12 Agt 2012 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2012
Takut kepada maut
12 Agustus 2012

Kita meneruskan malam ini pelajaran kami tentang Matius 9:18-26 dimana kita melihat kuasa Yesus atas kematian. Penulis Ibrani memberitahukan kita di Ibrani 2:14-15 bahwa, “Yesus juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; 15 dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.”

Penulis itu mengatakan bahwa orang-orang seumur hidup berada dalam perhambaan oleh karena takut kematian, namun Kristus telah datang untuk membebaskan mereka dari ketakutan itu. Kematian itu adalah pikiran yang menghantui kehidupan setiap orang. Semakin lama Anda hidup, semakin dekat kedatangannya. Pengetahuan bahwa Kristus telah mengalahkan maut adalah sukacita terbesar. Untuk kebanyakan orang di dunia, mereka tidak tahu hal itu dan mereka takut kematian.

Orang-orang melakukan hal-hal yang aneh ketika mereka berpikir tentang kematian karena mereka ketakutan. Di Brazil, seorang arsitek merancang pemakaman 39 tingkat gedung pencakar langit yang muat 147,000 mayat. Gedung ini memiliki sebuah heliport, dua gereja dan 21 kapel dan tempat tidur untuk teman-teman yang berduka karena dia tidak ingin sendirian pada saat kematiannya.

Semua orang pada akhirnya akan mati. Betapa hebatnya untuk menyadari bahwa Yesus telah mengalahkan maut. Lihatlah Yohanes 5 untuk memusatkan pikiran kita kepada hal itu. Ayat 21, “Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang- orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya.” Ayat 24, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.”

Di Yohanes 11:25-26, “Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, 26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama- lamanya.” Dia mengatakan, “Bapa berkuasa atas kematian, dan Dia telah memberi Aku kuasa atas kematian.” Dia juga mengatakan, “Karena Aku hidup, Anda akan hidup juga.”

Marilah kita kembali kepada kisah di Matius 9:18, “datanglah seorang pemimpin,” dan Injil lain mengatakan dia adalah pemimpin rumah ibadat. Pertama kali dia datang anak perempuannya hampir mati, namun pada saat Matius menceritakan hal ini, anak perempuan itu sudah meninggal dan orang ini putus asa. Dan dia datang karena kebutuhannya sangat besar, akan tetapi imannya juga besar sekali.

Dan lihatlah di pertengahan ayat 18, “dia menyembah Yesus.” Menyembah bisa saja palsu atau mementingkan diri, namun itu juga bisa tulen dan sungguh- sungguh; dan saya percaya waktu dia datang dia tulus hati. Imannya besar sekali dan Yesus merespon kepada iman sejati. Ayat 19, “Lalu Yesuspun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya,” dan Injil lain menambahkan semua orang juga mengikuti mereka.

Jadi Dia dikerumuni banyak orang waktu Dia berjalan di jalan-jalan kecil menuju kerumah orang ini. Yesus bisa dihubungi dan Dia selalu sedia. Dia menjauhkan diri dari massa untuk mengikuti orang yang kebutuhannya besar.

Namun Yesus tetap merespon kepada wanita yang putus asa ini. Ayat 20, “Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah- Nya.” Dia memiliki masalah perdarahan yang unik yang menyebabkan menurut hukum semua yang disentuhnya menjadi najis. Dia dikeluarkan dari rumah ibadat, dari keluarganya sendiri, dari hubungan perkawinan dan telah terisolasi selama 12 tahun sebagai orang najis.

Namun dia terus menerus mengatakan dalam hatinya, di ayat 21, “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Orang ini kuasa-Nya begitu besar, asal aku dapat menjamah jubah-Nya. Ayat 22, “Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.”

Allah tidak pernah mencari superstar atau orang-orang terkenal. Dia selalu memakai orang-orang sederhana seperti Anda dan saya. Nabi Yesaya menubuatkan ketika Mesias datang Dia akan berkhotbah Injil kepada orang miskin. Dan Paulus mengatakan di 1 Korintus 1:26, “Ingat saja, saudara- saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.”

Coba lihatlah murid-murid Tuhan Yesus. Kedua murid yang mengabarkan Injil terbanyak setelah Yesus naik ke surga, Yohanes dan Petrus, juga adalah kedua murid yang paling banyak ditegur. Dan Rasul Paulus, yang menulis lebih banyak buku daripada semua penulis Alkitab lain, dipilih waktu dia sedang mengejar orang Kristen untuk dianiaya. Namun Yesus tetap mempercayakan semua ajaran tentang kasih dan kesatuan dan persekutuan kepada kelompok ini.

Jadi Yesus Kristus memberhentikan semua untuk melayani wanita yang dibuang ini, dan bagaimana Dia memanggilnya? “Anak-Ku”, bukankah ini intim, pribadi dan lemah lembut. Setelah itu Dia mengatakan, “imanmu telah menyelamatkan engkau.” Nah, kita telah menyaksikan bahwa dia telah sembuh secara fisik. Keselamatan rohani dari Yesus ditambahkan kepadanya.

Lihatlah contoh lain seperti itu mulai dengan ayat 44 Lukas 7, “Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. 45 Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. 46 Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. 47 Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih." 48 Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni."

Wanita ini memperlihatkan begitu banyak kasih, ibadah dan hormat bagi Kristus dan Dia melihat di hatinya iman yang menyelamatkan, dan Dia mengampuni dosa-dosanya. Mari kita teruskan, “49Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: "Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?" 50 Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!"

Lihatlah, Yesus mengasihi orang-orang. Di dunia ini hanya orang kaya dan terkenal akan dibicarakan di surat kabar. Tidak demikian dengan Yesus. Jika Anda belajar dari kejadian ini, Anda akan belajar bukan saja betapa besar kuasa-Nya, namun juga betapa besar kepedulian-Nya terhadap orang biasa dan Dia sama sekali tidak pandang bulu. Demikian juga Allah. Dan seharusnya kita yang mewakili Dia juga harus bertindak demikian, iya Anda dan saya.

Sekarang saya ingin menunjukkan kuasa Yesus. Inilah yang membedakan Dia dari semua yang lain. Kejadian dengan wanita yang ada perdarahan makan waktu begitu lama sehingga sekarang anak itu sudah meninggal. Matius 9:23-24, “Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, 24 berkatalah Ia: "Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur." Tetapi mereka menertawakan Dia.”

Apakah artinya keributan ini? Pernahkah Anda pergi ke rumah duka disini? Semua orang berbisik-bisik, berpakaian jas hitam dan tidak ada suara. Kebudayaan kita adalah semuanya sangat sepi. Di dalam budaya orang Yahudi, semua orang benar berisik. Pada dasarnya ada tiga hal yang terjadi di pemakaman Yahudi.

Pertama ada pelayat professional, yang berteriak dan meratap dan lain-lain. Mereka biasanya dibayar dan mereka telah mempelajari sejarah seluruh keluarga supaya mereka bisa menyebut nama-nama mereka yang telah meninggal dari keluarga itu, dan mereka membawa kembali duka yang sudah lama terkubur.

Selain dari itu Anda harus merobek pakaian Anda. Itu merupakan simbol kesedihan Anda, dan mereka ada 39 peraturan yang berbeda tentang caranya merobek pakaian itu. Menurut Talmud, itu harus dilakukan sambil berdiri. Dan robeknya harus cukup besar untuk kepalan tangan itu masuk dan sebagainya.

Yang ketiga yang diperlukan, seperti terlihat di ayat 23, adalah pemain musik. Mereka memiliki bermacam-macam seruling. Talmud mengatakan, “suami harus mengubur isterinya yang sudah meninggal sambil meratap berduka sesuai dengan adat, bahkan yang termiskin dari orang Israel tidak diizinkan kurang dari dua seruling dan satu wanita ratapan.”

Yesus melihat dan mendengar orang-orang dan pemain musik membuat suara ribut ini dan Dia mengatakan kepada mereka, “Pergilah, perempuan ini tidak mati, Dia sedang tidur.” Apa maksudnya Yesus? Tentu saja Dia tahu perempuan itu sudah meninggal; namun yang Dia katakan adalah, “Anda harus menganggap dia tidur karena itu sementara saja.” Dan implikasinya adalah, “Karena Aku akan membangkitkannya dari kematian.”

Ketahuan langsung mereka itu wanita ratapan professional, benar? Darimana? Ketika ratapan mereka dapat lansung menjadi tertawaan. Mereka bisa menangis untuk perempuan itu, dan mereka dapat menertawakan Yesus dalam sekejap, dan dengan cara itu mereka mencemoohkan Dia di depan muka. Malah kata kerja Yunani itu berarti mereka tertawa mengejek seperti atasan yang menertawakan orang bodoh.

Meskipun mereka telah melihat mujizat-mujizat lain, orang-orang di Kapernaum masih belum percaya. Mereka seperti yang dikatakan Yesus, “Jika mereka tidak percaya Musa dan para nabi, mereka juga tidak akan percaya Yang telah dibangkitkan dari antara orang mati.” Namun biarpun demikian di ayat 24, “berkatalah Ia: “Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur." Tetapi mereka menertawakan Dia.”

Ayat 25, “Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu.” Lukas 8:54-56 mengatakan, “Lalu Yesus memegang tangan anak itu dan berseru, kata-Nya: "Hai anak bangunlah!" 55 Maka kembalilah roh anak itu dan seketika itu juga ia bangkit berdiri. Lalu Yesus menyuruh mereka memberi anak itu makan. 56 Dan takjublah orang tua anak itu, tetapi Yesus melarang mereka memberitahukan kepada siapapun juga apa yang terjadi itu.”

Coba perhatikanlah apa yang dikatakan di permulaan Lukas 8:55, “Maka kembalilah roh anak itu.” Ini berarti dia memang mati namun dia dihidupkan kembali dan dia langsung bangun. Tahukah Anda, Yesus tidak perlu menyentuh anak perempuan itu. Bisa saja Dia mengatakan sesuatu, namun ini memperlihatkan sifat Allah. Inilah sifat Allah untuk menjadi lemah lembut dan mengasihi. Dan inilah seharusnya cara umat Allah harus bertindak, lemah lembut dan mengasihi sebagai perluasan karakter-Nya.

Tahukah apa yang dikatakan Injil tentang Dia? “Dia berkuasa atas penyakit. Dia berkuasa atas setan-setan. Dia berkuasa atas kematian. Dia bisa menebus dosa kita. Jadi dengan demikian Matius mencapai puncaknya dengan presentasinya kuasa Yesus Kristus. Yohanes mengatakan di Wahyu 1:18, “Yesus memegang kunci maut dan kerajaan maut.”

Yesus mengatakan di Yohanes 5:24, “Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” Orang yang percaya Yesus telah pindah dari kematian kepada kehidupan. Mereka sekarang telah memiliki hidup kekal. Hidup kekal karena definisinya tidak dapat berakhir. Orang percaya tidak akan melihat kematian dan tidak akan merasakan kematian.

Tubuh kita mati dan kelihatannya seperti tertidur. Yesus menamakan kematian anak itu tertidur, karena semua orang akan meninggalkan tubuh duniawi mereka sampai saat bunyi nafiri terakhir. 1 Korintus 15:52 mengatakan, “dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah.” Jadi ketika tubuh kita mati, kita sendiri tidak akan mati. Orang percaya telah pindah dari kematian sampai ke hidup kekal dan orang- orang yang tidak percaya akan selamanya berada di neraka.

Ketika kita lahir baru, kita terima hadiah hidup rohani (Yohanes 3:6-8). Ketika kita mati dalam pelanggaran kita, Allah telah menghidupkan kita kembali (Efesus 2:4-5). Hidup baru ini adalah kehidupan kekal. Di dalam hidup rohani ini, kita dapat bersekutu dengan Allah, mengenal Allah, mengalami Allah, berbicara dengan Allah dan mendengar Allah melalui firman-Nya. Ini adalah karya Roh Kudus.

Persekutuan yang kita nikmati dengan Allah tidak akan berakhir. Itu untuk selama-lamanya. Ketika tubuh kita mati, hubungan itu dengan Allah melalui Kristus tidak akan putus. Bahkan persekutuan kita pada saat itu malah disempurnakan (Ibrani 12:23). Kehidupan yang kita miliki bersama Kristus sekarang, karena kelahiran baru itu, tidak pernah akan berakhir.

Para musuh Yesus mengejek Dia karena janji kehidupan kekal pada waktu itu dan sekarang juga. Marilah kita melihat apa yang Yesus katakan mengenai diri-Nya di Yohanes 8:52-59. Mereka mengatakan, “Sekarang kami tahu, bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. 53 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabipun telah mati; dengan siapakah Engkau samakan diri-Mu?”

54 Jawab Yesus: "Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikitpun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami, 55 padahal kamu tidak mengenal Dia, tetapi Aku mengenal Dia. Dan jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, maka Aku adalah pendusta, sama seperti kamu, tetapi Aku mengenal Dia dan Aku menuruti firman-Nya. 56 Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita."

Abraham melihat hari saya? Dia melihat waktunya saya hidup dan memerintah, dan saat Aku dimuliakan. Dia bersuka cita. Banyak orang mencoba mencari saat ini dijanjikan atau terjadi di dalam kehidupan Abraham. Kita tidak tahu. Dan Yesus tidak berhenti untuk menjelaskan hal ini, karena musuh-musuh-Nya juga tidak peduli. Mereka mengerti implikasinya dan mereka mendorong lebih lanjut. Menurut Anda siapakah Anda?

57 Maka kata orang-orang Yahudi itu kepada-Nya: "Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?" 58 Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada."59 Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah.

Disinilah terlihat, klaim yang paling jelas dan terus terang di dalam Injil bahwa Yesus adalah Yahweh, Allah Israel, “Aku adalah Aku” yang besar dari Keluaran 3:14 dan para nabi. Jika Dia hanya ingin mengklaim bahwa Dia sudah berada sebelumnya, Dia dapat mengatakan, “Sebelum Abraham Aku sudah ada.” Namun Dia ingin menyatakan sesuatu yang lebih dari hanya keberadaan sejak semula. Dia mengatakan, “Sebelum Abraham, Akulah Aku.” Allah mengatakan kepada Musa, “AKU ADALAH AKU.”Dan dia mengatakan, “berbicaralah kepada orang Israel, “AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”

Ibrani 2:14-15 menggambarkan akibatnya kematian Yesus untuk kita. Dengarkanlah sekali lagi begaimana itu tertulis, “Yesus juga menjadi sama dengan mereka (yaitu kita) dan mendapat bagian dalam keadaan mereka (Dia menjadi manusia) , supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; 15 dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.”

Tanpa kita menyadarinya, ketakutan akan mati adalah seperti tuan budak yang mengikat kita dengan tali yang tidak kelihatan, yang membatasi kita dengan cara hidup yang kecil, aman dan memetingkan diri. Yesus memiliki solusi untuk perbudakan ini dalam Yohanes 8:32, “kamu akan mengetahui kebenaran (tentang kematian), dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Dunia ini sangat memerlukan keberanian dan Kristus dari orang-orang Kristen yang tidak takut yang tahu bahwa mereka tidak akan mengalami kematian. Jadilah seperti mereka. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu