16 Jun 2013 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2013
Hormatilah Bapamu
16 Juni 2013

Nah kita semua tahu bahwa keluarga sekarang sangat diserang. Gereja Yesus Kristus, yaitu mereka yang berkomitmen kepada Kristus dan Firman Allah, harus memimpin negara dan memimpin dunia ini dalam mempertahankan pernikahan dan kemampuan beranak sebagai berkat terbesar dari Allah dalam semua kehidupan manusia.

Dalam bahasa akrab dari Mazmur 127:1-2, kita membaca penghormatan kepada keluarga, “Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan Tuhan yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga- jaga. 2 Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah--sebab Ia memberikan kepada yang dicintai-Nya, bahkan tidur-Nya.”

Dalam setiap keadaan, kita harus percaya kuasa pemeliharaan Allah yang berdaulat. Dan kemudian Dia menggunakan keluarga sebagai ilustrasi. Mazmur 127:3-5, “Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada Tuhan, dan buah kandungan adalah suatu upah. 4 Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. 5 Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang.”

Anak-anak adalah berkat dari Tuhan. Anak-anak Anda adalah pemberian dari Tuhan, di satu sisi mereka dipinjamkan. Mereka dipinjamkan supaya mereka dibimbing kepada pengetahuan akan Kristus, melalui Injil supaya kebenaran dapat dibagikan kepada angkatan berikutnya. Jadi memang benar Alkitab mengatakan tidak baik untuk tinggal sendirian. Dan Firman Tuhan juga mengatakan bahwa membesarkan anak itu adalah berkat dari Tuhan.

Nah kita sudah tahu bahwa anak-anak memiliki peran dominan dalam budaya kita, yang tidaklah baik. Dulu kita memiliki masyarakat patriarkis, dimana bapaklah yang memerintah. Sekarang dimana tidak ada orang dirumah, karena bapak dan ibu keduanya bekerja, kita memiliki rumah dimana anak adalah pusatnya dan masyarakat dimana anak adalah pusatnya. Anak-anak telah dibebaskan dari rutinitas biasa, yang konstan, yang berdasarkan pemeliharaan dan otoritas orang tua, dan mereka dididik oleh rekan-rekan mereka atau media.

Ada guru sekolah yang menggambarkannya seperti ini, guru-guru takut kepala sekolah, dan kepada sekolah takut akan pengawas sekolah, dan para pengawas takut akan badan pengurus. Dan badan pengurus takut akan orang tua anak-anak, Dan orang tua takut akan anak-anak. Dan anak-anak tidak takut siapapun. Ini bencana bagi masyarakat jika anak-anak hidup menurut cara mereka sendiri.

Jadi marilah kita melihat dulu kewajiban anak-anak. Efesus 6:1-3, “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. 2 Hormatilah ayahmu dan ibumu--ini adalah perintah pertama yang disertai suatu janji: 3 supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.”

Kata anak-anak bukanlah kata untuk anak kecil. Saya selalu tetap menjadi anak orang tua saya dalam arti kata, tidak peduli umurku berapa. Ini perkataan biasa yang dipakai untuk orang-orang percaya, mereka yang telah dilahirkan Allah yang telah menjadi anak Allah pada usia apa saja. Ini termasuk semua anak-anak, namun ini bukan maksudnya anak-anak kecil karena mereka tidak dapat diperintahkan secara sederhana seperti yang dikatakan dalam ayat ini.

“Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian,” ini tidak akan dimengerti anak berusia tiga tahun. Ini mengacu kepada mereka yang sudah cukup dewasa untuk mengerti arti perintah yang datang dari Allah dengan suatu janji. Dan ini pada dasarnya adalah perintah dasar yang menyebabkan rumah tangga itu berfungsi dengan baik.

Anak-anak, taatilah orang tuamu. Inilah begitu dasar dalam peradaban sehingga perintah ini diberikan di Keluaran 20:12 di dalam Sepuluh Perintah, benar? Namun sebaliknya ada perintah di Keluaran 21:15, 17 dan di Imamat 20: 9 yang mengatakan jika anak itu tidak melakukan itu, anak yang memberontak dan tidak taat akan diberi hukuman mati.

Ini semuanya tentang memberikan anak itu kebijaksanaan, pelajaran, pengertian dan kearifan. Amsal 1:8-10, “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu; 9 sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu. 10 Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau,” dan disitu terdapat alternatifnya, dimana dari pada di didik orang tua dan menaati orang tuamu, Anda mengikuti rekan-rekan Anda dan akibatnya celaka.

Di Amsal 2:1-6, “Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu, 2 sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian, 3 ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian, 4 jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, 5 maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan Tuhan dan mendapat pengenalan akan Allah. 6 Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat.”

Di Amsal 3:1-2, Salomo mengatakan, “Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, 2 karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu.” Amsal 4:1-4, “Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, 2 karena aku memberikan ilmu yang baik kepadamu; janganlah meninggalkan petunjukku. 3 Karena ketika aku masih tinggal di rumah ayahku sebagai anak, lemah dan sebagai anak tunggal bagi ibuku, 4 aku diajari ayahku, katanya kepadaku: "Biarlah hatimu memegang perkataanku; berpeganglah pada petunjuk-petunjukku, maka engkau akan hidup.” Inilah tema-nya.

Amsal 4:10, “Hai anakku, dengarkanlah dan terimalah perkataanku, supaya tahun hidupmu menjadi banyak.” Taatilah orang tuamu dan Anda akan hidup penuh kwalitas dan kwantitas. Amsal 5:1, “Hai anakku, perhatikanlah hikmatku, arahkanlah telingamu kepada kepandaian yang kuajarkan,” Amsal 7:1, “Hai anakku, berpeganglah pada perkataanku, dan simpanlah perintahku dalam hatimu.” Amsal 8:32, “Oleh sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah aku, karena berbahagialah mereka yang memelihara jalan-jalanku.”

Inilah yang setiap bapak dan ibu harus mengajarkan anak-anak mereka, untuk mengikuti hikmat yang datang dari Allah melalui orang tua. Dan hikmat ini didukung dengan disiplin. Amsal 12:1, “Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan.” Amsal 13:1, “Anak yang bijak mendengarkan didikan ayahnya.”

Jadi ini didikan yang harus didukung dengan disiplin. Amsal 15:5, “Orang bodoh menolak didikan ayahnya, tetapi siapa mengindahkan teguran adalah bijak. 6 Di rumah orang benar ada banyak harta benda, tetapi penghasilan orang fasik membawa kerusakan.” Ada keuntungan sementara dan keuntungan ekonomi dalam mematuhi orang tua pada waktu mereka memberikan hikmat yang datang dari Allah.

Anak-anak ada kekurangan dalam 4 bidang yang ditunjukkan kepada kita di Lukas 2:52 pada waktu membicarakan Tuhan Yesus. Kita baca bahwa Tuhan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan tinggi-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia. Disini terdapat empat kategori dimana anak-anak perlu bertumbuh. Hikmat, yaitu kapasitas mental, tinggi, yaitu kapasitas fisik, makin di kasihi manusia, itu kapasitas sosial dan di kasihi Allah, yaitu kapasitas spiritual.

Kita memelihara mereka secara mental dengan apa yang mereka pelajari dan apa yang mereka pahami. Kita pelihara mereka secara fisik dengan apa yang kita memberi makan mereka dan bagaimana kita peduli akan kebutuhan fisik mereka. Kita juga ingin mereka berkembang secara sosial. Kita ingin mereka belajar rahmat sosial, bagaimana caranya bergaul dengan orang lain, Dan kita ingin supaya mereka berkembang secara rohani dengan Allah.

Nah marilah kita memperhatikan “Anak-anak taatilah orang tuamu.” Ini adalah karena itu kehendak Tuhan untuk dilakukan. Orang tua mengajar dengan menanyakan, “Apakah Anda pikir Tuhan itu senang dengan sikap Anda?” Apakah Anda memikir Tuhan itu senang jika Dia melihat perbuatan Anda?” Kita terus menerus mengingatkan mereka bahwa soal ini lebih besar dari pada orang tua saja, ini semua tentang Tuhan.

Sering kali anak-anak itu mengatakan, “Tetapi mengapa?” Dan Anda menjawab, “Karena itulah benar.” Nah, siapakah yang membuat cara benar itu? Allah yang menentukan apakah benar. Ada cara baik dan ada cara buruk, dan dunia tidak akan memberitahu anak-anakmu hal itu. Anak-anakmu mengatakan, “Tetapi semua orang melakukan itu.” Tetapi kita bukan seperti semua orang itu. Kita berbeda, kita dipisahkan untuk melakukan apa yang Tuhan ingin kita lakukan.

Ada lebih lagi dari pada ketaatan saja karena Efesus 6:2 mengatakan, “Hormatilah ayahmu dan ibumu.” Ini suatu sikap yang mendampingi perilaku. Tindakan kita adalah ketaatan, sikapnya adalah menghormati. Kepatuhan kita harus digabungkan dengan kehormatan, penghargaan, kasih dan kasih sayang terhadap orang tua.

Anak-anak tidak diciptakan khusus untuk hidup seperti ini. Kita memiliki kewajiban untuk mengajar mereka bagaimana caranya menaati dan menghormati orang tua mereka supaya mereka tahu artinya menaati dan menghormati Tuhan. Dan ini tantangan utama untuk orang tua. Mereka tidak akan belajar hal itu sendirian. Mereka perlu dibawa kepada pengenalan akan Kristus namun juga perlu diajarkan ketaatan dan penghormatan melalui disiplin.

Hormatilah ayahmu dan ibumu adalah perintah pertama yang digabungkan janji. Dan apakah janji itu? Efesus 6:3, “supaya kamu berbahagia.” Pertama, kualitas kehidupan akan datang bagi anak yang taat. Anak yang patuh akan menikmati kehidupan, karena mereka akan menerima berkat dari Allah. Itulah janji Allah. Dan juga ada janji bahwa Anda “panjang umurmu di bumi.”

Bagaimana caranya anak itu mau menaati dan menghormati orang tuanya? Marilah kita kembali ke Amsal 3:11-12, “Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan Tuhan, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. 12 Karena Tuhan memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi.” Jadi dengan mengkoreksi, itulah bagian dari mendisiplin.

Kita diberi pengertian bagaimana caranya mengkoreksi itu, Amsal 10:13, “pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi.” Di Amsal 19:18 kita baca, “Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya.” Disiplinkannya saat dia masih muda karena jika Anda tidak mendisiplinkan dia Anda mungkin akan melihatnya di perti mati saat dia sudah dewasa.

Di Amsal 22:15, “Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya.” Amsal 23:13-14, “Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. 14 Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati.”

Hukuman fisik jasmani anak sebenarnya dapat digunakan Allah untuk menyelamatkan jiwanya dari neraka! Sekarang Anda mengerti mengapa ada gerakan dari orang-orang yang non-Kristen untuk menghilangkan hukuman fisik. Iblis tidak senang orang-orang diselamatkan dari neraka.

Amsal 29:15, “Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya.” Ayat 17, “Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.” Di Amsal 28:24 dikatakan, “Siapa merampasi ayah dan ibunya dan menyangka bahwa itu bukan suatu pelanggaran, ia sendiri adalah kawan si perusak.”

Kesimpulannya, Amsal 22:6 mengatakan, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” Dan Anda ingin anak-anak Anda menjadi berkat bagi Anda, benar? Kita tidak membicarakan pelecehan anak, kita membicarakan apa yang wajar dilakukan dalam konteks kasih seperti yang kita semua mengerti. Dan kita akan melihat hal itu dalam titik kedua yaitu ketundukan orang tua.

Jika Anda melewati batas disiplin, anak-anak Anda akan marah dan mereka akan membenci Anda dan mereka akan benci Tuhan dan benci gereja dan benci Injil. Anda ingin membuat mereka menyesal bahwa mereka melanggar kasih dan perawatan Anda bagi mereka. Anda ingin supaya mereka menyesal mereka tidak menghormati Allah . Tetapi janganlah sekali-kali menyebabkan mereka marah akan Allah dan Alkitab dan gereja.

Sekarang apakah khusus peran ayah? 1 Tessalonika 2:10-12, “Kamu adalah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu, yang percaya. 11 Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, 12 dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya.” Dan dua hal datang dari ayat ini, “tanggung jawab untuk hidup sesuai dan memberi teladan, dan kewajiban untuk mengajar.

Dan Paulus mulai dengan teladan, “jadilah saleh, suci.” Ini mengacu kepada hubungan hati dengan Allah. Namun kemudian dia berkata, “secara adil,” dan itu menuju kepada perilaku yang benar, mengikuti hukum Taurat Allah. Di pihak dalam, hatiku harus benar dihadapan Allah dan dipihak luar kita harus melihat kenyataannya waktu saya berusaha untuk hidup memenuhi hukum Allah kepada sesama manusia dan kepada Allah.

Kemudian dia menambahkan, “dan tak bercacat.” Bebas dari semua yang dapat mencemarkannya, apapun yang dapat mendiskualifikasikan dia. Begitulah seharusnya keadaan di dalam ayah itu. Dan itulah karya anugerah, dan begitupun sanktifikasi, yaitu proses pembenaran. Kita hanya dapat mengatakan itu setelah berjuang bertahun-tahun. Apakah Anda dapat mengatakan bahwa Allah tahu betapa salehnya, betapa benar, betapa tanpa cacat Anda telah hidup kehidupan Anda? Itu hanya terjadi oleh anugerah, dan anak-anakmu dapat melihat hal itu.

Tahukah Anda bahwa kadang bukan apa yang dikatakan ayah itu yang mempengaruhi anak, yang penting adalah siapakah ayah itu sebenarnya, sebab kalau tidak hanya ada kemunafikan saja, benar? Dan siapakah ingin mengikuti teladan orang munafik? Dia mengatakan, “Anda menjadi saksi dan Allah juga menjadi saksi bagaimana saleh dan benar dan tanpa cacat kita berlaku terhadap anak-anakmu.”

Jadi bukan saja Anda harus hidup saleh dihadapan orang-orang yang tidak percaya. Memang itu benar, Matius 5:16, “hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Namun Anda harus hidup saleh seperti bapak dihadapan anaknya sendiri. Supaya mereka benar mengenal Anda. Itulah peran pertama bahwa ayah spiritual harus menentukan standar itu dengan teladan.

Kemudian di ayat 11, dia menambahkan bagian yang harus diajarkan, “seperti bapa terhadap anak-anaknya, kita telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu dan memberi kesaksian dan bukti kepada setiap orang. Begitulah caranya kita harus memandang kewajiban kita untuk kepemimpinan rohani sebagai ayah.

Ayah adalah pemimpin rohani keluarga. Ini adalah tindakan penyeimbangan, benar. Di satu sisi Anda harus memiliki kepedulian terhadap anak-anak dan kepedulian untuk hubungan spiritual dengan Allah. Anda perlu peduli terhadap kebaikan dan Anda perlu peduli disiplin. Anda barus bersabar dan Anda perlu tegas dan mengasihi.

Dan lihatlah di dalam keluarga dengan anak-anak, ini selalu menjadi masalah. Karena itu harus ada ibu dan harus ada bapa, karena dalam hal-hal itu harus ada keseimbangan. Anak itu harus bertumbuh dengan kasih, penerimaan, belas kasihan, kelemah-lembutan, kesabaran, kehangatan, keamanan; kemudian mereka akan menjadi dewasa dengan teladan, suatu contoh baik, ajaran yang kuat, dorongan dan pengarahan.

Dan itu tidak gampang. Namun itulah standar yang telah ditentukan Allah. Siapa yang dapat melakukan itu? Nah, Paulus menanyakan pertanyaan itu di 2 Korintus 3 ketika dia menanya, “Siapakah yang cukup kuat dalam hal-hal ini? Tidak ada manusia yang cukup kuat dalam hal-hal seperti ini. Kemudian dia mengatakan inithe children will grow, flourish and mature, “Namun kecukupan kita datang dari Allah.” Dengan anugerha Allah dan kekuatan Allah kita sanggup untuk melakukan kepemimpinan macam itu.

Apakah Anda ingat di Ibrani 13:17, dimana penulis buku Ibrani mengatakan kepada jemaat di gereja, “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya.” Ketika pemimpin-pemimpin adalah orang tua di dalam keluarga, seperti seorang bapa yang setia yang menjaga-jaga jiwa mereka, anak-anak itu akan bertumbuh dengan baik, berkembang dan menjadi dewasa. Anak-anak itu akan mejadi sukacita orang tuanya, benar?

Apakah kesukacitaan yang terbesar secara manusia? Untuk melihat pada suatu hari orang-orang di hadirat Allah. Dan itu sama bagi seorang bapa, untuk melihat anak- anaknya di hadirat Allah, itulah sukacitanya yang terbesar. Ini bukan hanya sukses gereja, itu adalah persekutuan abadi dari keluarga yang dicintai. Itulah artinya menjadi bapa. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu