15 Agt 2010 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2010
Apakah kita dapat bersukacita di dalam penderitaan?
15 Agustus 2010

“Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. 13 Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya. 14 Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu. 15 Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau. 16 Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu. 17 Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah? 18 Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa? 19 Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia.”

Mungkin Anda merasa bahwa buku 1 Petrus ini adalah buku yang paling sukar dimengerti, karena yang dibicarakan kebanyakannya adalah penderitaan dan bagaimana caranya kita hidup dalam budaya yang bermusuhan, sedangkan kebanyakan orang Kristen masih belum mengerti artinya menderita.

Namun buku ini tidak sukar atau aneh untuk mereka yang telah hidup cukup lama untuk menyadari apa yang dituliskan Paul Brand, Ahli bedah misionaris ke India dalam bukunya, “Kesakitan: hadiah yang tidak diinginkan.” Allah memakai penderitaan dalam orang untuk membawa mereka melampaui apa yang mereka pikir mereka mampu.

John Piper mengatakan bahwa kesakitan dan kesenangan datang kepada kita bukan sebagai lawan tetapi sebagai kembar Siam, bergabung aneh dan terjalin. “Hampir semua kenangan kebahagiaan akut, pada kenyataannya, melibatkan beberapa unsur sakit atau perjuangan.” (Christianity Today, Jan. 10, 1994, h. 21)

Saya tidak pernah mendengar orang mengatakan, “Sukacita terdalam dan paling langka dan paling memuaskan dalam hidupku telah datang di saat ada kebanyakan dan kemudahan dan kenyamanan duniawi.” Tidak ada yang mengatakan itu karena itu bukan kebenaran.

Yang benar adalah apa yang dikatakan Samuel Rutherford ketika dia dimasukkan ke dalam penjara penderitaan di basement: “Disinilah tersimpan anggur Raja Besar” dan bukan di halaman di mana matahari bersinar. Yang benar adalah yang dikatakan Charles Spurgeon, “mereka yang menyelam di laut penderitaan membawa mutiara langka.”

Orang Kristen sejati akan melakukan apa saja untuk memiliki anggur Raja dan mutiara langka, bahkan jika itu berarti pergi ke gudang penderitaan dan menyelam di laut penderitaan. Jadi Anda bisa melihat bahwa itu bukan sesuatu yang aneh jika banyak orang menyukai surat 1 Petrus, yang merupakan buku pegangan untuk penganiayaan orang Kristen dan kematian orang martir.

Marilah kita melihat suatu contoh. Ketika Bernie May menjadi kepala Wycliffe Penterjemah Alkitab, dia mengunjungi suatu keluarga muda di sebuah negara Islam. Mereka sudah tinggal di sana selama tiga tahun dan bekerja dengan suatu suku sebesar 100.000 orang yang tidak mengenal Kristus. Dan keluarga muda ini anak-anaknya tiga semua dibawah umur lima!

Bayinya penuh dengan tanda cacar, dan beberapa tampaknya terinfeksi. Dia menanyakan apakah anak itu kena cacar air. “Tidak, itu gigitan semut,” jawab ibunya. “Kita tidak dapat menghalang semut itu datang. Akhirnya ia menjadi kebal terhadap mereka.”

Dalam saat kejujuran ia mengaku ia merasa bersalah karena ia menderita stres. Stres? Dia bersama suaminya yang muda datang kesitu dari daerah US-tengah. Sekarang mereka tinggal di suatu tempat dimana suhu diatas 100 derajat sepanjang tahun.

Anak-anak penuh gigitan semut, dan ada peperangan di dekat mereka; dan penolong mereka berada dalam bahaya untuk menjadi teman-teman mereka; dan di desa-desa banyak menderita kelaparan dan penyakit; bahkan mereka tidak dapat memberitahu pendukung mereka apa yang mereka lakukan supaya mereka dapat berdoa bagi mereka karena mereka berada dalam daerah "kritis" - dan sekarang ibu ini merasa bersalah karena dia menderita stres.

Saya mengatakan kepada dia bahwa dia memiliki hak untuk merasakan stres. Saya baru saja datang tiga hari dan saya sudah mulai bingung dan stres sendiri. Namun pasangan muda yang penuh semangat ini tertawa dan bercanda dan penuh dengan sukacita Tuhan (surat Bernie May, Jan 1990).

Surat 1 Petrus adalah surat terutama untuk menjadi seperti itu. Dan di teks malam ini kita diperintahkan untuk menjadi seperti itu dan kita diberikan paling sedikit enam alasan mengapa kita seharusnya seperti itu dan dapat menjadi seperti itu.

Perintah ini terdapat di ayat 13, “sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita.” Bersukacitalah. Ketika Anda dibuang ke dalam ruangan penderitaan dibawah tanah, bersukacitalah. Ketika Anda menyelam dalam lautan siksaan, bersukacitalah.

Malah, terus bersukacitalah karena ada penderitaan dan bukan walaupun ada penderitaan. Ini bukan nasihat kecil mengenai kekuatan berpikir positif. Ini adalah cara yang sangat luar biasa radikal untuk menanggapi penderitaan. Ini bukan dari kekuatan kita sendiri. Ini bukan supaya kita dihormati. Inilah caranya orang perantau dan asing yang berrohani hidup di dunia ini untuk kemuliaan Raja besar.

Yakobus 1:2, “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,” adalah nasihat bodoh, kecuali satu hal, Allah. Petrus memberikan kita enam alasan mengapa kita dapat merasa bahagia terus ketika kita mengalami penderitaan. Semuanya berhubungan dengan Allah.

1. Bukan Kejutan tapi Rencana. Teruslah bersukacita karena penderitaan itu bukanlah suatu kejutan tapi suatu rencana. Ayat 12, “janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu.” Ini tidak mengherankan dan ini bukan tidak masuk akal dan ini tidak tanpa arti. Semua ini ada tujuannya. Ini untuk menguji Anda.

Lihatlah ayat 19, “Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia.” Ini semua sesuai kehendak Allah. Menderita bukanlah diluar kehendak Allah, ini di dalam kehendak Allah. Dan ini benar walaupun Iblis mungkin menjadi penyebab langsung. Allah berdaulat diatas semua hal, termasuk penderitaan kami dan termasuk Iblis juga.

Tetapi mengapa? Untuk apa? Bandingkanlah ayat 12 dan ayat 17. Ayat 12 mengatakan nyala api siksaan itu datang “sebagai ujian.” Ayat 17 mengatakan, “Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?”

Pokoknya penghakiman Allah itu mulai bergerak di seluruh dunia. Dan gerejapun tidak lolos. Ketika api penghakiman membakar gereja, itu suatu api yang menjadi ujian dan memurnikan. Ketika api itu membakar dunia, api itu membangunkan atau menghancurkan.

Ayat 18, “Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa?” Orang-orang percaya melewati api ujian penghakiman Allah bukan karena Dia membenci kita, akan tetapi karena Dia mengasihi kita dan ingin memurnikan kita. Allah membenci dosa begitu banyak dan mengasihi anak-anaknya begitu banyak sehingga ia tidak keberatan untuk memberikan kita rasa sakit supaya kita dibersihkan dari apa yang Dia benci.

Jadi alasan nomor satu adalah bahwa penderitaan tidak mengherankan; karena itu sudah direncanakan. Ini suatu ujian. Ini suatu api yang memurnikan. Ini membuktikan dan menguatkan iman sejati, dan ini menghancurkan iman prestasi, yang berarti iman yang hanya suatu pertunjukan luar dan bukan sebagian dari hati.

Alexander Solzhenitsyn telah lama terkesan dengan kesabaran dan penderitaan orang percaya Rusia. Suatu malam di penjara di Siberia seorang dokter Yahudi bernama Boris Kornfeld berbicara sampai malam dengan Solzhenitsyn dan menceritakan kisah pertobatannya kepada Kristus. Malam itu juga Kornfeld dipukuli sampai mati. Solzhenitsyn berkata bahwa kata-kata terakhir Kornfeld adalah, "Hanya ketika aku berbaring di sana pada jerami penjara yang membusuk, aku dapat merasakan dalam diriku kepedulian baik yang pertama… Penjara, diberkatilah Anda karena telah menjadi hidup saya."

Karena itu kita memiliki harapan besar bahwa penderitaan di masa kini akan membawakan kemurnian dan hidup ke banyak orang. Penderitaan itu tidak mengherankan, ada tujuannya karena kadang itu dipilih sebagai satu-satunya jalan Tuhan supaya orang lain bertobat.

2. Bukti persatuan dengan Kristus. Bersukacitalah terus karena penderitaan Anda sebagai orang Kristen adalah bukti persatuan Anda dengan Kristus.

Ayat 13a, “Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus.” Dengan kata lain penderitaan Anda bukan penderitaan Anda sendiri saja. Ada juga penderitaan Kristus. Ini alasannya untuk bersukacita karena ini berarti Anda disatukan dengan Kristus.

Josef Tson, pendeta Rumania yang melawan represi orang Kristen oleh Ceausescu, menulis, “Persatuan dengan Kristus ini adalah subjek yang paling indah dalam kehidupan Kristen. Ini berarti bahwa saya tidak sendirian di sini sebagai seorang pejuang: Saya adalah perpanjangan dari Yesus Kristus. Ketika saya dipukuli di Rumania, Dia menderita dalam tubuh saya. Ini bukan penderitaan saya: Saya hanya dihormati untuk menjadi bagian dari penderitaan- Nya.” (tulisan tanpa tanggal: "A Theology of Martyrdom")

3. Cara untuk mendapatkan sukacita lebih lagi dalam Kemuliaan. Bersukacitalah terus karena sukacita ini akan menguatkan kepastian Anda bahwa pada saat Kristus datang dengan kemuliaan-Nya, Anda akan bersukacita kekal bersama-Nya.

Ayat 13b, “bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.” Perhatikanlah: bersukacitalah sekarang supaya Anda dapat bersukacita nanti. Sukacita kita sekarang melalui penderitaan aalah caranya kita mendapatkan sukacita kita nanti, seribu kali lebih banyak dalam kemuliaan.

1 Petrus 1:11, “Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu.” Paulus mengatakan di Roma 8:17, “jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Pertama penderitaan kemudian kemuliaan bagi Yesus dan bagi mereka yang bersatu dengan Dia.

Jika kita sakit hati pada kehidupan dan kesakitan yang datang bersamanya, kita tidak mempersiapkan diri untuk bersukacita di penyataan kemuliaan Kristus. Terus bersukacitalah sekarang dalam penderitaan supaya Anda dapat bersukacita besar pada saat Dia memperlihatkan kemuliaan-Nya.

4. Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu. Ayat 14, “Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, karena Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.”

Ini berarti bahwa dalam waktu pencobaannya terbesar, ada hiburan besar. Pada saat penderitaan besar di dunia ada banyak dukungan dari surga. Mungkin Anda berpikir bahwa Anda tidak mungkin dapat menanggungnya. Namun jika Anda milik Kristus, Anda akan dapat menanggungnya karena Dia akan datang dan tinggal bersama Anda.

Seperti Rutherford mengatakan, Raja Besar menyimpan anggurnya yang terbaik di penjara penderitaan. Dia tidak menyediakan itu bersama chips pada sore hari penuh matahari. Dia menyimpannya untuk hal-hal ekstrim.

Jika Anda mengatakan, “Apakah ini, Roh kemuliaan dan Roh Allah tinggal bersama aku di dalam penderitaan.” Jawabnya adalah sederhana, Anda akan mengerti hal ini pada saat Anda membutuhkannya. Roh akan mengungkapkan kemuliaan yang cukup dan sebagian yang cukup dari Allah untuk memuaskan jiwa Anda, dan untuk membawa Anda melalui pencobaan itu.

Carilah kekudusan, carilah kebenaran, carilah menjadi saksi dan jangan berpaling dari risiko. Dan mau tidak mau Anda akan mengalami Roh kemuliaan dan Roh Allah berdiam diatas Anda dalam penderitaan.

5 Memuliakan Allah. Teruslah bersukacita dalam penderitaan karena hal ini memuliakan Allah. ayat 16, “Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.

Memuliakan Allah berarti memperlihatkan bahwa Allah itu mulia bagi Anda dengan tindakan Anda dan sikap Anda, bahwa Dia berharga dan diinginkan dan memuaskan . Dan cara terbaik untuk memperlihatkan bahwa Allah menyenangkan hati Anda adalah dengan bersukacita di dalam Dia pada saat semua dukungan lain bagi kepuasan Anda menghilang.

Jika Anda terus bersukacita di tengah kesengsaraan, itu menunjukkan bahwa Allah, dan bukan hal lain, adalah sumber sukacita Anda.

Dengarkanlah Paul Brand, ahli bedah misionaris ke India. Dan cerita kisah ibunya yang juga misionaris di India dan yang melakukan sesuatu yang melambangkan hidup yang terepusat kepada penderitaan kepada kemuliaan Allah dan bukan kepada dirinya.

Dr. Brand menulis, “bagi ibuku, kesakitan sering menjadi temannya dan juga pengorbanan. Saya mengatakan hal ini dengan lemah lembut dan kasih, tetapi pada masa tuanya, Ibuku tidak lagi memiliki kecantikan jasmani. Kondisi kasar, dikombinasikan dengan jatuh-jatuh yang melumpuhkan dan pertempurannya dengan tifus, disentri, dan malaria, telah membuatnya wanita tua yang kurus dan bungkuk.

"Bertahun-tahun kepapar angin dan matahari telah mengeraskan wajah-nya menjadi kaya kulit dan menyebabkan ada kerutan dalam dan ekstensif seperti halnya aku jarang melihat pada wajah manusia. . . " Ibuku tahu hal ini sama sepeti semua orang lain, dan selama 20 tahun terakhir kehidupannya dia menolak ada cermin di dalam rumahnya. (Christianity Today, Jan. 10, 1994, h. 23)

6. Kesetiaan Allah untuk merawat jiwa Anda. Akhirnya , teruslah bersukacita karena Pencipta Anda setia dalam perawatan jiwa Anda. ayat 19, “Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia.”

Beratnya penderitaan dan bentuk-bentuk penderitaan akan berbeda untuk setiap orang. Namun ada satu hal yang sama bagi semua orang sampai saat kedatangan Yesus, yaitu kita semua akan mati. Kita semua akan menghadapi saat perhitungan yang mengagumkan.

Jika Anda diberi waktu, Anda akan dapat melihat keseluruhan hidup Anda bermain di hadapan Anda selagi Anda merenungkan akapah hidup Anda dihidupkan dengan baik. Anda akan menggetar kepada kenyataan yang tak terungkapkan bahwa di dalam waktu singkat Anda akan menghadap kepada Allah. Dan nasib jiwa Anda tidak dapat dirubah selamanya.

Apakah Anda akan bersukacita pada saat itu? Itu pasti jika Anda mempercayakan jiwa Anda kepada Pencipta yang setia. Dia telah mencipta jiwa Anda untuk kemuliaan-Nya. Dia setia kepada kemuliaan itu dan kepada semua yang mengashi itu dan hidup untuk hal itu. Sekaranglah waktunya untuk menunjukkan dimanalah harta Anda, di surga atau di dunia. Sekaranglah waktunya untuk bersinar bersama kemuliaan Allah . Percayalah kepada-Nya. Dan bersukacitalah terus.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu