13 Mar 2011 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2011
Bercerai dan kawin lagi
13 Maret 2011

Malam ini marilah kita meneruskan Injil Matius, jadi saya mengundang Anda untuk melihat bersama Matius 5:31- 32, “Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya. 32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.”

Malam ini kita melihat contoh ketiga dari Yesus yang dipakai sebagai contoh untuk membandingkan tradisi Yahudi dengan apa yang sebenarnya di katakan hukum Allah. Dan disini Dia sekali lagi memberikan kita suatu contoh bagaimana orang Farisi dan ahli Taurat merendahkan standar Allah dengan menambahkan sesuatu atau mengurangi sesuatu atau menggantikan pengertiannya.

Keselamatan ini bergantung kepada kehidupan benar dan pengertian akan hukum Taurat Allah. Ingatlah Matius 5:20 yang mengatakan, “Maka Aku berkata kepadamu: Jika kebenaranmu tidak melebihi kebenaran dari pada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Jadi marilah kita mempelajari Firman Allah untuk melihat apa yang dikatakan Tuhan sebenarnya. Dan malam ini kita fokus kepada perceraian dan perkawinan kembali.

Perintah Tuhan sangat jelas mengenai hal ini, namun orang Farisi dan ahli Taurat tidak dapat memenuhi standar ini, jadi mereka menciptakan suatu standar baru dan menamakannya standar Allah dan mengatakan kami sanggup mengikuti yang ini, jadi kita OK. Mereka menciptakan suatu kode etik mereka sendiri, dan kemudian mereka salahnafsir Alkitab dan menyesuaikannya dengan pandangan dan cara hidup mereka sendiri.

Yang diperintahkan Allah disini, dan Anda perlu tahu ini, sejak permulaan adalah monogami yang merupakan hubungan antara satu perempuan dan satu laki-laki, yaitu, perkawinan sepanjang umur antara seorang pria dan seorang wanita. Perhatikanlah Kejadian 2:24, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”

Ketika dua orang di lem bersama mereka menjadi satu individu tunggal, dan karena itu dikatakan, "mereka menjadi satu daging." Dan pasti ini mengacu pada persatuan seks tetapi masih ada banyak hal lagi. Dia menyatukan seorang pria dan seorang wanita dalam ikatan biologis dan rohani yang unik dan mendalam yang menjangkau jauh ke dalam jiwa mereka.

Ada banyak hal lagi di Ulangan 24:1-4 yang secara singkat mengatakan jika seorang pria menikah seorang wanita dan menemukan ketidaksenonohan dalam dirinya, ia dapat menceraikannya dengan sertifikat perceraian dan jika wanita itu menikah orang lain dan dia diceraikan juga, dia tidak bisa kembali ke suaminya yang pertama karena dia telah dicemarkan dan itu adalah kekejian bagi Tuhan.

Bagaimana dia dicemarkan? Allah mengatakan bahwa dia berzinah karena menikah orang lain sedangkan tidak ada alasan baik untuk bercerai. Musa mengatakan bahwa hanya ada satu alasan sah untuk bercerai yaitu perzinahan dan semua alasan lain tidak diterima Allah.

Dalam bab Matius 5 Yesus menghadapi agama munafik orang Farisi, ahli-ahli Taurat, dan orang-orang yang mengikuti ajaran mereka. Dan di Matius 5:31 Dia mengatakan, Ayo, jangan lupa untuk memberikan isteri Anda dokumen yang sah ketika Anda menceraikannya, akan tetapi Aku berkata malah janganlah Anda menceraikan isteri Anda.

Karena itu di Matius 19:7 ketika mereka mengatakan kepada Yesus, “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?" kita membaca di ayat 8, “Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.” Dengan kata lain, ini bukan suatu perintah, ini suatu izin berdasarkan dosa mereka.

Allah membenci perceraian. Namun, Allah tahu, dalam dunia terkutuk ini dimana dosa ada dan hubungan manusia tertekan karena kutukan itu sendiri, bahwa kenyataannya adalah perceraian itu ada. Jadi Tuhan mengizinkan perceraian namun hal-hal tertentu harus diikuti untuk menjamin akibatnya.

Jadi apakah tujuannya? Itu kesaksian kepada perempuan bahwa dia di bebaskan dari kewajiban perkawinan terhadap suaminya yang telah menceraikannya. Dalam surat cerai itu ada pernyataan bahwa perempuan itu dibebaskan supaya dia tidak dituduh menjadi pelacur, dan dia tidak dituduh meninggalkan rumah tangganya atau melarikan diri dari suaminya.

Kedua, tulisan surat cerai itu adalah bukti untuk suami baru bahwa dia secara hukum bebas untuk kawin lagi. Dan memang dalam setiap bagian Alkitab yang membicarakan perceraian selalu dianggap perempuan itu akan kawin lagi. Itu dianggap di Ulangan, itu dianggap di Matius 5 dan itu juga dianggap di Matius 19. Jadi surat cerai itu memberikan wanita itu kebebasan untuk menikah lagi.

Ketiga, ini melindungi reputasi perempuan itu dari fitnahan. Memang itulah guna sebenarnya, untuk memperlihatkan bahwa dia tidak meninggalkan suaminya, untuk memperlihatkan bahwa menurut suaminya dia bebas untuk menikah lagi, dan untuk memperlihatkan bahwa dia tidak di fitnah seperti seorang pelacur.

Sekarang sejauh prihatin Allah surat cerai seperti itu hanya sah dalam satu kasus, dan itu dalam kasus perzinahan, kan? Namun dengarkanlah, ini bukan berarti ini jalan satu-satunya. Ketika Hosea memiliki isteri yang suka berzinah apakah dia menceraikannya? Tidak. Ketika Allah memiliki negara yang berzinah, apakah Dia menceraikannya? Tidak. Ketika Allah memiliki negara yang berzinah, apakah Dia menceraikannya? Tidak Ketika Kristus memiliki orang percaya dalam gereja-Nya yang berzinah, apakah Dia menceraikan mereka? Tidak.

Apakah yang dikatakan orang Farisi dan orang yang membenarkan diri? Mereka merendahkan standar Allah dan mengatakan, “Kita membiarkan adanya perceraian dan perkawinan kembali untuk alasan apa saja.” Inilah yang dikatakan di zaman waktu Yesus dan inilah yang masih di katakan orang-orang sekarang juga.

Perzinahan harus dihukum dengan hukuman mati pada awalnya, namun pada saat waktu itu berlalu hal itu tidak selalu diikuti. Kadang-kadang kehidupan di selamatkan, kadang-kadang ada perceraian dan bukan rajam, Anda tahu jika seseorang melakukan perzinahan mereka harus dirajam tapi terkadang perceraian malah hasilnya, mereka ramah.

Matius 1 contoh yang tepat, dimana kita melihat Yusuf ada pilihan. Dia tahu isterinya Maria mengandung di ayat 19, tetapi karena dia seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Dia tidak bisa mengambil hidupnya karena orang Romawi telah mengambil hak orang Yahudi untuk mengeksekusi.

Ada dua ajaran orang rabi yang pandangannya berbeda, dan yang dominan di waktu Yesus adalah pandangan bahwa Anda dapat menceraikan isteri Anda untuk hal apa saja, tidak peduli apa, membakar bagel, terlalu banyak garam pada makan malam, mertua tidak disenangi atau dia bepergian tanpa jilbab atau Anda menemukan gadis lebih cantik atau apapun juga yang lain yang Anda inginkan, cerailah, asal jangan lupa ketika Anda melakukannya berikanlah surat dokumen, itu saja.

Dan tahukah Anda bahwa begitupun keadaannya sekarang dengan perceraian ‘tanpa-kesalahan’. Ada saja orang yang mengatakan, Tuhan benar memberikan saya damai tentang masalah menceraikan isteri saya. Saya mendengar seorang wanita yang mengatakan bahwa suaminya mencoba untuk meyakinkannya bahywa Allah mengizinkan perceraian karena perasaan kasih sudah hilang dan karena itu mereka tidak lagi kompatibel. Mantan pendeta mereka mengatakan kepadanya bahwa jika dia tidak ada cinta lagi dengan saya dan melihat tidak ada harapan untuk perkawinan kami, dia boleh bercerai dan konselor pernikahan Kristen juga mengatakan hal yang sama.

Disinilah Gereja harus memberikan kepemimpinan. Apakah yang dikatakan pendeta tentang perceraian? Mengapa begitu banyak gereja berdiam saja mengenai hal ini? Bahkan perceraian di dalam gereja sudah begitu umum sehingga ada generasi-generasi orang Kristen yang menjadi percaya bahwa perceraian hanya suatu pilihan gaya hidup saja.

Cerita di balik kisah cinta Amerika dengan perceraian tanpa-kesalahan adalah kisah sedih. Stephen Baskerville menulis di majalah Crisis edisi Maret 2005 bahwa Amerika merangkul perceraian mudah adalah alasan yang paling signifikan bahwa pernikahan sekarang terancam dan, menurut beberapa ukuran, bergantung pada seutas benang.

Dimana ada orang yang hanya mementingkan diri, dimana ada orang duniawi yang berdosa yang tidak bisa mempertahankan hubungan yang benar dan dimana ada masyarakat dengan toleransi untuk perceraian, disitulah pasti akan ada perceraian yang merajalela, dan itulah terjadi didalam masyarakat kita sekarang.

Kenyataan ini sekarang berarti bahwa setiap pasangan dapat menuntut perceraian untuk alasan apapun dan yakin bahwa pengadilan akan mengizinkan perceraian itu dan seringkali memberikan keputusan yang tidak proporsional kepada pihak yang mencari perceraian.

Barbara Whitehead, penulis buku 'Budaya Perceraian' menunjuk pada pengaruh terapi sebagai suatu faktor yang bertanggung jawab juga. Dia menerangkan, “kesalahan untuk perpisahan perkawinan harus dibagi, meskipun hanya satu pasangan mencari bercerai. Asumsinya adalah bahwa jika ada individu yang tidak bahagia, tentu pasangan lain juga bersalah.”

Dan sedihnya seringkali orang tua yang menuntut perceraian juga merupakan orang yang kemungkinan besar akan diberikan hak asuh anak-anak. Menurut Baskerville perceraian tanpa-kesalahan “sama seperti menangkap anak-anak pasangan yang tak bersalah itu di depan umum dan meniadakan hak-hak orang tuanya. Dan ini dilakukan oleh pemerintah kita dengan menggunakan uang pajak kita.”

Alasan utama yang menyebabkan masalah emosional dalam kehidupan generasi berikutnya adalah perceraian. Kecenderungan ke arah perceraian yang cepat dan mudah dan tingkat perceraian yang semakin meningkat menyebabkan semakin banyak anak dipengaruhi orang tua yang tidak ada secara fisik dan emosional dan akibat ini sangat buruk.

Tingkat perceraian meningkat 700% pada abad ini, dan itu terus meningkat. Saat ini sudah ada 1 perceraian untuk setiap 1,8 pernikahan. Lebih dari 1 juta anak setiap tahun terlibat dalam kasus perceraian, dan 13 juta anak-anak di bawah 18 sekarang kehilangan satu atau kedua orang tuanya.”

Apakah yang dikatakan Yesus? Dia mengatakan: Aku benci perceraian dan aku tidak mentolerir alasan apapun juga kecuali perzinahan.

Jadi Yesus menghadapkan mereka dengan penafsiran yang tepat untuk menunjukkan kepada mereka bahwa mereka benar-benar orang-orang berdosa yang berzinah, mereka sama sekali salah menafsirkan Ulangan 24. Dan intinya Ulangan 24:1-4 bukan untuk mendukung perceraian karena kecemaran tetapi untuk menunjukkan jika seorang pria menceraikan istrinya bukan karena perzinahan akibatnya adalah semua orang dinajiskan ketika isterinya menikah lagi.

Alasannya Anda tidak bisa menerima dia kembali adalah karena dia telah dinajiskan sebagai seorang pezinah, walaupun Anda telah menyebabkan dia menjadi pezinah karena dia diceraikan. Jadi apakah yang dikatakan Perjanjian Lama? Firman-Nya memberitakan Anda untuk menghentikan perceraian dengan mempertunjukkan bahwa perceraian mengakibatkan perzinahan.

Yesus mengatakan hal yang sama. Anda bercerai untuk sesuatu yang bukan percabulan atau perzinahan akibatnya adalah Anda membuat orang berzinah. Jadi Dia mengatakan kepada orang Farisi, janganlah datang dan mengaku benar dan mengatakan kita tidak pernah berzinah. Anda bercerai di semua tempat dan meninggalkan jejak perzinahan di belakang Anda.

Yesus mengatakan bahwa mereka harus mengikuti standar Allah, karena mereka telah memutuskan berdasarkan pemahaman mereka terhadap hukum Taurat untuk merancang tradisi hukum mereka sendiri, sehingga mereka bisa mengklaim bahwa mereka OK mengikutinya. Jadi Yesus langsung mengesampingkan tradisi ini dan berkata, dengarkanlah yang optimal dan bandingkanlah diri Anda dengan itu dan lihatlah apakah Anda benar atau tidak. Maka Yesus meninggikan pernikahan itu kembali ke standar Tuhan yang sempurna yaitu perkawinan yang selalu mengikat.

Paulus menambahkan di 1 Korintus 7:12-15 satu alasan sah lagi untuk bercerai dan menikah kembali sesudahnya. Dia mengatakan selain dari apa yang Tuhan kita mengatakan, aku yang terinspirasi oleh Roh Allah menambahkan dimensi ini. Jika Anda memiliki pasangan yang tidak percaya, janganlah berpisah, tinggallah terus bersama, tetapi jika orang yang tidak percaya itu meninggalkan Anda dan menceraikan Anda, Anda sebagai orang percaya tidak terikat hal itu dan bebas untuk menikah lagi.

Apa yang harus kita lakukan? Karena perceraian ada di dunia yang telah jatuh karena dosa ini, kita harus mengambil langkah-langkah alkitabiah untuk menghindari perceraian sekuat mungkin.

Kita perlu membicarakan perceraian dan perkawinan kembali dengan keberanian dan keterusterangan. Stephen Baskerville itu benar, perceraian adalah ancaman terbesar terhadap keluarga dan masyarakat masa kini. Dan kita tidak bisa berharap untuk dianggap serius sebagai pembela perkawinan jika kita tidak menjadi musuh perceraian.

Tuhan tidak pernah ingin ada perceraian. Namun orang-orang menikah dengan pikiran kalau ini tidak berhasil, maka kita akan mengakhirinya. Dan mereka heran mengapa orang berinvestasi begitu banyak waktu dan usaha untuk membuat hubungan yang benar karena mereka pikir jauh lebih mudah untuk berhenti saja dan mencari orang lain, dan itulah keadaannya di dunia ini sekarang.

Namun jika kita melihat pernikahan dengan cara Tuhan melihatnya kita tahu bahwa keinginan Tuhan adalah kesatuan monogami seumur hidup. Perceraian adalah seperti mengamputasi kaki Anda ketika Anda telah serpihan, daripada mengeluarkan serpihan Anda membuang pasangan Anda. Mengapa tidak berurusan dulu dengan hal-hal yang menyebabkan adanya masalah?

Karena itu Ibrani 13:4 mengatakan, “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan.” Mengapa? Karena persatuan antara Kristus dan Gereja-Nya sendiri secara simbolis diproklamirkan ke dunia dalam pernikahan Kristen, dan itu adalah penuh hormat. Hubungan Kristus dengan Gereja-Nya adalah tetap, penuh cinta, benar-benar mengikat dan sangat unik, jadi ini harus sama untuk pernikahan Anda dan saya.

Pernikahan bukanlah suatu tujuan dalam dirinya, perkawinan tidak dirancang terutama untuk kebahagiaan kita, perkawinan dirancang terutama untuk menjadi gambaran pada tingkat manusia tentang suatu hubungan ilahi. Apakah hubungan Kristus dan Gereja-Nya permanen? Iya. Karena itu signifikan supaya pernikahan itu juga permanen, jika memang ini menyatakan kebenaran tentang Kristus dan Gereja-Nya.

Perceraian adalah suatu penghinaan bagi kemuliaan Tuhan dan dosa yang secara tegas dijelaskan dalam Alkitab sebagai suatu kejahatan yang dibenci Tuhan. Perceraian tidak pernah cara Tuhan untuk menyelesaikan konflik. Itulah sebabnya Tuhan tidak pernah benar-benar menyetujui perceraian dalam Alkitab. Tuhan tahu itu akan terjadi, dan Allah mengatur konsekuensinya, tetapi itu tidak pernah solusi-Nya.

Perkawinan bukan kunci kebahagiaan manusia; Allah adalah kunci kebahagiaan manusia. Jika Anda benar dengan Tuhan maka Anda dapat memperbaiki hubungan, tentu keduanya harus bekerja sama.

Dengarkanlah saudara kekasih saat kita menutup, kita hidup di zaman anugerah. Jika Anda orang Kristen saya ingin memberikan Anda kabar baik. Semua yang Anda pernah lakukan di masa lalu sudah diampuni. 2 Korintus 5:17 mengatakan, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu