19 Sep 2010 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2010
Apakah kita benar diselamatkan?
19 September 2010

“Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang dengan kami memperoleh iman yang sama berharga oleh karena kebenaran Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. 2 Kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita.”

Anda tahu, setiap guru baik mengenal satu hal mengenai murid‐muridnya. Mereka akan lupa apa yang Anda ajarkan mereka. Tahukah Anda mengapa guru itu tahu hal itu? Karena guru sendiri melupakan hal‐hal. Ada kalanya saya harus melihat khotbah lama untuk melihat penterjemahan beberapa ayat. Dan setiap guru tahu bahwa kita harus mengajar dengan mengulangi.

Namun guru itu bukan saja tahu muridnya suka lupa, dia tahu juga bahwa mereka dapat menjadi begitu akrab dengan hal rohani sehingga hati mereka tidak mendengarnya. Dan hal‐hal yang didengar tidak masuk ke hati dan tidak menyebabkan Anda berubah.

Dengan kata lain, jika kita mengajarkan kebenaran yang sama dengan perkataan yang sama, mereka pikir mereka sudah tahu dan karena tidak memahaminya. Jadi kita harus mengajar kebenaran yang sama dengan cara lain. Dan begitulah caranya kita memperingati orang. Jadi, kita harus selalu mengatakan kepada Anda hal‐hal yang ada di dalam Firman Allah dengan cara yang segar dan menarik dan vital.

Sekarang, saat kita menyelidiki bab pertama dari 2 Petrus, saya ingin Anda berfokus, karena Anda perlu mengingat. Sekarang marilah saya membesarkan konsepnya. Kita berfungsi berdasarkan otak kita. Allah telah memberikan kita tubuh dan kita berfungsi memakai otak itu.

Dalam beberapa dari kita otak kita kurang menakjubkan dari pada orang lain, tapi tetap, kita semua memilikinya. Otak kita adalah hadiah dari Allah. Itu memberikan kepada kita kapasitas rohani yang sangat penting. Semuanya yang kita dengar, melihat atau mengalami di dalam hidup kita disimpan di dalam sel‐sel otak Anda.

Sekarang Allah telah memberikan Anda kapasitas untuk hidup dengan kebenaran rohani karena kita tidak dapat mengatakan, “Waduh, saya sudah mencoba belajar semua ini, namun sel‐sel otak saya sudah penuh. Tidak ada sel lagi yang masih kosong.” Anda ada kapasitas untuk menerima semua itu dan semua sudah disimpan di situ.

Saya belajar bahwa meskipun semua itu di simpan di dalam otak, jika Anda mengingatnya dan Anda mempelajarinya lagi dan Anda mengapplikasikannya, Anda memperbesar kapasitas untuk menyimpan informasi itu. Jadi semakin banyak Anda memakai sesuatu dan semakin banyak Anda mendengarnya dan semakin kita applikasikannya, semakin besarnya itu menjadi bagian dari proses pemikiran Anda.

Jadi jika Anda mendengar dan merespon kepada Firman Allah, itu mulai menguasai bagain yang makin lama makin besar dari otak dan proses pemikiran Anda. Dan kita semua memiliki kapasitas itu. Malah, ada yang mengatakan bahwa kita hanya memakai sepuluh persen dari otak kita.

Saya sering berdoa kepada Allah, “Oh Tuhan tolonglah saya memakai lebih banyak lagi dari otak saya.” Karena ada kalanya saya merasa saya sudah memakai segalanya yang ada disitu. Namun saya yakin kita malah masih belum memakai segalanya yang Tuhan menciptakan disana.

Jadi Allah telah menciptakan kapasitas fisik kita untuk menjalankan semua kebutuhan rohani kita. Kita harus diberi tahu untuk mengingat dan Allah telah memberikan kita kemampuan untuk hal itu. Kita semua memiliki kapasitas untuk mengingat yang sangat baik. Namun, berkali‐kali di dalam Firman Allah nabi‐nabi di panggil untuk mengajarkan umat‐Nya untuk belajar mengingat.

Kita sebagai orang perlu didorong, untuk semacam di kagetkan, untuk membuat Anda ingat. Dan jika aku bisa melayani tanpa tujuan lain selain untuk membuat Anda ingat, aku merasa aku melayani tujuan tertinggi yang Allah telah tujukan kepada saya.

Pertama, Tuhan ingin supaya saya mengkonformasikan kebenaran ini, dan membiarkan Anda tahu hal‐ hal ini dan kemudian terus mengingatkan memori Anda sehingga Anda tidak pernah melupakan itu. Dan semakin banyak kita lakukan itu, semakin kita pikirkan hal‐hal itu dan Anda menemukan waktu Anda bertumbuh menuju kedewasaan rohani bahwa respons rohani Anda yang benar keluar begitu saja.

Jadi apakah yang perlu kita ingat, Petrus? Pertama, marilah kita lihat nomor satu, kenyataan keselamatan kita, yang terdapat di dalam ayat 1 dan 2. “Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama‐sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. 2 Kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita.”

Nah, kedua ayat itu mengajarkan kita tentang keselmatan. Perhatikanlah istilah‐istilah seperti “iman, kebenaran, Juruselamat, kasih karunia, damai sejahtera, pengenalan akan Allah,” semua itu istilah keselamatan. Petrus disini mengacu kepada penebusan kita. Dan dia memanggil kita, antara lain, untuk mengingat realitas keselamatan kita.

Ini mudah dilupakan ketika kita sibuk dengan hal‐hal sehari‐hari. Anda mengatakan, “Ah saya tidak mungkin akan melupakan bahwa saya diselamatkan.” Benar, tetapi yang saya bicarakan bukanlah memikirkan ide keselamatan itu secara teknis, yang saya membicarakan adalah semua akibat keselamatan itu yang seharusnya mempengaruhi Anda.

Orang Kristen dapat menjadi begitu pilih‐pilih, mementingkan hal kecil, dan kadang‐kadang begitu kritis sehingga mereka hanya dapat menemukan semua hal‐hal kecil yang mereka tidak suka tentang orang lain sampai mereka melupakan kebesaran penebusan mereka sendiri dan mereka semua marah‐marah tentang hal‐hal kecil.

Dan memikirkan gereja kecil kita, saya tidak bisa melihat masalah‐masalah yang ada, hal‐hal yang kecil, hal‐hal yang picky, perselisihan‐perselisihan atau apa saja. Maksud saya, saya malah tidak mau memperhatikan itu atau memikirkan itu.

Saya hanya dapat merasakan kemuliaan dan kebahagiaan dari kepenuhan persekutuan disini. Saya pikir kadang‐kadang kita kehilangan perspektif kita dalam keselamatan. Saya pikir kadang kita tidak bisa melihat hutan besar karena kita hanya memperhatikan satu pohon. Jadi Petrus ingin mengingatkan Anda bahwa Anda telah memiliki iman yang sangat berharga.

Sekarang apakah artinya ini? Marilah kita melihat istilah‐istilahnya. Kata “memperoleh,” sebenarnya konsep kata kerja itu adalah menerima oleh penjatahan. Ini bukan sesuatu yang diambil melainkan sesuatu yang diberikan kepada Anda. Dia mengatakan saya menulis kepada kamu yang telah memperoleh iman sebagai suatu hadiah ilahi. Ini konsep yang sangat luar biasa.

Tahukah Anda, Anda memiliki iman manusia dasar. Maksud saya, Anda memiliki iman yang diperlukan untuk mengaktifkan pengapian Anda dan tahu bahwa mobil Anda jalan tetapi itu tidak akan meledak. Anda memiliki iman untuk makan di restoran walaupun Anda tidak mengenal kokinya dan belum pernah masuk dapurnya. Anda memiliki iman untuk melakukan banyak hal dalam kehidupan. Anda memiliki iman untuk memasukan uang Anda ke dalam bank. Dan semua ini adalah iman manusia alamiah.

Namun iman macam ini tidak akan menebus siapapun juga. Iman yang menyelamatkan adalah hadiah dari Tuhan oleh penjatahan ilahi. Iman yang dibicarakan di dalam ayat 1 adalah iman yang menebus, iman yang menyelamatkan. Dan kita telah menerima iman macam itu yang menyelamatkan dari Allah.

Saya harap Anda tidak melupakan bahwa Allah tidak diwajibkan untuk memberikan hal itu kepada Anda akan tetapi dalam keberdaulatan yang misterius dan luar biasa itu, Dia telah melakukan itu. Saya melihat ini dan mengatakan, “Oh Tuhan, bagaimana aku bisa menemukan kata‐kata yang cukup untuk mengucapkan terimakasih pada Engkau untuk hadiah iman yang menyelamatkan yang diberikan kepada saya dan orang‐orang ini?”

Tahukah Anda, itu telah tertulis dalam Efesus 2:8, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu.” Apakah yang bukan hasil usaha kita? Iman, Allah memberikan Anda iman yang menyelamatkan itu dan menurut Roma 10:17, “iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Iman adalah hadiah Allah yang diberikan pada waktu merespon kepada injil Kristus.

Di dalam Kristus kita semua berdiri sama rata, benar? Tidak peduli siapakah Anda, tidak peduli betapa pintarnya atau bodohnya, tidak peduli seberapa berbakat fisik atau tidak, tidak peduli seberapa terpelajar atau bodoh, tidak peduli kaya atau miskin, kita semua telah menerima iman yang menyelamatkan yang sama nilainya dan yang memberikan kita hak yang sama di hadapan Allah.

Mengapa dan bagaimana caranya? Ingatlah ayat 1, “oleh karena kebenaran Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.” Dan banyak sekali dari pengertian itu bergantung kepada konteksnya. Paulus memakai cara pengadilan untuk membicarakan kebenaran total, yaitu sifat Allah. Petrus memakainya khususnya untuk menjelaskan keadilan Allah dalam penghakiman. Dan itu khusus artinya disini.

Ingatlah ini, alasannya kita semua telah menerima iman yang nilainya sama dan alasannya kita semua telah memerima kehormatan yang sama adalah karena kita mempunyai Allah yang adil yang tidak membedakan orang. Dengan Allah, kata Alkitab, manusia tidak dibedakan. Orang mengatakan, “Saya ingin menjadi orang Kristen seperti Rasul Paulus.” Saya mau memberu tahu kan Anda, Anda memang seperti Paulus. Itu benar, kita semua seperti Paulus.

Coba lihat lagi ayat 1, “mereka yang dengan kami memperoleh iman yang sama berharga.” Siapakah “kami” itu? Petrus dan Para Rasul. Anda dihormati sama dalam iman yang menyelamatkan itu, kedudukan Anda sama tingginya, Anda adalah penerima keadilan Allah sama seperti Rasul. Anda memperoleh iman yang sama dengan kami.

Kita semua sama‐sama orang berdosa. Jadi Tuhan tidak membedakan banyak di antara kami. Dia memberi kita belas kasihan dan kasih karunia‐Nya yang sama. Setiap kali saya melihat seorang percaya kecil hati, “Ya, saya tidak tahu apakah saya mampu dengan apa yang disediakan bagi saya,” saya ingin mengingatkan mereka bahwa kita semua telah menerima yang sama yang di terima rasul Paulus, jadi nikmatilah itu. Anda sama berharganya untuk Tuhan dengan semua orang lain yang masuk ke dalam kerajaan‐Nya.

Dan di ayat 2, “Kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita.” Sekarang dengarkanlah, keselamatan, berdiri sama rata di hadapan Allah itu diberikan kepada kita melalui penjatahan ilahi, dan ini dilimpahkan kepada kita anugerah atas anugerah dan damai atas damai. Namun itu hanya terjadi saat ada pengenalan akan Allah.

Dengan kata lain, jika ayat 1 adalah ayat Tuhan, maka ayat 2 adalah ayat kita. Allah telah melakukan bagian‐Nya dan kita perlu merespon dengan bagian kita, kita perlu ada pengenalan. Kita perlu sungguh‐ sungguh mengenal Kristus. Bukan saja tahu nama‐Nya, kata pengenalan disini berarti pengenalan yang mendalam, penuh, kaya dan sejati.

Tahukah Anda apa gunanya itu? Ini menghilangkan pengetahuan yang dangkal, benar? Ini menghilangkan pengertian Yesus itu hanya guru baik, atau anugerah murah, kepercayaan yang gampang. Apakah Anda ingat khotbah kemarin di Matius 7:23 betapa banyaknya orang yang mengatakan, “Tuhan,Tuhan,” dan Dia menjawab, “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada‐Ku.”

Banyak sekali hal dangkal. Namun dia mengatakan saat ada pengetahuan mendalam, pasti disitu ada iman sejati. Dan ini hanya sebagian saja. Apakah pengetahuan Allah yang mendalam dan penuh dan kaya? Ayat 1 mengatakan, “Juruselamat kita Yesus Kristus,” dan ayat 2 mengatakan, “Yesus, Tuhan kita.”

Petrus menulis kepada orang‐orang yang mengaku mereka mengenal Kristus, yang mengaku mereka memiliki pengetahuan akan Kristus, namun yang terus ber prilaku tanpa moral. Dan dia, pada dasarnya, mungkin menggunakan kata pengetahuan karena mereka sendiri menggunakannya. Dan dia memakai konten Kristen asli ke dalamnya dan mengatakan bahwa Anda lebih baik memiliki pengetahuan asli.

Jadi kepercayaan seseorang sangat mempengaruhi caranya mereka berprilaku. Implikasi moral dari kesalahan itu sama menakutkannya dengan kesalahan itu sendiri. Apakah Anda mengerti tujuan saya? Berbuat salah itu satu hal, namun implikasi moral dari kesalahan itu hanya menambahkan kepada kesalahan itu. Diantara guru‐guru palsu yang terkenal ada yang bersalah dalam prilaku yang paling memalukan, termasuk imoralitas dan materialisme yang tidak tahu batas.

Orang Kristen harus menyadari bahwa beberapa pengkhotbah media karismatik dan guru‐guru memiliki sistem keyakinan yang keliru yang tidak mampu menahan dosa dan kedagingan dan malah cenderung mempertumbuhkan kebanggaan, materialisme dan kedangkalan rohani yang semua mulai dengan standar dasar mereka.

Beberapa malam lalu mendengar sebuah lagu di TV dan lagu itu banyak liriknya yang berbeda, namun satu garis menyimpulkan semuanya, “Ketika tidak ada jawaban yang ada adalah Yesus.” Dengan kata lain, ketika Anda mencoba menjalannya secara rasional dan tidak ada jawaban rasional, lompatlah kepada Yesus. Dan ini adalah semacam pengalaman emosional subyektif mistis.

Dan orang‐orang yang memilih cara subyektif untuk mengerti Firman Allah dimana mereka menterjemahkannya berdasarkan perasaan mereka dan emosi mereka dan pengalaman yang mereka sendiri mengotentasikan, mereka itu memikir mereka spiritual. Mereka pikir mereka telah naik kepada pengertian kebenaran Allah. Namun mereka salah karena mereka tidak mengerti Firman Allah.

Daripada mempelajari penterjemahan Alkitab yang hati‐hati dan teliti berdasarkan metode gramatikal historis, mereka mendekati Kitab Suci dengan intuisi subyektif yang tidak rasional seperti semacam cara impresionistis. Malah seringkali mereka menyangkal cara mengerti intelektual apapun sebagai kaku dan tidak berrohani.

Dan banyak pengkhotbah media ini dengan jutaan pengikut mereka juga merubahkan ajaran keselamatan. Contoh, Kenneth Copeland menulis di dalam majalah “Word of Truth” mengatakan. saya kutip, “Setiap orang yang telah lahir baru adalah suatu inkarnasi. Orang percaya sama inkarnasinya dengan Yesus dari Nazaret.” akhir kutipan. Dari manakah itu datangnya? Apakah ini berarti bahwa tidak ada perbedaan antara Allah yang menjadi manusia dalam Kristus dan kita?

Mereka begitu terpengaruh dengan hubungan mistik ini sehingga orang yang percaya jika menjadi satu dengan Kristus, dia menjadi Allah dalam sistem mereka. Namun Alkitab tidak pernah mengaburkan batas antara sifat manusia dan sifat Allah. Akan tetapi bagi guru‐guru ini dan pengikut mereka, pemisahan itu dihilangkan melalui pengalaman mistik: roh Anda menyentuh Roh Allah dan Anda dihisap masuk ke dalam Roh, manusia roh Anda menyentuh Roh Dia dan sekarang Anda telah mejadi serupa dengan tubuh Roh‐Nya. Ini semua tidak ada di dalam Alkitab.

Mereka bersalah di dalam beberapa kasus dengan merendahkan Yesus menjadi manusia lahir baru dan meninggikan manusia menjadi inkarnasi Allah. Pandangan mereka tentang dosa juga metafisik dan dualistic. Dosa itu adalah milik allah yang buruk yaitu Iblis dan kebenaran adalah milik allah yang baik, yaitu Allah. Padahal sifat kedagingan manusia malah di abaikan.

Nah jumlah semua ini adalah untuk memberitahu anda bahwa ada gelombang kesalahan baru dan itu datang di dalam nama Kekristenan. Itu asing dengan Alkitab dan itu mistik. Dan itu berasal dari intuisi subjektif dan fantasi dan imajinasi. Dan itu menyentuh setiap bidang teologi mereka.

2 Petrus bab 1 mengatakan, “Selidikilah kondisi rohanimu sendiri.” Bab 3 mengatakan, “betapa suci dan salehnya kamu harus hidup 12 yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah.

Jika Anda mengerti permulaannya, keselamatan Anda, dan Anda mengerti akhirnya, yaitu kedatangan Kristus, Anda dapat menangani apa yang terjadi sekarang. Kita semua perlu belajar lebih banyak lagi bagaimana kita karus berlaku sesuai dengan keinginan Allah, yaitu mengampuni dan mengasihi.

Kita harus percaya Allah, walaupun iman kita sering tidak sebesar seharusnya, bahwa Dia tetap mendorong kita kepada realisasi penuh dari semua yang baik yang Dia telah janjikan meskipun tampaknya Dia mengambil jalan memutar, Amin?
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu