07 Apr 2013 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2013
Tuhan atas hari Sabat
7 April 2013

Matius 12 menunjukkan kita betapa besarnya kebencian pemimpin-pemimpin Israel terhadap Tuhan kita. Bab ini berfokus kepada penolakan Mesias. Dalam banyak hal ini adalah titik balik; ketidakpercayaan Israel bertumbuh sampai mencapai klimaks dalam penolakan. Dan di bagian terakhir bab ini kita melihat penghujatan yang mengikuti penolakan mereka.

Kita melihat hal itu di Matius 5:20, ketika Tuhan mengatakan kepada orang Israel, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga,” kemudian Dia menunjukkan di bab 5-7 betapa salahnya agama mereka. Dan di Matius 9:3 mereka menuduh-Nya menghujat, di ayat 11 menuduh- Nya bergaul dengan orang-orang berdosa, dan di ayat 34 mereka menuduh-Nya kerasukan setan.

Yesus menghadapi mereka terutama tentang dosa-dosa mereka. Mereka tidak mau menanggapi nasihat-Nya tentang dosa dan keselamatan, mereka percaya bahwa usaha mereka dalam menaati hukum menyelamatkan mereka dari dosa. Pertama, ada reaksi keraguan. Kemudian mereka mengritik, dan kemudian itu menjadi ketidakpedulian. Dan sekarang ini menjadi penolakan terbuka, penghujatan dan mereka dipenuhi kebencian.

Dan saat kita mempelajari Matius 12:1-14, mereka mulai merencanakan pembunuhan-Nya. Kita dapat melihat bagaimana ini akhirnya menuju ke kayu salib di Kalvary. Ini mulai dengan suatu kejadian di ayat 1, “Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan.” Mereka menolak Kristus karena Ia melanggar hari Sabat mereka, dan itu merupakan bagi mereka tindakan keterlaluan.

Hari Sabat bagi mereka adalah contoh terbesar dari sistim keagamaan mereka. Segala sesuatu dalam sistem legalistik mereka pada akhirnya terfokus kepada hari itu saja dan ketika Yesus melanggar tradisi rabi itu pada hari Sabat, Dia menyerang inti sistem mereka.

Perkataan Sabat pada dasarnya berarti mereka berhenti melakukan apa yang biasa mereka lakukan pada hari lain. Masih ingat ketika Allah menciptakan dunia, dikatakan di Keluaran 20:10, “hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan.” Ayat 11, “Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh.” Ini satu-satunya perintah yang adalah perintah upacara.

Perintah Sabat itu unik diantara Allah dan Israel sebagai aturan seremonial, yang sembilan perintah lain adalah perintah moral mutlak. Kita tahu ini karena di Perjanjian Baru, setiap perintah lain diulangi kecuali perintah ini tentang hari Sabat. Ini tidak diulangi karena ini adalah perintah khusus, sama seperti perintah sunatan, hanya diantara Allah dan Israel.

Pada zaman Yesus hari Sabat itu adalah hukum upacara Allah. Ini bukan hukum untuk gereja, namun ini hukum bagi Israel. Jadi Tuhan menghormati hari Sabat, sama seperti murid-murid-Nya, sesuai dengan keinginan Allah dalam penghormatan itu. Namun orang Farisi telah menambahkan begitu banyak hal lain kepada hari Sabat itu sehingga artinya berubah sama sekali.

Hari Sabat itu malah menjadi hari beban bukannya hari istirahat. Kita tidak ada waktu untuk memberitakan semua hukum yang ada. Dalam Talmud terdapat 24 bab yang mendaftarkan semua hukum-hukum hari Sabat. Ada seorang rabi yang berusaha selama 2.5 tahun untuk mengerti satu bab saja. Menurut itu untuk menjelaskan semua hukum hari Sabat, itu akan makan waktu kira-kira 60 tahun.

Misalnya Anda diperbolehkan jalan-jalan hanya sejauh 3000 kaki dari rumah Anda, kalau lebih itu menjadi pekerjaan. Namun jika ada makanan disitu, itu boleh dianggap seperti rumah Anda dan Anda diperbolehkan berjalan sejauh 3000 kaki lagi. Anda tidak diizinkan untuk menanggung beban yang beratnya lebih dari satu buah ara kering, atau Anda diperbolehkan membawa sesuatu yang beratnya setengah buah ara dua kali di hari itu.

Ada daftar panjang hal-hal yang tidak boleh dimakan pada hari Sabat, dan makanan terlarang di daftar itu boleh dimakan selama itu tidak lebih besar dari sebuah zaitun. Jika Anda memasukkan setengah buah zaitun dimulut Anda, tapi ternyata itu busuk, dan Anda meludahnya keluar, Anda tidak diperbolehkan untuk makan separohnya yang lain karena mulut Anda sudah menyicipinya seolah-olah itu seluruh zaitun.

Tidak ada sesuatu yang boleh dibeli atau dijual, tidak ada sesuatu yang boleh dicuci, surat tidak boleh dikirim meskipun Anda mengirim itu dengan orang non-Yahudi. Api tidak boleh dinyalakan, dan karena itu orang Yahudi konsevatif dan Ortodoks ada tombol waktu pada sistem pencahayaan mereka sehingga lampu nyala secara otomatis pada hari Sabat. Telur itu dilarang direbus, biarpun itu diletakkan dibawah matahari di pasir yang sudah menjadi kebiasaan orang.

Anda juga dilarang mandi takutnya ada air yang tumpah di lantai dan itu mencuci lantai itu ketika air itu jatuh dari badanmu. Perempuan dilarang untuk melhat kedalam gelas, karena mungkin kelihatan rambut putih dan itu dicabut. Perhiasan tidak boleh dipakai karena beratnya lebih dari satu buah ara kering. Dan ada 24 bab dengan hal-hal seperti itu, hukum itu tidak ada habisnya membicarakan anggur, madu, susu dan meludah.

Jadi hari Sabat itu menjadi beban berat dimana orang tidak diizinkan untuk berbuat apapun. Sekarang mungkin Anda lebih mengerti apa yang Yesus mengatakan di Matius 11:28, “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi istirahat kepadamu.” Itulah hari Sabat seharusnya. Jadi Yesus datang dan Dia sama sekali tidak menghiraukan semua peraturan mereka dan itu menyebabkan para pemimpin agama itu marah sekali.

Matius 12:1, “Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum.” Disini ada masalah, karena Yesus tidak diizinkan berjalan-jalan pada hari Sabat, tidak diperbolehkan untuk berjalan lebih dari 3000 kaki. Namun Dia dan murid- murid-Nya sedang berjalan karena hukum Allah tidak melarang hal itu, meskipun hukum rabi memang melarangnya. Ladang itu dimana-mana dan gandum ditanamkan dalam baris-baris panjang.

Tuhan telah menyediakan makanan untuk para pelancong di Israel di Ulangan 23:25, “Apabila engkau melalui ladang gandum sesamamu yang belum dituai, engkau boleh memetik bulir-bulirnya dengan tanganmu, tetapi sabit tidak boleh kauayunkan kepada gandum sesamamu itu.” Dengan kata lain, Anda diizinkan untuk memetik beberapa bulir gandum dan itulah yang mereka lakukan.

Namun orang Farisi telah mengambil konsep janganlah menuai pada hari Sabat dan mereka memberi penjelasan yang lebih rinci. Anda malah tidak diizinkan untuk memetik beberapa bulir gandum dan ini menyebabkan ada peristiwa yang menimbulkan amarah mereka karena mereka melarang hal itu pada hari Sabat. Mereka mengatakan bahwa orang hanya diizinkan untuk makan di hari Sabat jika ia bisa mati kelaparan.

Mereka bahkan mengatakan bahwa di hari Sabat ketika ada orang sakit, Anda bisa menolong dia supaya janganlah ia mati namun Anda tidak diperbolehkan untuk menolong dia menjadi sembuh. Mereka juga mengatakan Anda boleh memasang perban pada seseorang namun janganlah perban yang ada obatnya. Dengan kata lain, Anda boleh menghalang orang meninggal dunia namun Anda tidak boleh menyembuhkannya pada hari Sabat. Itu memang garis halus.

Matius 12:2 mengatakan, “Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” Disini para Farisi yang sendirinya berjalan lebih dari 3000 kaki namun mereka masih memakai legalisme tanpa mengerti tujuannya. Mereka telah menguburkan hukum Allah begitu mendalam dibawah tradisi mereka sehingga itu tak tertahankan.

Ada orang yang memikirkan bahwa menjadi orang Kristen itu banyak persyaratannya, coba bandingkanlah itu dengan Yudaisme orang Farisi - kuk mereka sangat berat. Kuk Kristus, dengan semua standar yang Dia miliki, bahkan ditambah pengertian arti ketuhanan-Nya, tidak seberat ini. Jadi mereka menyalahkan Tuhan dengan tradisi mereka dan merubah maksud dan motivasi hari Sabat Allah.

Pertama Yesus mengatakan bahwa hukum hari Sabat tidak pernah dimaksudkan untuk membatasi kebutuhan. Kedua, tidak pernah dimaksudkan untuk membatasi pelayanan kepada Allah. Dan ketiga, tidak pernah dimaksudkan untuk membatasi tindakan kemurahan. Tujuan hari Sabat adalah untuk mencerminkan apa yang dicerminkan sembilan perintah lainnya: yaitu mengasihi Allah dan mengasihi sesamamu manusia.

Keempat perintah pertama dari Sepuluh Perintah membicarakan kasih kami kepada Allah melalui loyalitas, kesetiaan, hormat dan kekudusan. Keenam yang kedua membicarakan kasih kepada sesama manusia melalui hormat, kemurnian, tidak mementingkan diri, kebenaran dan kepuasan hati. Ini diringkaskan di Markus 12:30-31, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. 31 Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Roma 13:8-10 mengatakan bahwa kasih memenuhi hukum Taurat.

Lihatlah ilustrasi yang dipakai Yesus di Matius 12:3, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar?” Daud melarikan diri untuk menyelamatkan hidupnya. Di 1 Samuel 21 Saulus sedang mengejarnya. Dia tidak ada makanan dan dia bersama anak buahnya lapar sekali. Jadi mereka pergi ke Ahimelekh, imam besar itu dan mereka minta makanan. Dan mereka makan roti kudus dari meja di Bait Allah.

Setiap minggu mereka panggang 12 bongkah roti yang menggambarkan 12 suku Israel, dan setiap hari Sabat roti itu diambil dan roti baru ditempatkannya. Dan menurut Imamat 24:5-9, roti itu hanya boleh dimakan imam-imam. Roti sajian ini adalah gambaran hubungan pemeliharaan Allah dengan umat-Nya.

Tetap saja Daud makan roti sajian itu. Matius 12: 4, “Daud masuk ke dalam Rumah Allah dan mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam.” Karena Allah tidak pernah menciptakan hukum yang dimaksudkan untuk mengesampingkan kebutuhan manusia.

Bahkan Allah akan melanggar hukum upacara-Nya sendiri, bukan hukum moral- Nya, jika Ia perlu memenuhi suatu kebutuhan, karena Allah adalah kasih. Orang Farisi tidak mengerti hal itu, “Bahwa hari Sabat diciptakan bagi manusia,” supaya ia dapat istirahat dan kebutuhannya dipenuhi. Yesus berkata kepada mereka, “Jika Daud dapat melanggar hukum ilahi, begitupun Yang lebih besar dari Daud dapat melanggar tradisi rabi untuk memperlihatkan hati Allah dalam memenuhi kebutuhan.”

Yesus memberikan mereka ilustrasi kedua di ayat 5, “Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? Setiap hari Sabat semua imam bekerja; mereka menyalakan api, mereka menyembelih binatang dan mengangkat binatang itu atas mezbah, dan itu jauh lebih berat dari pada buah ara kering. Pengkhotbah dan guru-guru juga bekerja keras pada hari Minggu, namun mereka tidak melanggar Hari Tuhan.

Sekarang lihatlah ayat 6, “Aku berkata kepadamu: Di sini ada Yang lebih besar dari Bait Allah.” Yesus berkata, jika di bait Allah Daud bisa makan roti sajian itu; dan jika imam-imam dapat melanggar hukum Sabat untuk melayani Allah di bait Allah, maka Saya dapat melakukan itu juga karena Saya lebih besar dari kedua itu.”

Ayat 7, “Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.” Yesus mengatakan, kalian menyalahkan murid-murid ini yang tidak bersalah, dan kamu tidak akan melakukan itu jika Anda mengerti apakah kehendak Allah sebenarnya, yaitu hati penuh belas kasihan, bukan ritual belaka.

Orang-orang berpikir Kekristenan itu ketat dan keras. Tidak, Allah telah memberikan kita standar namun keinginan Dia bukanlah untuk menghalang kebutuhan kita, atau melayani Dia atau menunjukkan belas kasihan. Kebaikan hati dan mengorbankan diri adalah keinginan Allah. Allah ingin hati yang taat dan orang Farisi masih jauh dari itu. Mereka melayani Allah namun peraturan mereka diutamakan.

Ayat 8 mengatakan, “Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Yesus mengatakan Aku menciptakannya dan Aku akan menterjemahkannya. Dia mengatakan, Anda tidak bertanggung jawab atas hari Sabat, Aku bertanggung jawab atas hari Sabat. Dia tidak akan membiarkan ada penyimpangan dari tujuan- Nya untuk hari Sabat. Dia menulisnya, Dia akan menjelaskannya dan Dia akan memenuhinya.

Mengapa kita tidak ada hari Sabat lagi? Karena Yesus telah memenuhinya. Ibrani 4 mengatakan oleh karena Kristus, kita telah masuk istirahat. Roma 14 mengatakan: ada orang yang mau merayakan hari Sabat dan ada yang tidak. Itu tidak masalah, biarkan saja, jangan menyebabkan mereka tersinggung. Karena itu Paulus mengatakan di Kolose 2:16-17, “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; 17 semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus.”

Karena itu Yesus bangkit pada hari pertama di minggu. Para murid juga hadir bersama pada hari pertama setiap minggu (Kisah 2:1), secara teratur makan roti bersama setiap hari pertama (hari Minggu) minggu itu (Kisah 20:7), dan mereka mengumpulkan persembahan mereka ketika mereka bertemu pada hari pertama minggu itu (1 Korintus 16:1). Mengapa? Karena di hari itu mereka mengingat dan merayakan kebangkitan Kristus.

Yesus menutup dengan sebuah ilustrasi di ayat 9-13. Dia langsung masuk ke dalam rumah ibadat mereka untuk mengilustrasikan ajaran yang Dia baru berikan. Ada orang yang tangannya lumpuh, dan orang itu tidak berarti bagi mereka namun sekarang ia menjadi kesempatan untuk menangkap Yesus. Ayat 10, “Mereka bertanya kepada-Nya: "Bolehkah menyembuhkan orang pada hari Sabat?" Maksud mereka ialah supaya mereka dapat mempersalahkan Dia.”

Pertanyaan ini menunjukkan saya bahwa mereka percaya Yesus sanggup menyembuhkan orang itu, namun itu tidak mempengaruhi mereka. Bukankah luar biasa betapa butanya mereka? Alasan mereka memilih orang yang tangannya lumpuh adalah karena masalah orang itu bukan masalah mati hidup. Hukum mereka mengatakan Anda hanya diizinkan untuk mencegah orang meninggal di hari Sabat, akan tetapi dia tidak boleh disembuhkan.

Ayat 11, “Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Jika seorang dari antara kamu mempunyai seekor domba dan domba itu terjatuh ke dalam lobang pada hari Sabat, tidakkah ia akan menangkapnya dan mengeluarkannya?” Nah, ini hanya satu domba saja sehingga mereka dapat mengumpulkan cukup bahyak orang supaya bersama-sama setiap orang hanya mengangkat sedikit, cukup untuk menyelamatkan domba itu.

Dia menghadapi mereka dan berkata, “Menurut Anda bagaimana. Apakah diperbolehkan untuk berbuat baik pada hari Sabat? Jika mereka mengatakan iya, mereka tidak dapat menyalahkan Yesus. Jika mereka mengatakan tidak, pada hari Sabat tidak diizinkan untuk berbuat baik, itu menunjukkan betapa sesat ajaran mereka. Jadi mereka tidak menjawab.

Ayat 13, “Lalu kata Yesus kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka pulihlah tangannya itu, dan menjadi sehat seperti tangannya yang lain.” Bukankah itu hal baik bagi orang itu? Pengertian tulen dari hari Sabat adalah untuk menunjukkan kebaikan Allah dan untuk memberkati orang lain. Bahkan jika Anda ada kesempatan untuk berbuat baik dan ada kemampuan untuk berbuat baik dan Anda tidak berbuat baik, itu malah jahat dan itu adalah dosa.

Ayat 14, “Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia.” Mengapa? Karena Yesus baik dan mereka jahat, itulah intinya. Yesus menghubungkan hari Sabat dengan hati Allah – kebajikan, kemurahan hati dan kebaikan. Fungsi satu-satunya upacara adalah untuk menjadi ilustrasi sikap benar terhadap Allah dan terhadap sesamamu manusia.

Mengapa Anda datang ke gereja? Mengapa Anda menyembah? Apa gunanya? Apakah Anda lakukan setiap hari diluar gereja? Apakah Anda mendefinisikan kerohanian Anda dengan berbagai aturan kecil yang Anda lakukan atau tidak lakukan? Legalisme janganlah sekali-kali menghalang usaha pemenuhan kebutuhan, melayani Allah dan menunjukkan kemurahan hati karena itu melanggar kasih Allah. Saya harap kita semua mengerti apakah yang benar-benar penting dalam hidup sehari-hari ini dan tidak menjadi seperti orang Farisi buta itu. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu