan bahwa mereka tersinggung oleh Dia. “Tidak mungkin Dia adalah Mesias.” Pasti Yesus membicarakan keberdosaan mereka dan keperluan untuk bertobat dan seluruh hal itu menyebabkan mereka tersinggung sekali.

Paulus mengatakan di 1 Korintus 2:14, “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah.” Kemudian waktu dia membicarakan mengapa Allah menyingkirkan Israel, dia mengatakan di Roma 11:20, “Mereka dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka.” Mereka menolak untuk percaya bukan karena tidak ada fakta-fakta, namun karena mereka menolak untuk berurusan dengan dosa-dosa mereka.

Hanya mereka yang percaya akan mengerti hal ini, Di Yohanes 8:31-32, Tuhan mengatakan, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Hanya bagi mereka yang menunjukkan keinginan untuk mengerti, hati itu harus terbuka. Masih ingat kisah Lidia di Kisah 16:14 dimana dikatakan, “Tuhan membuka hatinya sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus,” itulah yang perlu terjadi.

Tuhan menjawab dengan suatu pernyataan yang Dia pakai berkali-kali di ayat 57, “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” Itu suatu pepatah. Mereka berkata, “Tak seorangpun dari kota kita bisa menjadi ahli. Ini hanya Dia, bukan orang istimewa.” Namun Dia berkata, “Kalian telah memenuhi pepatah, kalian telah menolak Aku.”

Di Yohanes 7:5 dikatakan, “Sebab saudara-saudara-Nya sendiripun tidak percaya kepada-Nya.” Ini menunjukkan bahwa manusia biasanya selalu iri hati, bahkan di dalam keluarga-Nya sendiripun. Jadi tidak ada yang menghormati-Nya di dalam kota-Nya sendiri, Dia tidak dianggap. Dan tidak ada hormat di dalam rumah-Nya sendiri, Dia hanya saudara yang lebih tua. Jadi apakah yang terjadi sesudah ini?

Keempat, ketidakpercayaan menghalang hal supranatural. Akibatnya ayat 58 mengatakan, “Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.” Ada waktunya Yesus bertindak sesuai dengan adanya iman, dan ada waktu Dia bertindak tanpa ada yang beriman. Jadi kepercayaan itu tidak diperlukan untuk mujizat-mujizat di Injil, namun ketidakpercayaan yang keras dan terus terang selalu akan memberhentikan mujizat.

Perhatikanlah Lukas 17:14 dimana ada sepuluh orang kusta yang bertemu dengan Yesus, dan Yesus mengatakan, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam," supaya mereka diperiksa sembuh atau tidak. Saatnya mereka menaati Yesus mereka disembuhkan secara fisik. Pemeriksaan itu dilakukan supaya mereka diizinkan kembali masuk ke dalam masyarakat, karena orang kusta itu orang buangan. Yesus menyembuhkan sepuluh orang, namun hanya satu yang kembali untuk memuliakan Allah dan Yesus bertanya, “Dimanakah yang sembilan orang itu?” Kemudian Dia berkata di ayat 19, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”

Maksud Yesus bukanlah orang itu ditahirkan dari kusta, itu sudah terjadi dan yang sembilan semua sudah sembuh. Maksud-Nya, “Aku menyembuhkan mereka secara fisik karena itu adalah pilihan berdaulat Aku. Ketidakpercayaan mereka memberhentikan mujizat pada saat itu. Anda kembali dan menerima bukan saja penyembuhan jasmani namun imannya telah menyelamatkannya. Keselamatan berhubungan dengan hal fisik dan juga hal spiritual, dan hanya dia saja yang menerima keselamatan jiwanya. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu