05 Sep 2010 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2010
Mencari kepuasan hati dalam hidup
5 September 2010

Tentunya salah satu penyebab terbesar seorang percaya tidak memiliki sukacita dalam kehidupan mereka adalah kurangnya kepuasan. Kepuasan merupakan komoditas ilusif masa kini! Tidak pernah, tampaknya, begitu banyak orang menginginkan begitu banyak dan menemukan kepuasan begitu sedikit setelah mereka mendapatkannya.

Hal ini tidak mengherankan bila kita menganggap bahwa kita dibombardir setiap hari dengan iklan-iklan yang tujuan utamanya adalah untuk mengembangkan ketidakpuasan sehingga kami akan membeli produk mereka. Apakah Anda memiliki cukup untuk masa pensiun? Anda berhak mobil baru Anda sekarang! Investasi di emas karena nilainya akan meningkat, terjamin!

Sering alasannya kita tidak merasa puas adalah karena kita merasa apa yang kita miliki kurang. Saya menamakan itu perangkap “iri hati” dimana selalu membandingkan diri dengan orang lain. Lihatlah Paulus yang ada di penjara waktu itu dan dengarkanlah apa yang dikatakannya mengenai masalah ini.

Berbeda dengan ketidakpuasan luas dunia kita, Rasul Paulus berbicara tentang masalah kepuasan dalam suratnya kepada jemaat di Filipi. Kepuasan adalah perkataan Alkitabiah yang Allah ingin untuk kita.

Filipi 4:11-13, “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. 12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. 13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

Malah firman Allah mengatakan banyak hal lagi tentang kepuasan hati. 1 Timotius 6:6 mengatakan, “kesalehan disertai rasa cukup memberi keuntungan besar.” Dan di ayat 8 Paulus mengatakan, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” Ibrani 13:5 mengatakan, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”

Tidak lama saya membaca tentang South West Airlines. Setelah tragedi Sept 11, South West adalah satu-satunya perusahaan penerbangan besar yang masih ada untungnya. Semua perusahaan yang lain ruginya besar sekali dan mereka sudah bankrut atau mereka sedang mempersiapkan diri untuk kemungkinan itu supaya mereka menghindari kreditur mereka.

Jadi dalam suasana dimana kebanyakan perusahaan penerbangan berjuang untuk bertahan, karyawan SW memiliki keamanan kerja relatif yang baik. Namun, beberapa karyawan dari salah satu serikat karyawan mengancam untuk berhenti kerja supaya upah mereka dinaikkan. Mengapa? Karena mereka iri karyawan yang setingkat di perusahaan penerbangan lain (yang sudah mau bankrupt) yang gajihnya lebih tinggi.

Iri hati merupakan pendorong dalam kehidupan banyak orang. Hal ini mendorong mereka untuk menjadi kompetitif, bekerja keras dan sukses. Jadi, harapannya adalah bahwa motivasi seperti itu menjadi hal yang "baik" Tapi itu bukan.

Apakah dasarnya iri hati? Intinya adalah kepercayaan bahwa kita layak menerima lebih baik dari pada yang kita miliki. Disisi lain Paulus mengajarkan supaya Anda rendah hati, ramah, jangan menuntut apapun, berilah belas kasihan kepada mereka yang melakukan kejahatan kepada Anda, maafkanlah mereka yang bersalah kepada Anda, dan Anda telah menjadi seorang yang teguh. Kepuasan hati datangnya jika kita tidak menuntut apapun. Kalau diberi baik, kalau tidak, baik juga. Masalahnya bukan mengenai saya.

Saya baru-baru ini melihat sebuah seminar mengenai Merencanakan Warisan dimana mereka membicarakan “Janji Hidup yang dapat dirubah.” Ini seperti semacam instruksi warisan dengan beberapa keuntungan. Pengacara yang bicara di seminar ini menceritakan sebuah contoh di mana beberapa saudara perempuan datang ke kantornya untuk menantang kenyataan bahwa saudara laki-laki mereka telah menerima harta keluarga dalam janji warisan orang tua mereka.

Pengacara telah melihat hal seperti ini sebelumnya, dan dia masih merasa terganggu karena keserakahan mereka. “Apakah kalian tahu mengapa farm itu ditinggalkan untuk saudara laki-laki Anda?” dia menanyakan. “Iya,” mereka jawab. “Dia telah merawat mereka dalam masa tua mereka dan dia mengerjakan pertanian itu untuk mereka.” “Apakah kalian telah menolong dengan mengerjakan pertanian itu?” dia menanyakan. “Tidak.”

Apakah kalian telah menolong kakak laki-laki dalam perawatan orang tuamu?” “Tidak.” “Jadi mengapa Anda mau sebagian dari harta yang diwariskan kepadanya?” “Karena itu adalah harta keluarga, dan kita merasa kita layak mendapat sebagian.”

Pengacara itu bersenyum dan mengatakan, “Anda berhak untuk kontes janji warisan ini, tetapi Anda harus menyadari bahwa janji ini memiliki klausa di dalamnya. Klausa itu memperingatkan bahwa jika janji warisan ini diperebutkan dan jika tantangan kalah, mereka yang kontes janji warisan itu akan kehilangan apa pun warisan yang mereka mungkin punya.

Dengan kata lain, jika Anda menantang janji warisan ini dan kalah, bagian warisan Anda akan diberikan kepada saudara laki-laki Anda. Kedua wanita keluar dari kantornya dan dia tidak pernah dengar dari mereka lagi. Kita sering berpikir bahwa kita layak mendapat yang lebih baik, dan karena itu, apa pun yang kita lakukan untuk mendapatkan yang pantas bagaimanapun juga dibenarkan - walaupun itu mungkin berakhir dengan menghancurkan persahabatan kita, pekerjaan kita, atau keluarga kita.

Amsal 14:30 mengatakan kepada kita, “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.” Dengan kata lain: jika Anda tidak ada kepuasan, itulah tanda ada iri hati. Anda mungkin tidak menginginkan milik tetangga tau teman Anda. Mungkin itu sesuatu yang masih ada di toko.

Ingatlah, iri hati itu muncul dari membandingkan apa yang kita miliki dengan milik orang lain. Dan hasilnya membandingkan diri dengan orang lain selalu mengakibatkan ada ketidakpuasan. Dan hasil akhir dari jenis membandingkan seperti itu selalu akan menghasilkan ketidakpuasan. Orang Kristen hanya boleh membandingkan kehidupan mereka bersama Allah dibanding hidup tanpa berkat Tuhan.

Paulus memiliki kecukupan hati karena dia merasa puas dengan sedikit. Lihatlah ayat 11, “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan,” memang saya bersuka cita sekali ketika saya menerima kiriman itu namun bukan karena saya memerlukannya, “Sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.”

Materialisme adalah dosa. Mencari kepuasan hidup melalui harta milik sama dengan penyembahan berhala jika Anda menyembah patung. Malah, saya pikir bahwa materialisme adalah penyembahan berhala utama orang Amerika.

Daripada bersandar kepada kuasa Allah dan hidup dengan kekuatan yang Dia menyediakan, kita percaya dusta bahwa jika kita memiliki rumah yang lebih baik, mobil yang lebih baru, sepeda, mainan, apa saja – kita akan bahagia. Kami kemudian mengejar hal-hal itu tanpa memedulikan biaya, sambil mengumpulkan hutang besar di sepanjang jalan. Jika Anda tidak dapat mengatakan, “Saya puas dalam segala keadaan hidup, dan Anda tahu bahwa alasannya adalah materialisme, Anda perlu bertobat.

Apakah Anda ingin di bebaskan dari pengaruh cinta uang dan materialisme? Maka putuskanlah untuk memberi pertama kepada Tuhan – dan baru setelah itu berdoalah doa sederhana setiap kali Anda ingin beli sesuatu. “Tuhan, apakah saya perlu beli ini?”

Kita hidup dalam kebudayaan yang tidak pernah puas, dengan sedikit maupun banyak. Kelihatannya semakin banyak harta milik orang semakin mereka tidak puas. Biasanya orang terkaya di dunia juga orang yang paling sedih dan tidak bahagia. Mereka merasa selalu tidak cukup dan mereka kuatir segala investasi mereka dan ada yang lain yang lebih kaya lagi.

Kepuasan hati tidak bergantung kepada keadaan. Inilah kuncinya di ayat 12, “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara aku belajar tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.”

Kepuasan hati bergantung kepada hubungan kita dengan Pencipta kita, karena hanya Dialah yang sanggup memberikan kita damai sejahtera dan kepuasan hati dalam kondisi apapun Anda berada. Dia sanggup memberikan Anda damai ketika Anda berbaring di ranjang kematian Anda, karena kematian bukan akhir hidup melainkan permulaan hidup kekal penuh kepuasan dengan Allah.

Kepuasan hati memerlukan doa dan ucapan syukur dalam menghadapi masalah-masalah. Di dalam ayat 6, Paulus mengatakan dari pada kuatir terus, nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

Kalau ada orang yang memiliki damai, yaitu damai yang berasal dari Pekerjaan Roh Kudus, yang memiliki suka cita, yang rendah hati, yang benar-benar percaya kepada Allah dan seseorang yang bersyukur dalam segala hal, pastilah orang itu seseorang yang berdiri puas dalam iman.

Apa saja penganiayaan kita, apa saja godaan kita, pertama-tama, kita dapat bersyukur karena dibelakangnya ada tujuan Allah, Amin? Allah telah merencanakannya. Karena di dalam semua hal Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan sesuai dengan tujuan-Nya. Dan didalamnya Allah bekerja untuk menyempurnakan kita.

Apakah rahasianya? Kita mendapatkannya di ayat 13 dimana Paulus mengatakan, “13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Apakah Anda mengalami kebanyakan atau kekurangan dalam hidup Anda sekarang - kekuatan DIA yang akan memberikan kepuasan yang Anda butuhkan. Kekuatan DIA yang akan membantu Anda menemukan harapan bahkan ketika Anda kehilangan pekerjaan Anda.

Bila Anda menghabiskan waktu secara teratur dalam berdoa kepada Yesus, dan mempelajari firman Tuhan, dan menyerahkan hidup Anda kepada kekuatan Roh Kudus, Anda akan menemukan bahwa tidak peduli apa pun yang terjadi dalam hidup Anda - Anda akan merasa lebih banyak kepuasan.

Mengapa? Karena bila Anda menjalani hidup Anda terhubung ke Yesus Kristus, Anda akan mulai mengerti bahwa tidak ada yang terjadi dalam hidup Anda tanpa pengetahuan-Nya. Tidak ada yang terjadi, baik maupun buruk, yang dapat membawa Anda dari kasih Allah.

Kepuasan hati datang dari cara hidup dimana Anda mengerti prioritas Anda – dan semuanya di dalam hidup Anda tidak dapat dibandingkan dengan pengenalan akan Kristus Yesus. Jika ini menjadi kebenaran di dalam hidup Anda – maka memiliki harta terbaik dan keperluan untuk mendapatkan semua keinginan hidup Anda tiba-tiba tidak penting lagi.

Jika Anda menjalani hidup Anda mengandalkan kekuatan yang disediakan Allah – Anda akan menemukan bahwa keadaan sehari-hari Anda akan mengontrol keadaan pikiran Anda semakin berkurang - dan kepuasan hati akan mulai menjadi norma kehidupan Anda.

Pokoknya ini, rasul Paulus percaya akan kuasa pemeliharaan Allah yang berdaulat. Kita dapat melihat hal itu sepanjang hidupnya. Dia dapat menetap dalam kepuasan hati tanpa memiliki apapun sambil menunggu Tuhan. Dia mengerti bahwa segalanya ada didalam tangan Tuhan dan pada waktu Tuhan yang tepat sesuai dengan keinginan-Nya semua aakn terjadi.

Kuasa pemeliharaan adalah suatu istilah yang menjelaskan kuasa Allah yang memelihara dengan baik, dan itu berhubungan dengan kata kerja ‘menyediakan.’ Memang Allah memelihara namun artinya jauh lebih dari pada itu, artinya adalah bahwa Allah menyediakan segalanya untuk mencapai tujuan-Nya.

Marilah kita menyatukan Filipi 4:5-6, “Tuhan sudah dekat! 6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga.” Pandangan Anda mengenai Allah akan memberikan keteguhan. Allah itu dekat dalam keberadaan-Nya. Inilah yang dimaksud di Mazmur 119:151, “Engkau dekat, ya Tuhan.”

Bila Anda berbisik doa, Dia cukup dekat untuk mendengarnya. Bila Anda membutuhkan kekuatan-Nya dan kuasa-Nya, Dia cukup dekat untuk menyediakannya. Sekarang apa hasilnya dari pengetahuan Tuhan sudah dekat? Janganlah cemas. Apa yang saya akan khawatirkan? Apakah ada sesuatu yang Allah tidak bisa menangani?

Masalah Anda adalah Anda kuatir karena Anda tidak percaya Allah. Inilah intinya Matius 6:31-32, “Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.”

Matius 6:33-34, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. 34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu