15 Mei 2011 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2011
Lahir untuk dibunuh
15 Mei 2011

Bukalah 2 Petrus 2:10-14 dimana kita melanjutkan apa yang kita pelajari Minggu kemarin. Kita akan lihat kembali hal nabi-nabi palsu dan guru-guru palsu yang secara diam-diam memulai ajaran-ajaran palsu yang merusak seperti yang dikatakan di ayat 1 bab ini.

Tetapi saya ingin memperingatkan Anda karena selagi kami meneruskan bagian ini bahasanya seperti suatu banjir kekerasan yang ditujukan kepada guru-guru palsu yang menyebabkan kita sebagai si pembaca, hampir kehabisan napas. Mereka yang merayu pikiran dan hati orang yang bekerja untuk Iblis melawan Allah semua musnah dalam bagian ini dalam hembusan ilahi yang hebat yang dikarang Roh Kudus melalui pena Petrus.

Petrus yang berbicara atas nama Allah menamakan nabi-nabi palsu itu di ayat 12 “binatang yang tidak berakal,” yang tidak memiliki kapasitas untuk berpikir rasional. Mereka beroperasi berdasarkan gairah tanpa pikiran dan mereka bergerak hanya oleh naluri. Binatang tidak mampu berpikir. Mereka tidak bisa menganalisa sesuatu.

Keuntungan satu-satunya yang diberikan binatang adalah mereka adalah makanan fisik. Jadi dia katakan disini bahwa guru-guru itu sama juga tidak bisa berpikir, sama juga hanya memikirkan diri, dan sama juga mereka digerakkan oleh naluri nafsu mereka dan mereka melayani manusia dengan cara terbaik waktu mereka mati. Waduh, bahasa yang sangat keras.

Mengapa Petrus meledak sedemikian marah pada nabi-nabi palsu dan guru-guru palsu? Di Yohanes 21, tiga kali dikatakan, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Dari permulaannya Petrus dipanggil untuk menjadi gembala yang memberi makanan kepada domba-domba itu. Dan dia sangat benci ada gembala palsu yang meracuni domba-domba-nya.

Bab ini dipisahkan dari kedua bab yang lain supaya gambaran guru palsu itu jelas sekali. Ketiga ayat pertama memberikan kita suatu sketsa umum atau garis besar, dan setelah itu dari ayat 4 sampai 10 dia menyatakan bahwa penghancuran mereka sudah pasti.

Sekarang dia kembali kepada garis besar itu dari ayat 1 sampai 3 dan dia menyelesaikannya dengan warna komplit untuk memberikan kita gambaran yang lengkap tentang guru palsu itu. Ingatlah, keseluruhan surat ini adalah untuk memperingati jemaat bahwa guru palsu itu bahaya sekali dan bagaimana caranya kita harus membela diri melawan mereka.

Jika Anda yakin bahwa keselamatan Anda pasti, jika Anda tahu ajaran Firman Allah, maka Anda memiliki pembelaan diri. Jadi maksud surat ini adalah untuk memberikan kita kekuatan untuk melawan guru-guru palsu ini. Dan sebagian kita dapat dari penyadaran bahwa orang itu memang guru palsu dan pengertian bagaimana Allah memandang mereka.

Maka, selama Petrus memberikan kita cacian terik terhadap guru-guru palsu itu, kita akan melihat beberapa titik. Dan malam ini aku ingin memberikan dua yang pertama. Nomor satu, pendapat-diri yang terlalu besar.

Lihatlah ayat 10b -13a, “Mereka begitu berani dan angkuh, sehingga tidak segan-segan menghujat kemuliaan, 11 padahal malaikat-malaikat sendiri, yang sekalipun lebih kuat dan lebih berkuasa dari pada mereka, tidak memakai kata-kata hujat, kalau malaikat-malaikat menuntut hukuman atas mereka di hadapan Allah. 12 Tetapi mereka itu sama dengan binatang yang tidak berakal, sama dengan binatang yang hanya dilahirkan untuk ditangkap dan dimusnahkan. Mereka menghujat apa yang tidak mereka ketahui, sehingga oleh perbuatan mereka yang jahat mereka sendiri akan binasa seperti binatang liar, 13 dan akan mengalami nasib yang buruk sebagai upah kejahatan mereka.”

Nah inilah teks yang membicarakan sikap mereka. Perkataan pertama menyimpulkannya di pertengahan ayat 10, berani. Mereka berani menentang Allah dan kebenaran-Nya. Mereka tidak memikirkan konsekuensi dari apa yang mereka perbuat melawan Allah dan akibatnya yang akan datang.

Dan sekarang dia menambahkan, angkuh dan degil. Ini berarti mereka keras kepala. Mereka sombong dan mereka ingin menentukan cara mereka sendiri. Dan tidak ada sesuatupun yang dapat menghentikan mereka, bukan kebenaran dan bukan keTuhanan Yesus Kristus. Dan ada perasaan di sini bahwa Petrus terkejut sekali atas praduga luar biasa mereka.

Dan betapa besar praduga mereka? Dia ingin memberikan kita suatu ilustrasi. Dalam ayat 10 dia mengatakan, beginilah besarnya praduga mereka, beginilah besarnya keberanian dan keras kepala mereka, “mereka tidak segan-segan menghujat kemuliaan malaikat.”

Didalam sejarah orang telah menterjemahkannya dengan beberapa cara berbeda. Apakah artinya? Nah kata "menghujat" berarti mencerca, berbicara jahat, mengejek, menertawakan, untuk merendahkan dan menurunkan. Mereka melakukan itu terhadap “doxa” malaikat, itu berarti kejayaan, martabatnya dan pejabat. Dan dalam konteks ini artinya mereka pejabat malaikat.

Nah yang dibicarakan adalah pejabat malaikat yang mana? Ini merujuk kepada setan. Mereka tanpa rasa takut berani mengejek dan berbicara meremehkan setan, yaitu malaikat-malaikat yang jatuh. Mereka mengejek dan mereka menertawakan mereka.

Bagaimana setan itu bisa diberi nama kemuliaan? Apakah mereka makhluk yang mulia? Jawabannya adalah iya, mereka bisa disebut mulia dalam arti bahwa mereka memiliki pribadi dan tingkat eksistensi di dunia supranatural yang memiliki martabat dan kualitas transenden yang melebihi kemampuan kita.

Paulus mengatakan di Efesus 2:2 bahwa dia penguasa kerajaan angkasa. Yesus mengatakan di Yohanes 12:31 bahwa dia adalah penguasa dunia. Ada pribadi mulia yang dimiliki bahkan malaikat yang jatuh, karena mereka masih mempertahankan jejak keagungan, sama seperti manusia yang jatuh dan berdosa, yang belum dilahirkan kembali tetap memiliki jejak rupa Allah.

Bahkan di Efesus 6:12 Paulus memanggil mereka pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa dan penghulu- penghulu dunia. Mereka dinamakan roh-roh ditempat tinggi. Dan jika kita memperhatikan dengan teliti 1 Korintus 15:40-41 kita lihat ada “tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain dari pada kemuliaan tubuh duniawi.”

Ayat 41, “Kemuliaan matahari lain dari pada kemuliaan bulan, dan kemuliaan bulan lain dari pada kemuliaan bintang-bintang, dan kemuliaan bintang yang satu berbeda dengan kemuliaan bintang yang lain.” Dan yang dikatakan Paulus adalah bahwa ada bermacam tingkat kemuliaan.

Ada martabat tertentu yang dimiliki bahkan matahari, dan bintang-bintang, meskipun mereka juga berada di alam semesta yang jatuh, ada jejak martabat tertentu dalam gambar Allah yang dimiliki manusia. Dan ada keagungan tertentu yang dimiliki malaikat meskipun mereka jatuh.

Bagaimana setan yang dikutuk itu dapat dihujat? Bahkan malaikat yang jatuh memiliki semacam keagungan malaikat dan mereka tidak boleh dianggap enteng. Kita harus menghindari sikap yang tidak hormat terhadap mereka. Dengarkanlah, mereka adalah makhluk yang sangat serius. Dan Allah sangat serius terhadap mereka. Dan begitu juga malaikat-malaikat kudus serius terhadap mereka.

Jadi secara praktis apa artinya? Hal ini dapat diterapkan pada kebodohan dari pemburu setan Karismatik. Guru-guru palsu arogan meremehkan kekuatan Setan dan mereka meremehkan martabat keseluruhan kemuliaan malaikat dan mereka berpikir bahwa mereka lebih kuat dari setan. Dan mereka menganggap bahwa tidak akan ada pembalasan karena mereka merasa memiliki suatu kuasa yang tak terkalahkan.

Dan juga ada orang-orang liberal yang datang dan sama sekali menyangkal keberadaan mereka. Setiap kali Anda menghina atau merendahkan atau meminimalkan kuasa setan dan malaikat yang jatuh itu, itu tindakan bodoh. Berbicara melawan makhluk yang mulia itu berarti mengangkat diri Anda ke tingkat yang bukan tempat Anda. Ini adalah semacam praduga yang buruk.

Dan sebaliknya, lihat apa yang dia katakan dalam ayat 11, "Padahal malaikat," dan kapan saja Anda melihat kata "malaikat," itu merujuk kepada malaikat Allah yang baik dan kudus. “padahal malaikat-malaikat sendiri, yang sekalipun lebih kuat dan lebih berkuasa dari pada mereka.” Lebih kuat dan berkuasa dibanding siapa? Tentu saja lebih kuat daripada kita dan lebih berkuasa dari pada guru-guru palsu itu, benar? Janganlah memakai kata-kata hujat melawan mereka di hadapan Tuhan.

Malaikat kudus tidak menghakimi atau merendahkan setan-setan yang lebih rendah dari mereka. Para malaikat begitu memuja Tuhan mereka sehingga mereka tinggal sepanjang hidup mereka di hadirat-Nya dan tidak ada bahasa menghina diperbolehkan untuk melewati bibir mereka, meskipun itu benar pantas.

Lihatlah Yudas 1:8-9, karena di sini kita melihat teks sejajar yang sangat menolong, “Namun demikian orang- orang yang bermimpi-mimpian ini juga mencemarkan tubuh mereka dan menolak kekuasaan Allah serta menghujat semua yang mulia di sorga.” Mereka menolak otoritas dan ketuhanan. Ini sama dengan apa yang dikatakan Petrus.

Tetapi setelah itu Yudas mengatakan bahwa guru palsu itu bukan menhujat setan namun Mikhael, penghulu malaikat itu ketika dia bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa.”

Ini mengenai masalah apa? Saya sendiri tidak tahu, kelihatannya ada konflik antara Iblis dan Mikhael mengenai mayat Musa. Iblis ingin mayat Musa itu. Dan Anda masih ingat ya bahwa Musa tidak di perbolehkan masuk ke dalam Tanah Perjanjian.

Mungkin kita akan tahu masalahnya ketika kita masuk ke sorga dan menanyakan Mikhael. Si Iblis pasti maksudnya buruk. Kita tidak tahu apa yang dia mungkin lakukan namun kemungkinan besar itu dipakai untuk semacam ibadah setan palsu yang menyebabkan banyak orang kesasar.

Mereka bertengkar mengenai mayat Musa. “Tetapi penghulu malaikat, Mikhael, ketika dalam suatu perselisihan bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa tidak berani menghakimi Iblis itu dengan kata-kata hujatan,” tetapi dia membiarkan itu ke dalam tangan Allah dan hanya berkata pada akhir ayat 9: "Kiranya Tuhan menghardik engkau!"

Namun kembali di 2 Petrus, guru-guru palsu itu tidak takut melakukan apa yang malaikat kudus tidak berani melakukan. Mereka begitu angkuh. Praduga guru palsu itu yang degil malah menyerang mahluk yang malaikat kudus sendiri tidak berani menyerang.

Dia terus menggambarkan mereka di ayat 12, “Tetapi mereka itu, maksudnya guru-guru palsu itu, sama dengan binatang yang tidak berakal, sama dengan binatang yang hanya dilahirkan untuk ditangkap dan dimusnahkan. Mereka menghujat apa yang tidak mereka ketahui,” Mereka tidak mengerti melawan siapakah mereka berbicara.

Yudas 1:10 mengatakan hal yang sama, “Akan tetapi mereka menghujat segala sesuatu yang tidak mereka ketahui dan justru apa yang mereka ketahui dengan nalurinya seperti binatang yang tidak berakal.”

“Binatang yang tidak berakal,“ dia mengatakan hanya memiliki naluri, bukan daya pikir. Mereka hanya dapat merespon kepada rangsangan yang terprogram yang dibentuk dalam tubuh fisik mereka oleh tindakan penciptaan Allah. Mereka hanya memberikan kontribusi fisik menjadi makanan untuk beberapa binatang lainnya atau untuk manusia. Ini semua adalah bagian dari rantai makanan.

Firman Allah mengatakan bahwa guru-guru palsu ini berada dalam kategori yang sama dalam binatang naluriah, yang tidak mengerti apa yang mereka lakukan tapi yang seperti binatang kasar beroperasi hanya berdasarkan gairah naluri mereka sendiri dan melayani manusia terbaik pada saatnya mati.

Akhir ayat 12 mengatakan, “oleh perbuatan mereka yang jahat mereka sendiri akan binasa seperti binatang liar.” Mereka itu akan menjadi bahan bakar untuk dibakar api kemuliaan Allah. Ketika Allah memusnahkan dunia dan semua binatangnya, Dia akan memusnahkan mereka juga. Teks Yunani sebenarnya mengatakan, “Dalam mereka membinasakan mereka akan dibinasakan.”

Dan di dalam ayat-ayat 19-22 kita akan melihat rincian kehancuran itu. Jadi dalam menghancurkan orang lain mereka membawa kehancuran atas diri mereka sendiri. Mereka berperilaku seperti binatang bodoh, memimpin orang lain untuk kematian yang dengan sendirinya akan binasa di rumah potong hewan yang sama.

Jadi dengan demikian dia menyimpulkan semua tentang praduga mereka di ayat 13, “akan mengalami nasib yang buruk sebagai upah kejahatan mereka.” Atau mengalami kecelakaan sebagai upah mencelakakan orang. Itu kebenaran nyata. Mereka akan mengalami apa yang patut mereka alami.

Galatia 6:7 menamakannya itu hukum menabur dan menuai. Jika seseorang mendedikasikan dirinya untuk kebohongan, ajaran palsu, dengan pendekatan yang berani, kurang ajar, sombong dan bersemangat penuh nafsu untuk hal-hal Allah, itu pasti akan menghancurkannya.

Jadi guru-guru palsu itu pertama memiliki pendapat diri yang sombong. Kedua mereka mempraktekkan kehidupan yang fasik. Jadi di ayat 13 kita merubah dari sikap kepada perbuatan, “Berfoya-foya pada siang hari, mereka anggap kenikmatan.” Biasanya pendosa bersenang-senang di malam hari (1 Tesalonika 5:7). Namun pendosa ini begitu bejat sehingga mereka melakukan itu di siang hari.

Petrus meneruskan dalam membicarakan kelakuan mereka, dan mengatakan lebih lanjut dengan kejijikan nyata, “mereka adalah kotoran dan noda.” Inilah tandanya ada cacat dan noda kotoran dan bekas luka. Mereka itu berpenyakit.

Dan dia mengatakan mereka “mabuk dalam hawa nafsu mereka.” Apakah artinya itu? Itu berarti hidup dalam kemewahan mereka, hidup penuh dengan kesenangan dosa, hidup sebesar mungkin dengan hawa nafsu naluri binatang mereka, dan menipu mereka yang juga terpengaruh untuk melakukan yang sama. Mereka menipu orang lain.

Ayat 13 mengatakan, mereka melakukan hal itu pada waktu “mereka duduk makan minum bersama-sama dengan kamu.” Ketika mereka datang untuk merayakan sesuatu di gereja, 2 Yohanes 10-11 mengatakan, “Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran benar ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya.11 Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat.”

Dan di ayat 14 Petrus pindah dari perbuatan mereka di depan umum kepada perbuatan pribadi mereka, “Mata mereka penuh nafsu zinah dan mereka tidak pernah jemu berbuat dosa. Mereka memikat orang-orang yang lemah. Hati mereka telah terlatih dalam keserakahan. Mereka adalah orang-orang yang terkutuk!”

Orang-orang ini telah kehilangan kontrol moral sehingga mereka tidak dapat melihat seorang wanita tanpa melihatnya sebagai seorang pezinah potensial setiap saat. Hidup oleh nafsu membawa pikiran dosa, naluri binatang mendominasi sehingga nafsu tidak pernah bisa puas dan tidak pernah dimatikan. Dengan demikian setiap wanita menjadi obyek perzinahan.

Coba lihat bagian ayat 14, “Mereka memikat orang-orang yang lemah,” yang berarti mereka mengajarkan orang lain untuk berbuat yang sama. Mereka menarik yang tidak menyadari, yang lemah dalam penyimpangan seksual mereka, kesalahan mereka, kebohongan mereka, untuk gairah dan naluri. Mereka memangsa mereka yang masih muda dalam iman atau yang hampir lolos dari kesalahan dan bahkan belum datang kepada Kristus.

Dan kemudian dia menutup bagian kecil ini dengan mengatakan, "Mereka memiliki hati yang terlatih dalam keserakahan." Nafsu seksual, gairah dan mata guru palsu dipenuhi dengan perzinahan, dan mereka memiliki sebagai pasangan hati yang terlatih dalam keserakahan. Seks dan keserakahan selalu bergerak bersama dengan guru-guru palsu.

Setelah itu Petrus mengatakan di akhir ayat 14, “Mereka adalah anak-anak (bkn orang-orang) terkutuk, yang berarti mereka telah disediakan untuk dikutuk. Ketika Anda melihat perkataan “anak” disini, ini suatu istilah Ibrani yang menamakan seseorang yang sangat dipengaruhi dalam kehidupannya oleh si A, ia adalah anaknya si A.

Kita baru mulai membicarakan sifat guru palsu itu. Saudara-saudara yang kekasih, ini sangat penting dan perlu karena kewajiban seorang pendeta adalah untuk mempersiapkan jemaatnya untuk bahaya seperti itu, Amin?
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu