07 Agt 2011 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2011
Upah di surga
7 Agustus 2011

Malam ini kita ingin membahas lagi soal upah, maksudku upah di surga. “Upah” itu jarang dibicarakan orang Kristen dan menurut saya soal itu malah diabaikan. Jadi marilah kita mendiskusikan ini lebih mendalam. Mungkin kita dapat menemukan mengapa hal itu seperti itu.

Salah satu alasan mengapa orang Kristen segan memikirkan upah mungkin karena ada motivasi tulus untuk memberikan kemuliaan itu seluruhnya kepada Allah. Masalah terbesar mungkin karena masih ada kebingungan tentang doktrin kasih karunia. Kita sangat bersyukur ada doktrin keselamatan oleh anugerah saja, yang berarti kita selamat bukan oleh karena usaha manusia. Hanya oleh anugerah Allah kita diselamatkan.

Tetapi jika kita tidak membedakan caranya kita diselamatkan dan bagaimana Allah ingin kita hidup seterusnya setelah kejadian itu, kita akan salah mengerti kehendak Allah bagi kita. Janganlah kita bingung tentang betapa pentingnya Allah memandang pelayanan kita untuk Dia dalam kehidupan Kristen secara umum.

Karena jika itu terjadi kita tidak tahu bagaimana kita harus memandang soal upah itu. Kadang kita melihat upah itu dan kita mengatakan Iya ini bukan untuk memuliakan diri, kita bukannya menginginkan upah karena kita masih mengingat pekerjaan itu berhubungan dengan keselamatan. Dan kita begitu hati-hati karena kita memandang pekerjaan itu hanya sebagai sesuatu yang tidak mampu menyelamatkan kita.

Coba lihatlah semua lagu hymne yang begitu manis yang telah ditulis di waktu dulu dan mereka biasanya membicarakan keselamatan, kayu salib dan anugerah dan pengampunan dosa. Dan begitupun halnya dengan lagu-lagu Kristen baru sekarang. Tetapi dimanakah lagu-lagu yang membicarakan upah itu? Tida ada sama sekali.

Jadi apa yang diingat orang tentang upah adalah yang mereka ingat dari Wahyu 4:10 yang mengatakan, “maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu.” Dan kebanyakan orang Kristen mengacu upah dengan mahkota-mahkota itu dan mereka mengatakan O iya upah itu kita nanti kembalikan semua itu ke kaki Yesus.

Kedengarannya sangat berrohani, namun dasar Alkitab untuk hal itu tidak ada. Jadi karena itu banyak orang Kristen mengabaikan bagian-bagian Alkitab dimana Yesus membicarakan upah itu karena mereka merasa hal itu tidak perlu dipentingkan.

Namun Yesus sendiri membicarakan soal upah itu secara terbuka. Sebenarnya saya sendiri senang untuk membicarakan upah itu dengan Anda, karena memang ini jarang dibicarakan dan jarang diajarkan. Jika Yesus mengajarkan ini dan Paulus juga mengajarkan ini pastilah hal ini penting bagi kita sebagai orang Kristen dalam kehidupan kita sehari-hari.dengan Dia.

Bagaimana hal ini mempengaruhi kita dalam kehidupan kita sehari-hari, bagaimana hal ini memberikan kita motivasi, apakah yang kehilangan jika kita tidak memikirkan upah surgawi itu? Marilah kita mulai dengan upah di dunia ini, apakah orang terpengaruh? Tentu saja. Mengapa orang senang sekali ada kompetisi dan ada upah yang besar? Karena mereka sudah hampir dapat merasakan upah itu, karena mereka senang sekali bepergian ke Hawaii atau untuk berbelanja dengan sepuluh ribu dollar untuk membeli sesuatu.

Namun pikirkanlah sebentar tentang upah di dunia ini, berapa lama sih itu akan memuaskan Anda. Berapa lamanya seorang anak bermain dengan mainan hadiah Natalnya sebelumnya ia bosan? Berapa lamanya Anda senang dengan bau mobil baru? Barapa lamanya Anda senang waktu masuk ke dalam rumah baru?

Berapa lamanya Anda puas dengan pakaian baru sebelumnya Anda sudah siap belanja lagi untuk gaun baru atau blus baru? Tahukah Anda bedanya kalau Becky mengatakan tidak ada pakaian dibanding saya mengatakan tidak ada pakaian? Maksud Becky dengan tidak ada pakaian adalah tidak ada pakaian baru, kalau saya mengatakan tidak ada pakaian maksudku tidak ada pakaian yang bersih.

Apakah upah di surga dapat dibandingkan dengan semua upah yang berbeda di dunia ini? Allah mengatakan tidak. Pertama, semua upah di dunia ini semua sementara, yang tidak bertahan lama, yang menjadi cepat usang dan membosankan dan berkarat dan memudar dan kesenangan mereka cepat hilang.

Di sisi lain upah Allah kekal dan bertahan dan memuaskan untuk selamanya. Pikiran kita tidak dapat memahami kebesaran berkat upah itu di surga. Efesus 3:20 mengatakan bahwa Allah “dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan.” Betapapun besarnya upah yang dapat kita bayangkan itu jauh kurang dari pada yang Allah akan menyediakan sebenarnya.

Kita hanya dapat memikirkan upah yang kita dapat mengalami dalam tubuh duniawi kita, namun pikirkanlah tentang tubuh kebangkitan Kristus dimana Allah memberikan kita suatu rasa pendahuluan seperti apa tubuh surgawi kita nanti. Yesus makan ikan jadi kita tahu bahwa kesenangan makan juga masih ada di surga namun bayangkan kita tidak pernah takut gemuk.

Hadiah mendekati Allah dan melihat Dia muka ke muka pastilah suatu hadiah yang sangat luar biasa. Kita tahu bahwa dengan mata duniawi kita tidak mungkin dapat melihat Allah Bapa yang adalah Roh. Namun kita juga tahu bahwa para malaikat dapat berada berdekatan dengan Dia untuk melayani Dia.

Mungkin dengan mata kekal baru kita dengan tubuh kekal baru kita dapat berada dekat dengan Allah Mahakuasa dan mungkin kita diizinkan untuk melihat sepintas kemuliaan-Nya, wah betapa besarnya upah itu. Karena bagi orang Yahudi untuk dapat melihat Allah muka ke muka merupakan hadiah terbesar bagi mereka.

Saya benar-benar tidak dapat mulai membayangkan semua upah untuk selama-lamanya yang telah disediakan Allah bagi mereka yang mengasihi-Nya. Namun saya tahu bahwa berkat-berkat Allah tidak akan berkesudahan, dan Anda tidak akan pernah merasa bosan, dan Anda untuk selama-lamanya dapat berhubungan dengan miljaran orang yang tidak berdosa dalam suatu dunia dimana keajaiban tidak akan berhenti.

Jadi dengan introduksi ini saya ingin supaya kita semua dapat mempelajari lagi dan mengingat lagi apa yang dikatakan Alkitab tentang upah itu dan untuk menerima semua yang diajarkan Alkitab tentang hal yang penting ini supaya kita dapat mengapplikasikan itu dalam perjalanan dengan Dia setiap hari. Dan saya harap itu akan memberikan kita sebagai persekutuan semangat baru dalam kehidupan kita.

Nah upah dan hukuman adalah dua sisi dari mata uang yang sama, artinya kita tidak dapat mengerti upah kecuali kita mengerti murka Allah. Jika kita tidak mengerti perbedaan hukuman dan upah, kita tidak akan mengerti perbedaan caranya kita diselamatkan dan bagaimana kita harus hidup setelah diselamatkan.

Dengarkanlah dengan saksama, dosa orang percaya telah dihukum dan dibayar di kayu salib dan pekerjaan orang percaya akan dihargai dengan upah untuk selama-lamanya. Dan sebaliknya juga benar. Dosa orang yang tidak percaya akan dihukum untuk selamanya di neraka dan pekerjaan orang yang tidak percaya hanya akan dihargai dengan pujian manusia di dunia saat itu saja.

Nah saya yakin bahwa hampir semua orang mengerti bahwa dosa-dosa kita telah dihukum di kayu salib. Saya telah berkhotbah tentang itu, kita menyanyi tentang itu di lagu-lagu, dan kita mengingat hal itu ketika kita ikut dalam Perjamuan Kudus dan sebagainya, Kita tahu ini benar dan kita ini adalah realitas.

Namun bagian kedua dari pernyataan itu dimana pekerjaan kita sebagai orang percaya akan dihargai dengan upah di surga untuk selamanya sedikit membingungkan, benar? Kadang kita sebagai orang Kristen telah membentuk teologi hukuman yang baru. Pernahkah Anda mendengar orang Kristen membicarakan orang Kristen lain yang telah berbuat dosa besar dan berkata, “Pastilah apa yang dia perbuat akan kembali kepadanya.”

Dan maksud mereka adalah bahwa orang Kristen itu akan menerima hukuman yang sesuai dengan perbuatan mereka di masa depan nanti. Kita sering mendengar orang berkata tentang orang Kristen lain, “Nah, dia pasti harus bertanggung jawab untuk itu.” Dan banyak orang Kristen percaya bahwa Allah pada suatu waktu akan membuka dosa besar itu di masa depan dan Anda harus bertanggung jawab untuk itu di hadapan banyak orang.

Saudara-saudari, semua itu benar bagi mereka yang bukan Kristen dan mereka harus membayar untuk dosa- dosa mereka di neraka untuk selama-lamanya, namun itu tidak sama bagi kita orang Kristen. Ketika Yesus mati di kayu salib, ketika Dia bayar untuk dosa kita dengan darah-Nya, dosa-dosa kita yang lalu, yang sekarang dan yang akan datang, semua dijauhkan dari kita. Sejauh mana? Mazmur 103:12 mengatakan, “sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.”

Karena itu kita merayakan kejadian di kayu salib itu, karena itulah kita merayakan pemgampunan dosa, karena itu kita diberkati memiliki doktrin keselamatan oleh anugerah saja, oleh iman saja, oleh Kristus saja.

Namun jika kita tidak mengerti hal ini kita mungkin bingung. Dan kita lupa apa yang dilakukan Yesus di kayu salib, dan kita lupa bahwa pekerjaan-Nya sanggup membayar untuk segala dosa kita. Jangan-jangan kita kemabli kepada kepercayaan bahwa kita bertanggung jawab atas dosa-dosa kita dan pada suatu saat kita harus bertanggung jawab untuk itu di ddepan semua orang. Dan kekasih Kristus, bukan itu di dalam Kitab Suci.

Dan ini memang sulit untuk dipercaya orang yang belum percaya, dan ini menjadi batu sandungan dan kebodohan bagi mereka seperti dikatakan di 1 Korintus 1:23, “tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang non-Yahudi suatu kebodohan.”

Perhatikanlah apa yang dikatakan Yesus tentang pekerjaan orang Kristen yang akan dihargai di surga untuk selamanya. Kita telah membahas ini sebelumnya di Matius 6:4 berkaitan dengan memberi dan Dia mengatakan, “maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” dan di Matius 6;6 berkaitan dengan berdoa Dia mengatakan, “maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” dan di Matius 6:18 tentang berpuasa Yesus mengatakan, “maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Tiga kali Yesus mengulangi frase yang sama. Salah satu hal yang menolong kita dalam mengartikan Firman Allah adalah untuk melihat dimana ada pengulangan untuk penekanan dan kepentingan. Dan selagi kita mempelajari Matius 6:1-18 kita melihat pengulangan tentang siapakah orang munafik itu yang berbuat hal untuk pujian manusia dari pada untuk kemuliaan Allah. Kita telah belajar tentang mereka.

Namun disini kita juga melihat tiga kali ulangan tentang upah di surga dari Allah Bapa kita sendiri. Dan Yesus mengulangi hal itu tiga kali dan saudara-saudara jika Yesus melakukan itu untuk menarik perhatian kita atau untuk penekanan, sebaiknya kita benar-benar memperhatikan hal itu dan janganlah kita abaikan ajaran Allah ini.

Dengarkanlah ayat-ayat terkenal dari Yohanes 3:16-18, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. 17 Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. 18 Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.”

Dengarkanlah ayat 18 lagi, “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum,” ini sekarang, yaitu bentuk sekarang ini, dan ini bagi Anda jika Anda percaya kepada Kristus sekarang juga, tidak ada penghakiman. Tidak ada penghukuman lagi untuk dosa di masa depan Anda sebagai orang percaya. Tidak di masa lalu, tidak sekarang dan tidak sampai selamanya.

Ini tidak berarti kita bisa berdosa seenaknya dari sekarang ini. Paulus membicarakan hal ini di Roma 6:1-2, “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita terus berdosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? 2 Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” dan lagi di Roma 6:15, “Jadi bagaimana? Apakah kita dapat berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!”

Kita tidak diselamatkan untuk berbuat jahat namun kita diselamatkan untuk berbuat baik. Marilah kita melihat itu lagi di Efesus 2:8-10, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, 9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. 10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”

Rencana Allah dari semula adalah supaya kita berbuat baik untuk memperlihatkan kasih-Nya kepada orang lain, untuk menjadi kaki tangan Yesus supaya orang lain ingin tahu bagaimana mereka juga bisa menjadi anak Allah. Dan jika pengertian ini keliru, malah ini menjadi alasan mengapa orang Kristen tidak mau membantu, tidak ikut campur, tidak peduli orang lain yang masih belum mengenal Kristus dan tidak memiliki pelayanan rohani.

Dan doktrin upah surgawi itu berhubungan dengan berbuat baik dan menjadi hamba. Dan ini usaha yang keras, Yesus dan Paulus memakai perumpamaan prajurit dan petani dan pelomba dan pelayan dan ini semua contoh pekerjaan yang berat sekali. Dan ini semua merupakan aspek kehidupan Kristen.

Jadi sebagai orang yang percaya semua dosa kita telah diampuni. Dan saya tahu ini sering sulit bagi kita untuk dipercaya, karena saya ingat sekali dosa-dosa saya sebagai orang percaya. Dan pastilah Anda juga ingat dosa- dosa Anda sebagai orang percaya, hal-hal yang telah kita lakukan yang begitu bertentangan dengan kehendak Allah. Dan secara pribadi pergumulan yang terbesar bagi saya sendiri adalah dosa-dosa saya sendiri setelah menjadi orang Kristen.

Ada kalanya saya mengingat dosa itu dan seringkali Iblis sendiri yang mengingatkan kita dan gampang sekali kita lupa apa yang telah dilakukan Yesus di kayu salib. Dan banyak orang Kristen masih memikir ada hukuman ketika mereka membaca tentang takhta pengadilan Kristus.

2 Korintus 5:10 mengatakan, “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” Dan begitu kita baca tentang takhta pengadilan kita memikir tentang hukuman benar? Namun artinya yang benar disini adalah bahwa pekerjaan pelayanan kita setelah kita menjadi Kristen akan dihakimi hanya untuk upah saja tanpa ada hukuman.

Contoh terbaik adalah bagian firman Allah yang kita bicarakan Minggu yang lalu yang dari Paulus di 1 Korintus 3:9-15. Paul merespon kepada beberapa kelompok di dalam gereja yang pendeta favoritnya berbeda. Dan ini bahaya dan mungkin bisa menyebabkan ada perpecahan gereja.

Namun Paulus mengatakan janganlah kita ada pendeta favorit karena semua pendeta saling melengkapi satu sama lain. Mungkin Anda senang mendengarkan berbagai pendeta sama seperti saya, namun Paulus mengatakan di pertengahan responnya di ayat 8, “Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama;” Ini berarti bahwa kita semua bekerja sama di tim yang sama untuk Yesus.

“Dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.” Jadi Paulus mengulangi konsep upah untuk pekerjaan di ayat 8 ini. Dan setelah itu ia membicarakan di ayat 9 sampai 15 tentang macam apa pekerjaan yang dapat kita lakukan sebagai pekerja-Nya. Jadi dia mulai di 1 Korintus 3:9, “Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.”

Apakah Anda memperhatikan bahwa Paulus membicarakan semua anggota jemaaat gereja? Dia mengatakan kita adalah “kawan sekerja Allah,” dia tidak membicarakan dia sendiri atau hanya pendeta-pendeta atau para diaken, namun dia membicarakan semua anggota jemaat di gereja.

10Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. 11Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.”

Dan itulah yang kita lakukan sekarang. Kita membangun diatas fondasi yang diletakkan Tuhan Yesus sendiri di dalam Khotbah di Bukit ketika kita membaca Matius 6:1-18 dan apa yang kita belajar sekarang adalah tentang upah hasil bagunan diatas firman-Nya. Marilah kita melanjutkan dengan ayat 12:

“12Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, 13sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. 14Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. 15Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.”

Yang dibicarakan Paulus bukanlah hukuman untuk dosa-dosa, yang dibicarakannya adalah apakah yang dapat kita bangun untuk Allah dalam kehidupan kita dan upah untuk setiap orang Kristen, setelah pekerjaannya diuji dengan api. Bagi mereka yang bangunannya terbakar habis dan tidak ada hasilnya sama sekali, mereka tetap selamat, benar? Marilah kita memuji Tuhan untuk anugerah-Nya, Amin?
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu