26 Mei 2013 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2013
Moralitas vs Hubungan
26 Mei 2013

Marilah kita melihat sekarang Matius 12:43-50, bagian terakhir dari bab yang besar ini. Orang-orang Farisi adalah orang-orang moralis yang berkomitmen untuk hidup dengan etika, standar dan prinsip-prinsip kehidupan dan moral. Mereka hidup dengan kode moral etika yang kompleks dan menuntut. Namun dalam proses pegejaran moral mereka, mereka menolak Allah sendiri yang berada ditengah mereka dalam bentuk manusia.

Mereka membersihkan kehidupan mereka dari luar, dan mereka meyakinkan diri mereka bahwa mereka benar, bermoral dan baik. Karena itu pada saat ada orang yang datang memberitakan pesan dosa, mereka tidak mau mendengar. Yesus tidak dapat menjangkau orang-orang bermoral yang beragama dan membenarkan diri yang berada dibawah ilusi bahwa semuanya baik-baik saja. Mereka tidak mengakui ada dosa, jadi mereka tidak memerlukan Penyelamat.

Itu selalu bahayanya moralitas. Moralitas memberikan suatu ilusi keamanan padahal orang yang bermoral itu mungkin dalam keadaan bahaya yang terbesar. Kita khususnya melihat itu dengan orang Mormon yang merasa aman karena mereka bermoral, namun pada kenyataannya mereka berada dibawah penghakiman Allah dan sukar sekali untuk meyakinkan hal itu kepada mereka.

Bab 12 menyimpulkan, mulai dari ayat 43, dengan jawaban Tuhan kita terhadap penolakan akhir itu. Tujuan bagian ini sederhana sekali. Ini untuk memperingati orang-orang supaya janganlah mendengar orang Farisi dan orang bermoral, akan tetapi untuk datang kepada Yesus Kristus, dan perbedaannya besar sekali. Di satu sisi ada moralitas, disisi lain ada hubungan. Itulah kedua pokok kita harus membahas, yaitu moralitas melawan hubungan.

Moralitas, dengan sendirinya, adalah hal yang membahayakan. Kebenaran diri adalah hal yang mencelakakan. Lebih baik kita tidak bermoral dan menghadapi realitas bahwa kita memerlukan Juruselamat dari pada hidup dibawah ilusi bahwa karena kita bermoral dari luar, semuanya baik diantara Anda dan Allah di dalam diri Anda.

Marilah kita mulai dengan Matius 12:43-45, “Apabila roh jahat keluar dari manusia, iapun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatnya. 44 Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu dan rapih teratur. 45 Lalu ia pergi dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula. Demikian juga akan berlaku atas angkatan yang jahat ini.”

Di dalam perumpamaan ini Tuhan Yesus memberikan kita hasil moralitas, akibat pendekatan etika dan religius. Ayat 43, “Apabila roh jahat keluar dari manusia, iapun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatnya.” Tokoh utama adalah roh jahat, setan, malaikat jatuh yang sangat jahat, keji dan celaka.

Apakah Anda tahu bahwa ada roh-roh yang lebih jahat dari pada yang lain? Itu ditunjukkan kepada kita di ayat 45, dimana dikatakan ketika roh itu kembali, dia mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya. Ini berarti bahwa setan- setan itu bervariasi dari jahat dan terkutuk sampai ke yang paling jahat dan paling terkutuk.

Jadi di dalam orang ini ada roh setan yang jahat dan keji. Ini menunjukkan bahwa disitulah mereka ingin tinggal, ini adalah wawasan fakta bahwa mahluk- mahluk ini hidup di dalam orang. Dalam kasus ini, roh yang satu ini keluar sebentar dari orang ini. Kita tidak diberitahu bagaimana, namun kita akan melihat penjelasan terbaik saat kita meneruskan kisah ini.

Jadi roh jahat ini sudah keluar, dia meninggalkan orang ini dan iapun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari istirahat. Dikatakan disitu bahwa roh ini tidak mendapat perhentian, ia mencari penyegaran dan istirahat, namun tidak mendapatkannya. Roh tanpa tubuh ini hanya memperoleh ketenangan saat ia kembali kedalam kehidupan manusia. Ini sangat penting untuk diingatkan, karena Tuhan kita mengatakan bahwa roh-roh itu keluar masuk manusia dan tampaknya lebih senang berada didalam orang dari pada diluar mereka.

Yesus menyimpulkan di ayat 44, “Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumahku yang telah kutinggalkan itu.” Ini pernyataan yang aneh, ‘rumahku.’ Di satu sisi roh setan ini menganggap bahwa orang itu adalah rumahnya sendiri. Setan-setan bukan saja berfungsi didalam orang, namun tampaknya mereka tinggal disitu secara permanen, karena kita melihat ini di istilah ‘rumahku.’

Jadi ia kembali. Ayat 44, “Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu dan rapih teratur.” Inilah kuncinya untuk mengerti apa yang terjadi di dalam perumpamaan ini. Mengapa setan ini keluar? Roh ini roh jahat karena itulah yang tertulis. Kemungkinan besar orang itu menjalankan semacam reformasi moral. Dengan suatu cara ia merubah kelakuannya dan dia menghilangkan beberapa kebiasaan jahat.

Ada pria dan wanita yang melakukan itu. Mereka mencoba untuk berhenti berbuat jahat dan mencoba untuk merubahkan perilaku mereka. Karena itu kita melihat ada resolusi Tahun Baru dan panggilan untuk meningkatkan perilaku fisik dan moral. Bahkan ada kalanya penjahatpun mencoba untuk memberhentikan hidup kejahatan mereka dan mencoba untuk hidup baik-baik untuk sementara.

Kadang-kadang mereka merespon karena rasa takut penjara atau kematian, atau tekanan dari orang yang mereka kasihi atau sayangi. Ada kalanya mereka merespon kepada tekanan agama. Mungkin juga ini seorang individu dimana Tuhan Yesus telah mengusir setan ini daripadanya, karena Tuhan kita menyembuhkan orang yang belum tentu selamat. Masih ingat sepuluh orang kusta yang disembuhkan-Nya, hanya satu kembali dan ditebus.

Tuhan menggambarkan disini suatu pembersihan eksternal saja, suatu reformasi moral, semacam pendekatan pembersihan perilaku. Ini telah terjadi sebagai hasil pelayanan Yohanes Pembaptis. Ketika Yohanes Pembaptis datang dan berkhotbah pertobatan, mereka masih belum menerima Tuhan Yesus Kristus, mereka hanya membersihkan diri supaya siap menerima-Nya.

Mereka membersihkan rumah rohani mereka dan membenarkan kehidupan mereka menjelang kedatangan Mesias. Namun ketika Mesias datang, majoritas orang-orang tidak pernah menerima-Nya. Jadi mereka berada disitu, sudah bersih dan berdandan, namun menolak Mesias untuk masuk.

Hasilnya semua terdapat di ayat 45, “Lalu ia pergi dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula.” Orang itu tidak mengizinkan Yesus masuk untuk mengisi tempat-tempat kosong itu dan akibatnya kondisi mereka malah memburuk.

Kata kunci di akhir ayat itu adalah: kosong. Itu pembersihan luar saja, namun Kristus tidak pernah masuk kedalam. Mereka tidak mau menerima Kristus. Mereka memiliki moralitas eksternal yang dangkal, tanpa ada tempat bagi Kristus. Banyak diantara mereka telah datang kepada Yohanes Pembaptis dan bertobat dan telah dibaptis. Dan orang-orang Farisi berkhotbah injil moralitas tanpa Kristus.

Jadi rumah kosong membicarakan kekosongan spiritual yang diciptakan ketika orang-orang menjadi moral tanpa mengenal Kristus. Alasannya ini lebih bahaya daripada amoralitas adalah karena kita baca disini, dari bibir Tuhan kita sendiri, daripada hanya memiliki satu roh jahat, Anda mungkin mendapatkan delapan setan. Orang yang bermoral dan benar diri bisa menjadi korban Iblis lebih dari pada orang yang tidak bermoral.

Bagaimana ini lebih buruk daripada bermoral? Ketika seseorang membenarkan diri dan bermoral, dia kehilangan rasa takut akan kejahatan, dan dia merasa diluar aktivitas Iblis sehingga Setan itu dapat masuk dengan banyak roh jahat tanpa pengetahuan orang itu dan tanpa ada persiapan diri untuk menghadapi hal itu.

Perhatikanlah di ayat 45 dikatakan, “mereka masuk dan berdiam di situ,” yang berarti mereka menjadikan orang itu menjadi rumah mereka. Mereka masuk dan hati orang moral itu dijadikan tempat tinggal mereka. Lebih baik orang itu tidak bermoral dan dalam hatinya dia tahu dia harus bertobat dari pada hidup dengan ilusi bermoral dan didiami setan-setan.

Dengarkanlah kata-kata Yesus di Matius 23:15, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri.”

Khotbah Yesus bukan tentang moralitas; Dia memberitakan keselamatan dan pertobatan dari dosa. Allah tidak tertarik menjadikan Amerika bermoral tanpa Kristus, hasilnya hanya memberikan orang-orang perasaan keamanan palsu yang mungkin membesarkan potensi mereka untuk celaka. Lebih gampang menjangkau seseorang yang kewalahan dengan dosanya daripada menjangkau seseorang yang bangga atas kebenarannya, benar?

Moralitas itu seperti membawa babi besar keluar dari kotoran, terus dimandiin terus kukunya dicet dan ditempatkan pita dilehernya, kemudian dilepaskannya. Ya, dia langsung akan kembali ke tempat kotoran itu darimana dia baru datang karena sifatnya tidak berubah. Orang-orang yang melarikan diri dari polusi luar mungkin membesarkan kutukan mereka karena mereka kosong didalamnya.

Ini membawa kita dari kata moralitas kepada kata kedua yang sangat penting disini, yaitu kata hubungan, mulai di ayat 46. Moralitas itu bukan keselamatan dan regenerasi atau penebusan. Supaya memiliki penebusan sejati dan pemulihan harus ada hubungan yang benar. Jadi Tuhan mengakhiri ini dengan suatu undangan indah, dan itu dimungkinkan dalam keadaan itu dengan kedatangan keluarga Yesus, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya.

Matius 12:46-50, “Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu- Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. 47 Maka seorang berkata kepada-Nya: "Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau." 48 Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: "Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara- saudara-Ku?" 49 Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! 50 Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

Dikatakan di Yohanes 7:5 bahwa saudara-saudara-Nya tidak percaya bahwa Dia adalah Mesias, namun pastilah mereka mengasihi-Nya. Maria tahu dan dia mengasihi-Nya. Dan mungkin mereka dengar dari orang-orang bahwa Yesus benar-benar sudah keterlaluan sekarang. Dia sekarang memberi kutukan yang keras sekali kepada pemimpin-pemimpin itu. Di Markus 3:21-22 dikatakan bahwa teman Yesus melaporkan bahwa Dia mengalami gangguan jiwa.

Maria bersama saudara-saudara-Nya datang, mungkin atas permintaan Maria, untuk semacam misi penyelamatan untuk mencoba mengeluarkan-Nya dari situasi dimana Dia terjerumus makin mendalam. Mereka tahu bahwa Dia dituduh hal- hal yang sangat menakutkan, mereka dapat melihat bahwa kematian-Nya sudah dekat dan mereka ingin menolong, jadi mereka datang.

Ayat 47, “Maka seorang berkata kepada-Nya: "Lihatlah, ibu-Mu dan saudara- saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau." Mungkin itu bisa memalukan, seorang pria dewasa, yang sedang mengajar dan berotoritas penuh melawan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi dan mereka yang tidak percaya dengan bahasa penghakiman yang terik dan dramatis.

Namun bagi Yesus ini tidak masalah, karena seperti biasa, Dia selalu menangani setiap keadaan dan situasi dengan luar biasa. Ini bukan waktunya bagi ibu-ibu dan saudara-saudara untuk mendominasi kehidupan-Nya, meskipun mereka sayang dan mengasihi-Nya; inilah waktunya untuk berkhotbah suatu pesan yang perlu dikhotbahkan dan sekarang mereka memberikan-Nya kesempatan itu.

Di ayat 48 Yesus menjawab, "Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?” Ini bukan berarti Dia menyangkal keluarga-Nya, atau Dia tidak mengasihi mereka, karena di kayu salib, hal yang besar yang Ia lakukan dalam memelihara apa yang tertinggal di dunia adalah untuk memastikan bahwa Maria diberi kepada Yohanes supaya ia dapat memeliharanya. Jadi kita tahu Dia mengasihi mereka.

Namun Dia mengajarkan bahwa hubungan duniawi fisik bukan yang terpenting bagi Dia. Dengan kata lain, “Siapakah benar-benar menjadi saudara-Ku?
Siapakah menjadi anggota keluarga-Ku? Siapakah benar–benar ada hubungan intim dengan Aku? Siapakah yang dapat menuntut Aku mengenai tanggung jawab dan persekutuan?”

Di ayat 49 Ia menjawab pertanyaan-Nya sendiri, “Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!” Dia mengatakan, “Apakah Anda mau tahu siapakah dalam keluarga-Ku? Disini mereka. Murid-murid-Ku adalah saudara-Ku. Mereka adalah keluarga rohani Aku.” Itulah keluarga benar-benar yang berarti.

Dan ini undangan kepada Maria dan saudara-saudara-Nya juga. Maria perlu ditebus sama seperti semua orang lain. Dan karena itu ketika malaikat memberi pesan itu kepadanya, dia bersyukur kepada Allah, Juruselamatnya. Dan begitupun saudara-saudara-Nya. Ini undangan lebar bagi semua orang yang hadir. Dia mengatakan, “Hubungan dengan Aku adalah masalah spiritual. Mereka yang percaya kepada-Ku berhubungan dengan Aku.”

Jadi bagaimana orang dapat memiliki hubungan seperti itu? Bagaimana hal itu dapat terjadi? Di ayat 50 Dia mempermudah hal itu dengan pernyataan yang indah, “Sebab siapapun,” dan bukankah Anda senang kata-kata itu ada disitu? Siapapun, berarti tidak ada batasnya, “yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

Ini kebenaran besar sekali. Yesus mengatakan, “Hubungan dengan Aku bukanlah suatu hal fisik, itu hal spiritual. Pertanyaan berikutnya, “Bagaimana kita dapat memiliki hubungan seperti itu?” Dan Yesus berkata, “dengan melakukan kehendak Bapa-Ku.” Perhatikanlah Dia mengatakan, “Kehendak Bapa-Ku di Surga.” Mereka minta tanda dari Surga. Allah Bapa telah memberikan mereka tanda dari Surga, dan karena itu Dia mengatakan, “Dengan melakukan kehendak Bapa-Ku di Surga.”

Saya akan menunjukkan Anda apakah hal itu. Coba kembali ke Matius 3:17. Pada pembaptisan Tuhan Yesus Kristus, kita mendengar suara Allah Bapa, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." Jadi kehendak Allah Bapa di Surga adalah supaya orang-orang mengaku Yesus Kristus adalah Anak-Nya.

Lihatlah Matius 18:11. Ini bagian Alkitab besar yang mengekspressikan kehendak Allah Bapa, “Karena Anak Manusia datang untuk menyelamatkan yang hilang.” Yesus mengatakan, Aku telah datang untuk melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku.” Disini Dia mengatakan, “Aku telah datang untuk menyelamatkan orang.” Karena itu kehendak Dia yang mengutus Aku adalah untuk menyelamatkan orang. Jadi melakukan kehendak Allah Bapa di Surga adalah datang kepada keselmatan di dalam Kristus.

Yang penting bukan apa yang kita katakan, yang penting adalah apa yang kita lakukan; dan melakukan kehendak Bapa di Surga adalah percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan menerima hadiah keselamatan yang Dia tawarkan. Dan itu undangan dari Matius 12. Di Kisah Para Rasul 4:12, para rasul mengatakan, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”

Banyak sekali orang yang memanggil kita untuk bermoralitas, namun kita memanggil orang supaya ada hubungan dengan Yesus Kristus. Dan dari hubungan itu timbullah moralitas sejati, yang dikembangkan dan dipengaruhi dan di pertahanakan oleh Roh Kudus. Apakah Anda memiliki hubungan dengan Yesus seperti itu? Anda dapat memiliki itu sekarang juga. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu