13 Feb 2011 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2011
Bagaimana kita bisa menjadi benar?
13 Februari 2011

Kita sedang mempelajari Matius 5:17-20 lagi malam ini, namun fokus kita adalah ayat 20. Namun sebelum kita melakukan itu marilah kita melihat Lukas 18. Bagian ini akan menolong kita dalam pengertian Matius 5:20.

Perhatikanlah perumpamaan yang Tuhan kita memberikan di Lukas 18:9-14, “Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini.” Berikut adalah beberapa orang yang percaya dalam diri mereka bahwa mereka benar; namun mereka membenarkan-diri, yaitu agama pencapaian manusia. Jadi untuk orang-orang seperti itu, Yesus menceritakan kisah ini.

18:10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.”

Sebagai orang Farisi, dia dianggap orang yang paling suci di masyarakat. Dalam pikirannya sendiri dia yakin itu memang benar. Dia bersyukur kepada Allah karena dia tidak seperti orang lain dan tindakannya jauh melebihi tindakan orang lain dan dia puasa dua kali seminggu. Persyaratan Perjanjian Lama adalah puasa sekali setahun, jadi berpuasa dua kali seminggu berarti 103 kali labih dari pada yang diperlukan.

Disisi lain, pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh (ayat 18:13), “bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Disini kontrasnya. Orang yang paling dihina dalam masyarakat Yahudi adalah seorang penagih pajak karena dia adalah seorang Yahudi yang bekerja untuk Roma. Dia telah memilih keuangan, ia telah meninggalkan loyalitas dan nasionalisme, bahkan agamanya, boleh dibilang, untuk uang.

Yang satu ada di tempat jauh dan dia memukul dadanya sambil berkata, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Di ayat 14 Yesus menerangkan inti ceritanya. “Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Inilah kisahnya orang buru yang masuk ke surga dan orang baik yang masuk ke neraka. Ini contoh yang tepat bagi kita yang akan mempelajari Matius 5, karena di dalam ayat inikita akan menemukan situasi yang hampir sama.

Orang biasa yang membaca kisah Lukas 18 itu mungkin tidak akan mengerti hal itu, karena kebanyakan orang memikir bahwa orang baik masuk surga dan orang buruk masuk ke neraka. Orang yang berdiri jauh-jauh, yang memukul dadanya dan mengatakan, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Mengaku dia patut masuk ke neraka.

Di sisi lain, seseorang yang tidak memeras, atau melakukan perzinahan, dan yang berpuasa dua kali seminggu, dan memberikan perpuluhan dari semua yang ia memiliki, dan merupakan orang yang super- berrohani, tentu orang yang dalam perjalanan ke surga. Kebanyakan orang di masyarakat percaya jika Anda cukup baik Anda akan masuk, dan jika Anda buruk, Anda tidak akan masuk. Namun Yesus ceritakan kisah di Lukas 18 yang mengatakan sebaliknya.

Kemudian Dia melanjutkan di Matius 5:20, “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Yang dikatakan Yesus adalah jika Anda ingin masuk surga, Anda harus lebih baik dari pada ahli-ahli Taurat dan orang Farisi.

Saya menanyakan banyak orang pertanyaan ini, “Bagaimana caranya masuk ke surga? dan mereka biasanya menjawab, “dengan menjadi orang baik.” Saya bertanya satu orang satu waktu, "Seberapa baik Anda harus menjadi?" Dia berkata, "Sangat baik." Aku berkata, "Seberapa baik sangat baik?" Dia berkata, "sangat, sangat baik."

Namun Yesus baru mengajarkan kami bahwa orang yang terbaik di Israel tidak akan masuk Kerajaan Surga. Dan orang yang paling buruk di masyarakat Israel, seorang pemungut cukai, seorang pengkhianat, pulang di benarkan. Jadi sekarang ada pertanyaan, “Seberapa baik Anda harus menjadi untuk masuk ke Surga? Apakah kriteria Tuhan?”

Dan ini khususnya yang diajarkan Yesus disini. Dan ajaran-Nya sangat radikal, dan berbeda sekali dengan guru-guru waktu itu. Guru-guru itu selalu mementingkan yang eksternal, apa yang kelihatan orang dari luar, sementara Yesus selalu membicarakan yang internal, yang hanya dapat dilihat Allah.

Dia begitu berbeda sehingga orang-orang merasa bahwa Dia itu seperti seorang revolusioner - hanyalah sebagai seorang yang ingin reformasi yang turun melalui sejarah dan membawa beberapa wahyu baru, seperti satu pengkhotbah mengembara, seorang calon Mesias seperti banyak orang lain. Pesan-Nya kedengarannya seperti suatu penyimpangan Perjanjian Lama.

Yesus mulai mengartikulasikan KerajaanNya. Setelah menetapkan bahwa Dia adalah Raja dalam empat bab pertama, Dia sekarang memulai khotbah ini. Dia ingin supaya mereka tahu bahwa pesan-Nya bukan sesuatu yang baru; Dia tidak menolak Perjanjian Lama atau memberikan mereka sesuatu yang menghilangkan atau menggantikan Perjanjian Lama itu.

Jesus mengatakan, di Matius 5: 20, “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Maksud-Nya, “ahli-ahli Taurat dan Farisi tidak hidup sesuai dengan standar Perjanjian Lama. Ini bukan standar baru, namun mereka menafsirkannya salah.” Jadi di dalam ayat-ayat luar biasa ini, Yesus meyakinkan kita bahwa Ia masih benar-benar berkomitmen kepada Perjanjian Lama.

Mengapa Tuhan memberikan kita Firman? Mengapa Dia memberikan kita berbagai macam standar? Maksudnya apa? Tujuan hukum Taurat adalah untuk memperlihatkan kepada Anda bahwa kita memerlukan kebenaran yang lebih tinggi dari pada apa yang kita bisa mencapai dengan kekuatan sendiri, itulah intinya.

Tujuan hukum Taurat itu adalah untuk menunjukkan kepada kita bahwa yang terbaikpun di Israel, yaitu ahli-ahli Taurat dan orang Farisi dengan semua hiasan-hiasan agama mereka, dengan upacara dan ritual - tidak bisa mendapatkan kebenaran yang diperlukan untuk masuk ke dalam Kerajaan. Hukum Taurat bukan untuk menunjukkan kebaikan kita, namun untuk menunjukkan keburukan dan kekurangan kita.

Galatia 3:24 menjelaskan hal ini dengan pernyataan, “Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman.” Hukum Taurat itu seperti guru sekolah, atau yang mendisiplin kita, untuk menunjukkan bahwa kita tidak dapat menghasilkan ini dengan tenaga sendiri dan setelah itu membawa kita kepada Kristus.

Karena itu orang yang berdiri di pojok di Lukas 18, sambil memukul dadanya dan berkata, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini,” pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah, karena dia merespon kepada apa yang hukum Taurat itu ingin menunjukkan kepadanya, yaitu dia orang berdosa. Sedangkan, orang Farisi itu, yang begitu benar-diri, tidak memahami makna hukum Allah sama sekali, karena ia tidak pernah menanggapi cara yang dimaksudkan Tuhan.

Jadi ini sebenarnya tema seluruh khotbah-Nya di Matius 5-7, yaitu kebenaran sejati. Perjanjian Lama memberikan kita standar mutlak hukum Taurat. Jaid khotbah indah ini, dari Sabda Kebahagiaan sampai kepada ilustrasi akhir di bab 7 ini tentang rumah yang dibangun di pasir dibanding batu karang, adalah suatu khotbah yang luar biasa tentang kebenaran yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan.

Ada kalanya beberapa orang setelah dibaptis memberi kesaksian bahwa selama bertahun-tahun mereka menjadi sebagian dari suatu sistim. Mereka pergi ke gereja dan ada beberapa yang mengatakan mereka setia sekali. Mereka ikut semua upacara dan sebagainya namun tidak pernah mereka mengerti realitas maknanya. Dan itu bisa saja terjadi pada siapapun di gereja, dimana Anda menggantikan substansi dengan upacara.

Jadi hukum Taurat itu datang untuk menunjukkan bahwa manusia yang terbaikpun tidak sanggup masuk kedalam Kerajaan Allah. Orang yang paling baik hati dan yang terbaik, yang paling mulia, yang paling religius, jika mereka bergantung pada kebaikan mereka sendiri mereka tidak dapat masuk Kerajaan.

Marilah kita melihat sebentar ke Matius 5:3 dan marilah kita mengingatkan diri apa yang dikatakan Yesus pada permulaannya, “Berbahagialah orang yang miskin kerohaniannya (bukan dihadapan Allah), karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Sistem agama pada waktu itu tidak miskin dalam roh, tetapi bangga, sombong, arogan, merasa bahwa mereka telah tiba secara rohani, dan ini adalah malah kebalikan dari itu.

Yesus datang dan mengatakan, “Tidak! Hanya pada saat Anda sadar akan kemalangan Anda sendiri dan datang kepada-Ku. Hukum Taurat bukan didirikan bagi Anda untuk memperlihatkan kebaikan Anda, itu didirikan untuk membuktikan betapa buruknya Anda karena Anda tidak sanggup menaati hukum.” Dan itu benar bagi kita semua.

Orang Farisi dan ahli Taurat memikir mereka begitu baik, pastilah ada sesuatu yang salah dengan hukum Taurat itu, jadi mereka merubahkannya. Mereka bikin banyak tradisi rabbi yang mereka dapat lakukan. Jadi berdasarkan konsep teologis bahwa, “Kita baik,” mereka menurunkan standar untuk diri mereka sendiri. Disisi lain pendosa di pojok, yang memukul dadanya, menerima standar ilahi itu dan mengerti bahwa dia tidak dapat mencapainya.

Siapakah ahli-ahli Taurat dan orang Farisi itu? Jika kita harus memiliki kebenaran yang melebihi mereka, kita perlu tahu siapakah mereka. Ahli-ahli Taurat adalah mereka yang selalu berurusan dengan hukum, yang menafsirkan hukum dan yang mencatat hukum itu. Merekalah yang selalu bergumul dengan hal-hal hukum Taurat yang mendalam.

Selain dari itu, ada ahli-ahli Taurat lainnya, para ahli Taurat upacara, atau para ahli penyembahan, dan mereka selalu terlibat dalam mempelajari Perjanjian Lama dan menentukan apa yang dikatakan. Pada mulanya mereka berasal dari suku Levi. Mereka benar-benar memberikan seluruh hidup mereka untuk mempelajari Perjanjian Lama dan cukup luar biasa mereka tetap berakhir dengan kesimpulan yang salah.

Orang mungkin berkata, “Semua orang yang ada di dalam sistim-sistim aliran agama lain yang mengatakan mereka Kristen – yaitu orang liberal, sekte-sekte dan semua yang lain – mereka juga mempelajari Alkitab.” Benar, sama dengan ahli-ahli Taurat dan mereka semua akhirnya menyimpulkan sesuatu yang salah. Sama juga dengan orang Saduki dan sama dengan orang Farisi. Mereka semua mendapat jawaban yang salah, jadi jangan heran jika hal itu terjadi sekarang juga.

Bagaimana dengan orang Farisi? Didalam agama Judaisme, ada banyak sekte-sekte. Kata ‘Farisi” datang dari kata-akar yang berarti “memisahkan”. Mereka adalah separatis, yang pada dasarnya orang yang super-legalis zaman itu. Mereka memisahkan diri dari semua orang.

Mereka memisahkan diri dari semua bangsa-bangsa lain – mereka tidak mau berdekatan dengan salah satu karena mereka tidak mau dinajiskan. Mereka juga memisahkan diri dari orang Yahudi lain yang dibanding mereka hidupnya kurang memerhatikan hukum Taurat. Jadi orang Farisi itu meninggikan diri mereka sebagai suatu kelompok yang super-spesial karena menurut mereka hanya merekalah yang tahu artinya berjalan bersama Tuhan.

Orang Farisi berbeda dengan ahli-ahli Taurat karena mereka tidak khususnya mempelajari hukum Taurat, mereka hanya mengembangkan suatu sistim upacara, mereka mengembangkan suatu sekte. Jadi ahli-ahli Taurat bisa saja menjadi orang Saduki atau orang Farisi. Orang Farisi mengambil Firman Tuhan dan membikin suatu sistim upacara yang kaku, yang penuh ritual, yang lebih didasarkan pada tradisi dari pada hukum Allah. Mereka tahu mereka tidak sanggup menjalankan hukum Musa.

Orang Farisi mengembangkan banyak sekali peraturan yang mereka sendiri mencoba menjalankan. Mereka bahkan meyakinkan diri mereka bahwa Allah tidak memiliki siapa pun yang lebih baik di dunia, jadi jika ada orang yang akan masuk ke surga, pastilah itu mereka. Bahkan, orang Yahudi memiliki pepatah yang mengatakan, "Jika hanya ada dua orang yang pergi ke Surga, yang satu adalah ahli Taurat dan yang lain adalah seorang Farisi."

Mereka bergantung kepada apa untuk keselmatan mereka? Seorang ahli Taurat atau orang Farisi itu tergantung pada sistem eksternal pencapaian manusia, "Lihat apa yang telah kulakukan! Aku tidak melakukan itu, saya melakukan ini, aku berpuasa dua kali seminggu, memberi persepuluhan dari semua yang saya miliki," dan sebagainya. "Kami terlihat suci dari luar karena kami telah mengembangkan sistem ini."

Mereka tidak ikut perzinahan, pencurian, pembunuhan, penyembahan berhala, namun mereka memiliki banyak pikiran yang tidak suci dan buruk dan mereka sangat iri hati atas milik orang dan mereka sering benci orang dan hati mereka dingin terhadap Tuhan. Hati mereka di dalam kacau semua namun dari luar mereka kelihatannya baik.

Saudara-saudara yang kekasih, selidikilah hati Anda sendiri, karena gampang sekali kita ikut semacam agama pura-pura saja. Sangat mudah untuk hanya melakukan gerakan doa, membaca Alkitab, menghadiri gereja, pergi mempelajari Alkitab bersama, tanpa ada sesuatupun yang terjadi di dalam hati Anda. Hidup kita bisa saja menjadi dangkal dan itu sangat berbahaya.

Karena itu ketika mereka menanyakan-Nya, “Apakah perintah paling utama?” Dia tidak memberikan mereka suatu hal eksternal yang mereka harus ikuti, Dia mengatakan, “Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu, jiwamu, segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Inilah hukum pertama dan yang utama.”

Kebenaran mereka bukan saja eksternal namun juga parsial. Matius 23:23 mengatakan, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan, belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain janganlah diabaikan.”

Dengan kata lain, “nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta kamu telan.” Pada waktu itu jika mereka mau minum sesuatu, mereka ada saringan kecil untuk mengeluarkan agas atau binatang kecil, namun mereka menelan unta seluruhnya.

Maksudnya ini hanya sebagian saja, mereka hanya melakukan apa yang mereka bisa lakukan tanpa mengingat yang lain. Ini agama berdasarkan upacara, yang dirubah berdasarkan kemampuan mereka. Dengan menjalani tradisi yang mereka bikin sendiri, mereka pikir mereka melayani Tuhan. Namun mereka tidak mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan mereka. Mereka hanya mementingkan diri.

Arti kebenaran mereka juga dirubah. Mereka bikin peraturan mereka sendiri dan akhirnya mereka merubahkan semuanya. “Iya itu yang dikatakan Allah, namun kita pikir maksud-Nya adalah ini,” jadi mereka bukannya menaati perintah Allah dengan seksama, mereka merubahkan semuanya menjadi salah.

Bagaimana dan dimana kita mendapatkan kebenaran tulen? Marilah kita kembali kepada Galatia 2:16, “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: "tidak ada seorangpun yang dibenarkan" oleh karena melakukan hukum Taurat.”

Jadi kita dibenarkan oleh iman kepada Kristus. Dikatakan di Roma 8:4, “Melalui Kristus tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita.” Wah, kalau ini tidak mempegaruhi Anda, maka Anda tidak peduli kebenaran yang terbesar di seluruh Alkitab. Allah telah menetapkan standar yang kita tidak mungkin bisa mencapai, tetapi kemudian memberikan kita pemenuhan standar itu sebagai hadiah jika kita percaya dalam Yesus Kristus.

Betapa baiknya manusia harus menjadi untuk bisa masuk surga? Dia harus sama baiknya dengan Allah, dan bagaimana caranya menjadi sama baiknya seperti Allah? Hanya dengan satu cara: Jika Allah memberikan Anda kebaikan-Nya. Bagaimana caranya Allah memberikan Anda kebaikan-nya? Ketika Anda menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, Alkitab mengatakan bahwa kebenaran Kristus diperhitungkan kepada Anda. Bukankah itu luar biasa?

Periksalah hidup Anda. Apakah Anda sungguh benar, atau itu hanya sebuah ritual? Apakah Anda benar- benar mengenal Yesus Kristus atau Anda mengandalkan kebaikan Anda sendiri? Standarnya adalah iman kepada Yesus karena surga adalah milik Allah, Dia menentukan persyaratannya dan Anda hanya bisa merespon saja. Anda bisa masuk jika Anda mengikuti persyaratan-Nya kalau tidak Anda tidak boleh masuk. Saya memohon Anda menerima Dia. marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu