06 Feb 2011 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2011
Bagaimana Allah menilai kehidupan Anda?
6 Februari 2011

Bukalah Alkitab Anda ke Matius 5:17-20, dan malam ini marilah kita membagikan bersama suatu pesan pembukaan dari sebagain Kitab Suci yang paling indah yang dapat kita pelajari. Kita berhenti sebentar dari pelajaran 2 Petrus karena bagian ini mengajarkan kita dengan seksama bagaimana kita dapat melawan guru-guru palsu itu dengan kehidupan yang benar.

Tuhan kita mengatakan, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. 18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. 19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. 20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”

Sebelumnya kita mulai melihat bagian Alkitab ini, marilah kita melihatnya dulu dalam konteks. Ini terdapat di dalam Firman langsung sesudah Khotbah di Bukit di Matius 5 dan setiap pelajaran baru dari Yesus mengalir indah sekali dari ajaran-ajaran sebelumnya.

Dan ini sama dengan Matius 5:17-20. Yesus mulai di Matius 5:3-12 dengan menggambarkan karakter orang- orang percaya sebagai anak-anak Allah. Dan ayat 13-16 mengajarkan kita bagaimana orang percaya harus hidup sebagai garam dan terang dalam dunia yang korup dan gelap.

Dan sekarang di ayat-ayat 17-20 kita melihat Tuhan mengajarkan kita kualitas-dalam dari karakter yang kita perlu memiliki supaya kita bisa berfungsi sebagai garam dan terang Tuhan. Dan Yesus mengatakan kepada kita bahwa fondasinya adalah Firman Tuhan, standar satu-satunya kebenaran . Dan Allah telah menentukan Taurat-Nya yang mutlak dan telah memberikan itu kepada kita.

Orang–orang selalu mempertanyakan hal ini dalam Kekristenan. Banyak orang mengatakan, “Kamu tidak sadar ya bahwa keadaan sekarang sudah berubah banyak. Alkitab itu tidak cocok lagi dengan situasi sekarang.” Jawabnya adalah, “Itu salah, keadaan sekarang telah dibicarakan banyak di Alkitab. Orang sekarang hidup tidak benar sama seperti orang dulu, dan satu-satunya jalan keluar ada di dalam Kitab Suci.”

Banyak orang muda mengatakan, “Itu hanya penterjemahan Anda. Setiap orang ada penterjemahannya sendiri, dan begitulah caranya Anda mengertinya.” Yang benar adalah jika Alkitab memperhadapkan Anda dimana Anda tidak mau diperhadapkan, Anda mengatakan, “Alkitab itu kuno atau “Alkitab itu perlu di terjemahkan kembali.”

Orang sekarang ingin menterjemahkan Alkitab kembali karena mereka tidak mau menerima otoritasnya. Pasal- pasal yang dulunya mereka percaya dituliskan Allah sekarang mereka bilang ditulis seorang guru Yahudi yang menambahkannya. Bagian-bagian Firman Allah yang mereka tidak bisa menerima, mereka menterjemahkan kembali menjadi sesuatu yang mereka ingin firman itu katakan. Mereka katakan, “itu kultur dulu dan tidak ada hubungannya dengan keadaan sekarang.

Yesus mengatakan sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Dia tidak menghilangkan atau meniadakan suatu bagianpun, dan siapapun yang mengajarkan orang lain untuk tidak mematuhi perintah terkecil dalam Alkitab akan menjadi paling rendah di dalam Kerajaan Surga. Tidak ada satu hal yang berubah di dalam Alkitab, tidak satupun.

Firman Allah begitu penting karena disini Tuhan kita mengajarkan kita bahwa kita memiliki suatu otoritas yang mutlak, yang tidak dapat dirubah. Itulah pandangan Yesus dan karena itu harus juga menjadi pandangan kita. Dalam bagian ini Yesus memberikan kita pandangan-Nya tentang Perjanjian Lama. Yesus mengatakan Dia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya.

Coba lihat, masalahnya adalah Yesus itu kedengarannya tidak seperti orang Farisi dan Dia kedengarannya tidak seperti ahli Taurat. Dia tidak terdengar seperti orang yang mereka dengar di waktu itu, dan reaksi alami mereka adalah untuk bertanya-tanya apakah Dia benar nabi Perjanjian Lama atau tidak. Ia menolak untuk mengidentifikasikan diri dengan salah satu sekte zaman itu.

Dia tidak mengikuti semua tradisi guru rabbi dan Dia mengabaikan semua peraturan ekstra dan legal. Jadi orang- orang menanyakan diri, “Apakah Dia menghilangkan semua peraturan Hukum Musa? Apakah Dia menghilangkan semua fondasi-fondasi untuk membangun sesuatu yang baru?” Karena bukankah itu caranya kebanyakan pemimpin revolusi lain memutuskan semua hubungan dengan masa lalu dan melakukan semua yang mereka bisa lakukan untuk memutarbalikkan tradisi sebelum itu?

Sekarang disini Yesus menjelaskan semua itu. Yang Dia katakan sebenarnya adalah, “Ini semua bukan sesuatu yang baru. Saya akan mengulang semua itu kembali kepada Anda dan saya akan menggenapkan semua hukum Perjanjian Lama. Saya tidak akan meniadakan satu iota atau satu titikpun dari hukum itu sampai seluruh hukum itu digenapkan.”

Jadi yang dikatakan Yesus itu lansung bertentangan dengan pemikiran mereka. Di permukaan tampaknya tradisi membuat hukum lebih keras, tetapi dalam kenyataannya para rabbi dan ahli Taurat membuatnya lebih mudah, karena apa yang mereka menekankan adalah ketaatan eksternal saja. Yesus tidak akan menurunkan standar; Ia memeliharanya di tempat miliknya dengan ketaatan hati dan iman kepada Allah.

Malah, Yesus memiliki komitmen yang lebih besar kepada hukum Allah dari pada para ahli Taurat dan Farisi yang paling teliti. Firman Allah memberikan kita pedoman, prinsip-prinsip dan persyaratan. Bagaimana kita bisa benar- benar hidup kehidupan yang benar, bagaimana kita bisa hidup Sabda Bahagia, bagaimana kita bisa menjadi garam dan terang? Tentunya bukan dengan menurunkan standar hukum Allah dan bukan dengan mengatakan itu tidak berlaku lagi.

Jadi bagaimana kita bisa menjadi semua yang kita harus jadi? Jawabannya adalah dengan menaati prinsip- prinsip Allah ketaatan mutlak kepada Firman Tuhan yang benar-benar berwibawa. Yang berbeda dengan teologi rabi dan ahli-ahli Taurat dari hari itu, di mana mereka hanya mematuhi apa yang mereka ingin menaati.

Ini adalah pemikiran yang kuat bahwa kunci kehidupan yang benar adalah menaati Firman Tuhan. Karena itu Yesus mengatakan di ayat 20, “Jika kebenaranmu tidak melebihi kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Mengapa? Karena ketaatan mereka adalah eksternal dan berdasarkan tradisi manusia, sementara "milik Aku," Ia berkata, "bersifat internal, berdasarkan hukum kekal dari Allah."

Ketika Yesus datang, Dia tidak mengakhiri Perjanjian Lama, Dia hanya menyatakan kembali karakternya yang mutlak dan mengikat. Orang-orang berkata, “Ketika Yesus berkata, “Kamu telah mendengar yang difirmankan, namun Aku berkata kepadamu...” bukankah Ia menambahkan kepada Perjanjian Lama? Tidak. Yesus hanya menyatakan kembali maksud Tuhah dari permulaan karena para rabbi telah menyesatkan Perjanjian Lama sehingga Dia harus menaikkan standar itu kembali ke tempatnya permulaan.

Yesus mengatakan kepada mereka untuk mengabaikan hari Sabat; Dia dengan sengaja menghilangkan tradisi mereka dan perpuluhan mereka dalam hal-hal kecil; Dia mengejek cuci tangan terus menerus mereka. Dia mengabaikan hukum lisan dan hukum tulis mereka; Dia menafsirkan hukum tertulis itu dengan cara yang sama sekali berbeda daripada yang mereka lakukan. Dia berbicara dengan otoritas besar, namun Dia tidak pernah merubahkan Perjanjian Lama.

Jika Anda menjadi orang Kristen sekarang, Allah tidak menyisihkan prinsip-prinsip-Nya. Mereka tetap sama. Malah, Yesus mengangkat Taurat dan Perjanjian Lama sebegitu tingginya sehingga Dia mengekspos semua orang Farisi dan ahli-ahli Taurat sebagai orang munafik, benar?

Di ayat 20, Dia mengatakan, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Dengan kata lain, “Apapun kebenaran Anda, itu harus kebenaran dalam hati Anda di dalam, dan bukan hanya suatu pertunjukan eksternal di luar.” Akhirnya di Matius 23, Dia di seluruh bab, Dia memanggil mereka munafik di ayat 13, 14, 15, 25, 27 dan 29.

Yesus membuka khotbah-Nya dengan mengatakan, “Inilah standar kebenaran-Ku, dan beginilah caranya Anda hidup di dalam dunia, dan dasarnya semua ini adalah ketaatan kepada hukum Taurat Allah yang tidak berubah.” Siapapun yang tidak hidup sesuai dengan standar Allah, yang menggantikannya dengan sistim buatan manusia, hanya palsu rohaninya.

Marilah kita meneliti artinya hukum. Apakah yang dibicarakan Yesus? Banyak orang telah membahas ini. Nah, Yesus menggunakan istilah 'hukum' dalam cara yang agak komprehensif. Ketika orang Yahudi memakai istilah itu di waktu itu, mereka mungkin memikirkan empat hal, kemungkinannya ada empat.

Pertama, ada kalanya mereka memakai istilah itu waktu membicarakan Sepuluh Perintah. Kedua, kadang mereka memakai kata itu untuk membicarakan Pentatuk, yaitu kelima buku Musa. Ketiga, kadang mereka memakai kata itu maksudnya seluruh Perjanjian Lama, namun biasanya ketika mereka memakai kata “hukum”, maksudnya adalah tradisi lisan dan tertulis yang mereka telah terima dari berbagai rabbi itu.

Dengan kata lain, Yesus telah mengatakan yang benar di Matius 15:3, “Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu? Penggunaan hukum Taurat paling umum diantara orang Yahudi di zaman Yesus adalah yang mengacu kepada ribuan prinsip-prinsip yang sangat kecil, hal-hal eksternal yang telah menggantikan hukum internal Allah.

Inilah alasannya. Misalnya, Anda percaya bahwa Anda hanya akan masuk surga kalau Anda menetapkan hukum. Namun hukum itu ada di dalam Anda, dan hukum itu memerlukan kebenaran, dan hukum itu memerlukan suatu karakter tertentu, dan Anda seseorang yang kurang baik dan Anda pada dasarnya tidak mau berubah.

Jadi Anda harus menggantikannya dengan kepatuhan eksternal. Misalnya, Perjanjian Lama mengatakan bahwa Anda tidak boleh bekerja pada hari Sabat. Jadi mereka mengatakan, OK deh, jika kita tidak boleh bekerja pada hari Sabat, kita harus menentukan apakah artinya bekerja itu, yang mereka menentukan adalah menanggung beban. Setelah itu mereka harus memberi definisi beban itu apa.

Hukum ahli Taurat mengatakan, “Beban itu adalah makanan sama dengan beratnya sebuah ara kering, arak cukup untuk mencampur dalam sebuah piala, susu cukup untuk satu telan, madu cukup untuk menempatkan pada luka, minyak cukup untuk mengurapi anggota kecil, air yang cukup untuk melembabkan sebuah salep mata, kertas yang cukup untuk menulis pemberitahuan pabean-rumah, cukup tinta untuk menulis dua huruf abjad, buluh cukup untuk membuat pena,” dan setrusnya dan seterusnya.

Mereka menghabiskan berjam-jam berdebat apakah orang bisa mengangkat lampu dari satu tempat ke tempat lain pada hari Sabat. Mereka menghabiskan waktu berdebat apakah penjahit itu berdosa ketika dia pergi keluar dengan jarum terjebak dalam jubahnya. Mereka berdiskusi besar apakah seorang wanita diperbolehkan memakai bros, karena jika itu terlalu berat itu menjadi beban. Atau apakah dia bisa memakai rambut palsu, jika itu terlalu berat, itu menjadi beban, jika beratnya lebih dari sebuah ara.

Tahukah Anda bahwa ahli-ahli Taurat itu, merekalah yang menulis semua itu, dan orang Farisi adalah mereka yang mencoba mengikutinya. Di waktu Yesus untuk orang Yahudi Ortodoks yang ketat, hukum itu adalah masalah legalistik ribuan adat dan peraturan. Jadi waktu Yesus datang dan mengatakan, “Saya bukan datang untuk meniadakan hukum Taurat,” maksud-Nya bukan ribuan adat dan peraturan kecil itu.

Hukum Allah bukan sesuatu yang berubah bergantung kepada pendapat manusia, yang terbentuk berdasarkan keinginan masyarakat yang berganti-ganti. Hukum Allah bukan sesuatu yang selalu di sesuaikan dosa apapun yang terjadi di masa itu. Hukum Taurat Allah tidak pernah berubah.

Kita dapat membagi hukum Allah menjadi tiga bagian: hukum moral, hukum peradilan, dan hukum upacara. Hukum moral berlaku bagi semua orang, hukum peradilan berlaku hanya bagi orang Israel dan hukum upacara adalah bagi orang Israel waktu mereka menyembah Allah.

Hukum yang mana dibicarakan Yesus? Dia membicarakan ketiga hukum. Ada yang mengatakan Dia hanya membicarakan hukum moral, namun itu tidak benar. Dia datang untuk menggenapkan semuanya, apakah itu hukum moral, perkembangan dari hukum moral di Israel, hukum peradilan, atau hukum upacara atau hukum ibadah. Dia datang untuk memenuhi semuanya.

Setiap hal yang ada di Perjanjian Lama menunjuk kepada Kristus. Jadi yang dikatakan Yesus adalah, “Anda berpikir Saya akan menghilangkannya semua, dan Anda dapat hidup bebas dan gampang dan semuanya akan menjadi bagus. Saya mengatakan kepada Anda bahwa standar Allah tidak berubah. Tidak ada sebagianpun dari Firman yang suci akan dirusak atau ditiadakan, semua akan dipenuhi dan Saya sendiri akan menggenapkannya.”

Pertama, hukum Allah itu mengikat karena ditulis Allah. Kedua, hukum Allah ditegaskan oleh para nabi, dan ketiga, hukum Allah ini diselesaikan oleh Kristus. Inilah inti semuanya. Baik dalam kedatangan-Nya yang pertama, dalam kembali-Nya dalam Roh, atau dalam Kedatangan Kedua-Nya, Yesus akan memenuhi seluruh Perjanjian Lama secara upacara, secara hukum dan secara moral.

Dalam hal apa Yesus menggenapkan hukum Taurat? Ada yang mengatakan Dia memenuhinya dengan ajaran- Nya, karena ada kode yang tidak lengkap dalam Perjanjian Lama dan perlu dimensi baru, jadi Dia menambahkannya. Memang Dia memperluas dan menjelaskan hukum Taurat. Pada waktu Dia mengirim Roh Kudus melalui penulis surat-surat, Dia menjelaskan hukum Taurat itu lebih lagi. Namun bukan itu arti atau alasan “menggenapkan”.

Ada beberapa guru Alkitab yang mengatakan, “Dalam kehidupan-Nya Dia mengikuti setiap bagian hukum Allah, yang moral, yang peradilan dan yang upacara. Dia menyembah dengan cara yang benar, Dia adil dan Dia tidak pernah melanggar satupun peraturan Allah, Dia benar dengan sempurna dan Dia adalah Yang kudus mutlak, Yang kebenarannya sempurna. Dan itu benar.

Namun tetap itu bukan makna dari apa yang dikatakan disini. Ada kebenaran dalam semua ini. Dia memang menambahkan suatu pengertian baru kepada hukum Perjanjian Lama. Malah Dia mengambil seluruh hukum dan meringkaskannya menjadi satu hal, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Namun masih ada alasan lain.

Mari saya menjelaskannya kepada Anda. Dia memenuhi seluruh hukum Perjanjian Lama dengan menjadi penggenapan-Nya. Bukan dengan apa yang Dia katakan atau lakukan, namun dengan apa yang Dia menjadi. Apakah artinya itu? Dia bukan saja datang untuk menyelamatkan hukum dari penyesatan orang rabbi atau hanya menjadi contoh kebenaran. Dia datang untuk membawa kebenaran kekal dengan menjadi Mesias yang dinubuatkan hukum itu.

Allah memiliki hukum tertentu bagi Israel; yaitu hukum peradilan yang memisahkan mereka dari orang lain. Mereka memiliki hukum-hukum makanan tertentu, hukum tertentu tentang pakaian, hukum pertanian, hukum dalam hubungan mereka dengan hal-hal tertentu yang harus mereka lakukan. Semua itu memisahkan mereka dari orang lain.

Bagaimana Yesus memenuhi hal itu? Ketika Yesus mati di kayu salib itu merupakan penolakan Israel yang penuh dan terakhir dari Mesiasnya, benar? Itulah kejadiannya. Itulah akhirnya Allah berurusan dengan bangsa itu sebagai bangsa. Hukum peradilan kepada Israel berakhir pada saat Allah tidak berurusan lagi dengan mereka sebagai suatu bangsa dan Yesus mulai membangun gereja-Nya.

Pada suatu hari Allah akan kembali dan menebus bangsa itu lagi dan berurusan lagi dengan mereka sebagai satu bangsa. Namun untuk waktu ini, ketika Yesus mati di kayu salib, hukum peradilan itu berhenti. Bangsa Allah nasional sudah tidak ada lagi. Umat baru diciptakan, yang terdiri dari orang Yahudi dan orang bukan Yahudi, yang dinamakan gereja.

Bagaimana dengan hukum upacara? Bagaimana Dia memenuhi itu? Dia melakukan itu dengan mati di kayu salib. Dan pada saat Dia mati, seluruh hukum upacara itu berhenti. Malah ketika Dia mati, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah, dan Tempat Mahakudus itu sampai terbuka.

Yesus mengakhiri sistim upacara dan kita tidak lagi menyembah Allah dengan darah lembu dan kambing. Kita tidak lagi menuruti semua upacara dan sebagainya. Dan hanya beberapa tahun kemudia setelah Dia meninggal Dia mengizinkan orang Romawi untuk masuk dan menghancurkan bait ibadah itu secara total. Seluruh sistim pengorbanan itu jatuh setelah Dia mati, semuanya selesai.

Jadi hanya ada satu bagian dari hukum Allah yang masih berlaku, yaitu hukum moral, yang menopang seluruhnya. Dan itu akan bersama kita sampai waktunya kita melihat Dia muka ke muka. Dengan kata lain, yang tidak mampu dilakukan hukum, dilakukan oleh Kristus. Dia mengakhiri gambaran itu karena Dialah realitasnya.

Lihatlah Kemah Suci, apakah yang digambarkannya? Kemah Suci itu ada pintunya. Kristus mengatakan, “Akulah pintu.” Kemah Suci itu lampunya, Kristus mengatakan Dia adalah Terang dunia. Kemah Suci ada rotinya, Yesus mengatakan Dialah roti. Ada tempat duduk pendamaian, Dia mengatakan, “Akulah tempat duduk pendamaian.” Semuanya menggambarkan Dia.

Pokoknya Yesus memnuhi setiap bagian hukum. Dan karena Dia memenuhi seluruh Hukum Taurat, Anda dan saya juga bisa memenuhinya. Karena Dia benar dengan sempurna, karena Dia memenuhi kebenaran, Anda dan saya dapat melakukan itu juga. Roma 8:4 mengatakan, “supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.”

Apakah Anda telah menemukan Tuhan Yesus Kristus dan memberikan hidup Anda kepada-Nya? Dia satu- satunya yang dapat memberikan Anda standar mutlak bagi hidup Anda dan menyebabkan Anda hidup benar yang dengan kekuatan sendiri tidak mungkin. Hanya Dia dapat memungkinkan Anda memenuhi hukum Allah dan hanya Dia dapat memberikan Anda kekuatan yang diperlukan untuk memiliki karakter yang diperlukan.

Jika Anda masih belum menerima-Nya, bukalah hati Anda dimanapun Anda duduk dan biarkanlah Yesus masuk kedalam hidup Anda. Terimalah Dia sebagai Juruselamat Anda dan Tuhan Anda, supaya Dia memnuhi hukum Allah melalui Anda dengan kekuatan-Nya. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu