13 Jan 2013 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2013
Cerdik seperti Ular
13 Januari 2013

Waktu Tuhan Yesus Kristus mengutus Keduabelas di ayat 16-23, Dia mengajar mereka bagaimana mereka harus merespon ketika mereka ditolak dunia. Mereka perlu belajar untuk mengantisipasi penolakan. Dia telah mengutus mereka dan sekarang di ayat 16 Dia mengatakan, “Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala. Jangan kira ini gampang.”

Mereka diberi kuasa ilahi dengan pengetahuan bahwa kuasa itu tak terkalahkan. Disisi lain mereka domba dan karena itu sangat rentan. Jadi dalam pelayanan selalu ada ketegangan diantara kekuatan Allah dan kelemahan manusia.

Ayat 23 berakhir dengan kedatangan Anak Manusia, jadi ini mempengaruhi sejarah semua umat Allah. Ada beberapa hal yang terkait langsung dan khusus kepada Keduabelas, dan ada yang lain yang melebihinya dan berhubungan dengan kita semua dan khususnya dengan generasi yang hidup pas sebelum kedatangan Tuhan untuk kedua kalinya.

Kita membicarakan minggu yang lalu siapakah serigala itu. Perhatikanlah ayat 17 dan 22, “Waspadalah semua manusia. Anda akan dibenci semua orang.” Memang benar kita bergumul melawan setan-setan, namun mereka menjadi nyata melalui manusia sehingga manusia menjadi alat setan dan agen setan. Jadi kita diserang sistim manusia.

Dan mereka ganas sekali karena mereka benci Kristus, bukannya mereka tidak suka kita; mereka tidak senang dengan siapa yang kita wakili. Yesus Kristus dibenci Iblis dan setan-setannya. Jadi manusia sebagai agennya akan ikut mempertunjukkan kebencian itu terhadap kami.

Dan bagaimana caranya serigala itu menyerang? Pertama, mereka menyerang melalui agama. Ayat 17 mengatakan, “Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu,” yaitu mereka akan memukul Anda dengan cambuk, yang biasanya adalah batang-batang yang diikat bersama, “di rumah ibadatnya.” Ini kata kunci di ayat 17 karena ini berarti ini adalah masalah agama.

Orang Yahudi memiliki rumah ibadat atau tempat berunding di setiap kota dan desa. Disitulah mereka menjalankan hukum khusus mereka. Jika ada seseorang yang melanggar hukum Musa atau tradisi rabbi, dia akan dibawa untuk menghadapi rumah ibadat lokal. Dan ada pengadilan dari 2 atau 3 hakim yang akan mengambil keputusan, diikuti hukuman.

Hukum Perjanjian Lama membutuhkan tidak lebih dari 40 pukulan untuk setiap korban menurut Ulangan 25:3, jadi mereka selalu menghukum tidak lebih dari 39 pukulan supaya mereka tidak melanggar hukum. Jadi sebagian dari fungsi rumah ibadat itu adalah mendisiplin. Sebenarnya orang itu dipukul di depan seluruh jemaat.

Tuhan kita mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa mereka akan ditangkap dan diserahkan ke majelis, yaitu pengadilan lokal di rumah ibadat. Pengadilan tertinggi adalah Sanhedrin di Yerusalem. Dia mengatakan kepada mereka janganlah heran jika mereka dicambuk di rumah ibadat.

Para rasul dicambuk di rumah ibadat di Kisah 5:40. Kisah 22:19 mengatakan bahwa rasul Paulus sebelum konversinya pergi dari rumah ibadat ke rumah ibadat dan menyeret orang-orang Kristen dan mereka dicambuk karena mereka menolak Yudaisme. 2 Korintus 11:24 mengatakan bahwa Paulus sendiri dicambuk lima kali, dan kemungkinan besar semua itu dilakukan di dalam rumah ibadat.

Faktanya adalah bahwa Tuhan Yesus Kristus sebenarnya dihukum mati oleh orang-orang beragama Yudaisme yang ingin membasmi Dia – imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, orang-orang Farisi dan para penatua. Dan penganiayaan Yahudi terhadap orang Kristen berlanjut sampai kehancuran Yerusalem pada tahun 70 M. Sementara Alkitab menunjukkan bahwa orang Yahudi pernah menganiaya orang Kristen, ini hanya reprensentasi dari penganiayaan agama secara umum terjadi di seluruh dunia.

Di zaman Rasul Paulus, orang Kristen sangat dianiaya orang Roma. Di kota Efesus orang-orang beribadah kepada Diana dan Artemis. Ketika Injil diberitakan disitu, in Kisah 19, mereka menyebabkan pembuat kuil-kuilan itu bankrut. Jadi ada kerusuhan dan penganiayaan mulai melawan orang Kristen.

Banyak setan-setan telah mempengaruhi orang-orang yang tidak percaya di daerah-daerah terpencil untuk membunuh banyak orang misionaris selama berabad-abad di dalam sejarah gereja. Sepanjang sejarah yang menyebabkan orang percaya benar itu mati adalah agama lokal karena Iblis mendukung semua sistim agama palsu.

Ketika penganiayaan akhir akan terjadi diwaktu Tribulasi di Wahyu 17, orang- orang kudus sejati akan dibunuh dimana-mana. Wahyu 17:5 memberi nama kepada bentuk akhir agama dunia itu sebagai, “Babel besar, ibu dari wanita- wanita pelacur dan dari kekejian bumi.”

Ini semua berasal dari Babel. Ketika Tuhan menyebarkan orang-orang dari menara Babel, mereka menyebarkan akar-akar agama palsu ke seluruh dunia. Semua agama palsu di dunia dapat ditelusuri kembali kepada sistim asli palsu yang dulu itu. Pada akhirnya mereka menjalankan lingkaran penuh, mereka mulai di Babel, mereka menyebar keseluruh dunia dan mereka kembali bersatu di Babel Setan.

Di Matius 7:15, Tuhan kita memperingati kita tentang mereka “yang menyamar seperti domba tetapi sebenarnya adalah serigala buas.” Dengan kata lain mereka datang atas nama agama. 2 Korintus 2 mengatakan bahwa Iblis menyamar dirinya sebagai malaikat terang, jadi janganlah heran jika pendeta-pendetanya juga menyamar sebagai pelayan kebenaran. Agama seperti itu menopeng dirinya seperti terhormat, namun mereka menganiaya kebenaran, sambil berusaha keras untuk menghancurkannya, bahkan membunuh jika berwenang, karena ini semua diatur Iblis yang adalah pendusta dan pembunuh.

Sumber penyerangan kedua, di ayat 18, adalah pemerintah, “Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah,” seperti Pilatus, Felix dan Festus di waktu Tuhan Yesus. Dan raja-raja seperti Agripa I dan II, Herodias Antipas dan yang lain di gambaran alkitabiah.

Dan pada saat Anda digiring dihadapan mereka untuk memberi kesaksian itu, entah itu kesaksian positif dari Injil, atau itu kesaksian mendakwa untuk menghukum mereka, janganlah heran. Kekaisaran Romawi menganiaya orang Kristen. Sebagian besar murid-murid yang mendengar instruksi Yesus dalam Matius 10 tewas di tangan pemerintah Romawi atau suatu pemerintah tambahan.

Di Rusia, begitu banyak orang Kristen dibantai sesudah revolusi. Banyak juga dibantai di Cina komunis. Di Uganda, dibawah pemerintahan Idi Amin, orang Kristen mengalami kekejaman yang mengerikan. Pemerintah-pemerintah dunia akan menganiaya Kekristenan karena Iblis adalah penguasa dunia ini. Kita sudah mengalami bahwa pemerintah US telah menolak beberapa kebebasan yang kita miliki dimasa lalu.

Penganiayaan juga datang melalui keluarga. Di ayat 21 dikatakan, “Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka.”

Karena itu di Matius 10:36-37, Dia katakan, “dan musuh orang ialah orang- orang seisi rumahnya. 37 Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” Dengan kata lain, siapakah Anda mengasihi lebih banyak, Yesus atau keluargamu sendiri.

Hanya Tuhan tahu berapa banyak orang telah dianiaya, dikhianati atau dibunuh oleh anggota keluarga mereka sendiri karena kepercayaan mereka kepada Kristus. Hanya Allah tahu berapa banyak orang di negara-negara lain sepanjang sejarah dunia telah mengkhianati keluarga mereka sendiri yang percaya kepada otoritas.

Jadi apakah harus diperbuat domba-domba? Nomor satu: jadilah bijaksana. Ayat 16 mengatakan, “sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” Di dalam tulisan kuno orang Mesir, ular itu simbol untuk kebijaksanaan. Orang-orang kuno memandang ular itu cerdik, cerdas, bijaksana dan hati-hati, menggunakan keahlian tinggi untuk menghindari bahaya.

Di Kolose 4:5 Paulus mengatakan, “Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar.” Dengan kata lain, orang Kristen harus bijaksana dalam hubungan mereka dengan serigala dunia disekitar mereka. Kebijaksanaan seperti apa? Jadilah halus, mengantisipasi, sensitif, cerdik dan hati-hati, waspada dan cerdik seperti ular.

Katakan hal yang benar pada waktu yang tepat di tempat yang tepat. Temukanlah cara yang terbaik untuk mencapai tujuan yang tertinggi. Tidak ada gunanya untuk menciptakan kekacauan di sekitar kita. Kita tahu bahwa mereka anti-Kristen, mereka tidak mau mendengar berita kami, jadi kita harus berhati-hati caranya kita mendekati mereka, gunakanlah kebijaksanaan.

Ketika orang Farisi menanyakan Yesus apakah kita harus bayar pajak, Tuhan kita bisa saja menjawab, “Kaisar adalah orang berdosa yang buruk dan jahat dan terkutuk ke neraka untuk selamanya,” Namun daripada itu Dia menjawab, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang adalah milik Kaisar dan kepada Allah apa yang adalah milik Allah.” Dia tidak mengkompromi kebenaran dan Dia sangat bijaksana.

Kedua, Dia mengatakan, “Jadilah tanpa salah seperti merpati.” Orang Kristen janganlah menyebabkan bahaya atau menyebabkan ada masalah. Janganlah kita berjalan di dunia ini selalu melawan, menggugat and menghancurkan orang, dan mengganggu, berlaku kurang ajar dan kasar. Kita harus lemah lembut dan tidak membahayakan.

Lebih dari itu, konsepnya disini adalah kemurnian dan kepolosan. Di Kidung Agung 5:2, suami berkata kepada isterinya, “Merpatiku, idam-idamanku,” ini simbol kemurnian, kekudusan dan kepolosan. Sementara kita harus bijaksana, kita juga harus bersikap murni. Tetapi waktu kita mencari metode yang lebih bijaksana dalam menangani masalah, janganlah sekali-kali kebenaran itu dikompromi. Mereka yang mewakili Kristus tidak boleh menyebabkan cedera atau memakai tipu muslihat untuk mencoba melarikan diri dari bahaya.

Di Lukas 6:27, Yesus menyimpulkan semuanya dengan mengatakan, “Kasihilah musuhmu dan berbuat baik kepada orang yang membenci kamu.” Dia mengatakan pertahankanlah kemurnian Anda dan kebijaksanaan Anda, perlihatkanlah sikap yang lemah lembut. Di 1 Korintus 9:22 Paulus mengatakan, “Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.” Berhati-hati, namun jangan sekali-kali kompromi kebenaran, supaya Anda mempertahankan kemurnian Anda. Carilah keseimbangan antara keduanya.

Di 1 Petrus 2:23 ketika Tuhan kita dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia dikutuk, Dia tidak membalas dengan mengutuk. Ketika musuh-Nya menyiksa Dia di kayu salib, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkan diri-Nya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Itulah kelemahlembutan yang diperlihatkan Yesus. Itulah teladan baik bagi kita.

Ketiga, waspadalah. Berjaga-jagalah dan jadilah perseptif. Berhati-hatilah. Janganlah memberi serigala itu kesempatan untuk menghakimi Anda atau mengiring Anda ke pengadilan mereka. Niat jahat mereka adalah untuk Anda berkompromi. Berjagalah terus menerus, Iblis menyerang saat Anda sama sekali tidak mengharapkannya.

Keempat, jangan kuatir. Ayat 19 mengatakan, “Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga.” Dengan kata lain. Pada saat Anda digiring ke pengadilan, dan mereka mengancam kehidupan Anda, janganlah kuatir, santai saja.

Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya supaya mereka janganlah kuatir karena Dia akan memelihara mereka; Dia akan memberikan mereka apa yang mereka harus katakan. Dia mengatakan, “teruskanlah pelayanan Anda, Janganlah kuatir akan apa yang akan terjadi. Jadilah bijaksana, jangan menyakiti orang, dan berjaga-jagalah. Dan jika Anda dibawa ke pengadilan, Saya akan mengurus hal itu.” Mereka tidak perlu menyiapkan pembelaan, mereka santai saja. Di Filipi 4:6 Paulus mengatakan, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga.”

Dan Yesus memberi alasan mengapa mereka tidak perlu kuatir, “karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga.” Ketika siapapun juga pada zaman apapun juga menghadap pengadilan apapun juga di dalam nama Yesus Kristus, Roh Allah akan mengingatkan Anda apa yang Anda harus katakan. Ayat 20 mengatakan, “Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.” Anda hanya merespon saja, namun Allah adalah yang berbicara.

Kelima, jadilah nyata. Ayat 22, “Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Apakah artinya ini? Ini bukan mengatakan bahwa semua orang yang dapat bertahan penganiayaan akan selamat. Ini mengatakan bahwa ketekunan adalah tandanya ada keselamatan sejati. Mereka yang benar-benar diselamatkan akan bertekun.

Tidak ada sesuatu yang lebih memurnikan gereja daripada penganiayaan. Pada dasarnya ini prinsip yang sama yang kita temukan di Roma 2:7, “hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan.” Ini sama di Ibrani 3:14, “Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula.”

Tidak ada sesuatu yang dapat menghancurkan Anda, kata Paulus di Roma 8, “35 Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? 38 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat- malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, 39 atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”

Akhirnya, bergeraklah terus. Ayat 23, “Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang.” Tidak ada gunanya bertahan terus ditindas dan dianiaya sampai akhirnya ada yang membunuh Anda.

Itulah yang dilakukan Paulus, dia berkhotbah, dan ada yang mulai kerusuhan, maka dia meninggalkan kota itu dan pergi ke kota lain. Ketika kerusuhan mulai disana, dia pergi ke kota berikutnya dan seterusnya. Dia terus menerus bergerak, dia tidak mau tinggal di satu tempat saja dan mati – hidup itu terlalu berharga, terlalu banyak kota yang perlu dijangkau dan terlalu banyak yang harus dilakukan. Kita perlu pindah terus menerus.

Jadi apakah inti perintah Tuhan kepada kita? Janganlah menimbulkan permusuhan atau penghancuran. Terlalu banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan terlalu banyak tempat yang masih harus dijangkau. Setiap orang berharga dimata Allah. Kita harus pindah ke tempat yang rela menerima kita dan terus bergerak ke tempat lain dengan pengetahuan bahwa Allah selalu menyertai kita. Dalam kuasa Roh, Dia akan menolong kami untuk mengatakan hal yang benar dan mempengaruhi orang menurut keinginan-Nya.

Seorang penyair menulis, “Yesus adalah Gembala kita, dijaga oleh tangan-Nya, meskipun serigala mencoba, tidak ada yang dapat membahayakan kita. Ketika kita menginjak Lembah Kekelaman, kelam dengan kegelapan yang menakutkan, kami tidak takut kejahatan, pemenang atau pemakaman.” Tidak peduli apa yang dilakukan Iblis, bahkan kematian, dia tidak bisa menang melawan domba-domba Allah.

Apakah Anda relah melayani Allah Mahakuasa meskipun biayanya tinggi? Inilah hal yang terpenting yang Anda dapat lakukan di dalam hidup Anda. Dan Anda tidak mungkin kalah! Allah sendiri menjamin hal itu. Amin?
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu