20 Jun 2010 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2010
Ayah yang ingin memilih yang terbaik memilih Yesus
20 Juni 2010

“Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"

Saya ingin berkhotbah suatu khotbah “Hari Ibu” yang memberi semangat untuk semua bapa-bapa. Mengapa? Karena saya percaya panggilan yang tertinggi dalam hidupnya setiap bapa adalah menjadi bapa Kristen.

Sebelum saya mulai berkhotbah, saya ingin memberikan Anda sejarah singkat tentang Hari Ayah. Ide untuk mengadakan hari bagi anak-anak untuk menghormati ayah mereka mulai di Spokane, Washington. Ada wanita bernama Sonora Dodd yang memikirkan ide hari ayah ketika dia sedang mendengarkan khotbah Hari Ibu di tahun 1909.

Dia dibesarkan ayahnya, setelah ibunya meninggal dan Sonora ingin supaya ayahnya tahu betapa istimewanya dia padanya. Ayahnya yang memberikannya semua pengorbanan orang tua dan dia dimata anaknya adalah seorang yang berani dan yang tidak mementingkan diri dan yang mengasihi.

Ayahnya lahir di bulan Juni, jadi tentu saja dia memilih menjadi perayaan Hari Ayah pertama di Spokane, Washington pada hari 19 Juni, 1910. Di tahun 1924 Presiden Calvin Coolidge memproklamirkan hari minggu ketiga bulan Juni menjadi Hari Ayah.

Saya ingin mengatakan malam ini bahwa ayah Kristen adalah pahlawan yang paling tidak pernah dipuji, yang tidak diperhatikan, dan yang tidak dihargai sepanjang masa. Dan karena hari ini adalah Hari Ayah saya ingin berbicara tentang Ayah yang ingin memilih yang terbaik. Mengapa? Karena ayah seperti itu akan memilih Yesus.

Saudar-saudari yang kekasih, kita dapat mencari di firman Tuhan di berbagai tempat suatu contoh ayah yang ilahi. Dan saya pikir kita semua setuju bahwa tentu saja salah satu ayah seperti itu adalah Yosua.

Saudara-saudari yang kekasih, saya bisa memilih banyak orang lain untuk didiskusikan malam ini, namun teladan Yosua sangat tepat untuk kita. Kita melihat disini di bab 24, Yoshua pada umur 110, memanggil pemimpin- pemimpin Israel untuk rapat bersama di Shechem untuk mendengarkan pidato perpisahannya.

Yosua membebankan bani Israel untuk mematuhi Tuhan yang telah berperang untuk mereka dan memberikan mereka warisan. Kita melihat disini Yoshua mengingatkan mereka akan bahayanya kemurtadan dengan mengatakan, “Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah.”

Kami bersyukur kepada Allah untuk ayah Kristen yang mengikuti teladan Yoshua. Yang meskipun kekayaan mereka, di samping semua kemakmuran mereka, memiliki cukup keberanian untuk mengatakan: Saya tidak peduli apa yang dikatakan psikolog, saya tidak peduli apa orang lain melakukan di dunia ini, saya akan bertanggung jawab atas anak-anak dan isteri saya.

Saya bersyukur kepada Allah sekarang ada ayah Kristen yang mengikuti teladan Yoshua dan tidak takut melawan apa yang teladan duniawi mengatakan tentang perkawinan dan seks remaja. Saya bersyukur untuk para pria yang tidak takut mengatakan bahwa homoseksualitas itu salah.

Lihatlah ayat 15 lagi, “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"

Disini ada ayah yang mengambil keputusan walaupun semua orang lain melakukan yang lain, bahwa dia akan memilih, melayani dan takut akan Tuhan. Khotbah pamitan Yoshua adalah teladan hubungan ayah/anak yang baik sekali. Saya bersyukur kepada Allah untuk ayah Kristen seperti Yosua yang bukan saja memberikan kita hidup akan tetapi juga mengajarkan kita bagaimana kita harus hidup.

Allah memakai contoh hubungan Bapa/anak sebagai teladan untuk menjelaskan bagaimana seharusnya kita berhubungan dengan Dia. Hubungan inilah panggilan kita yang tertinggi. Ketika kita berdoa kepada-Nya, kita berdoa seperti yang diajarkan Tuhan Yesus, “Bapa kami yang di sorga..” Mengapa Bapa? Karena Allah mengajarkan kita betapa pentingnya hubungan Bapa dan anak.

Ada banyak hal yang kita dapat katakan tentang Yoshua, namun karena waktu kita terbatas saya hanya ingin membahas dua kwalitas yang dia miliki yang perlu ditiru semua bapa-bapa.

1. Dia menjadi Imam rumahnya. Kita melihat di teks kita bahwa Yosua mengakui tanggung jawabnya untuk kehidupan rohani keluarganya. Perhatikanlah bahwa Yoshua berbicara untuk seluruh keluarganya, dia menyatakan niat mereka.

Namun sebelumnya Anda dapat mempertimbangkan dirimu imam rumah, Anda harus terlebih dahulu memiliki sifat tertentu. Iya, untuk menjadi imam Anda harus terlebih dahulu berhubungan erat dengan Allah. Dan itu harus dipraktekkan dulu di dalam keluarga Anda. Dan menurut firman Allah yang dirancang untuk menjadi hubungan pendidikan dasar adalah keluarga.

Firman ini mengatakan bahwa Yosua tidak salah berbicara untuk keluarganya. Dia hanya melakukan kewaibannya sebagai bapa untuk memastikan bahwa anak-anaknya tahu siapakah yang harus mereka percaya dan caranya mereka harus berjalan sesuai dengan jalan Tuhan. Saya pernah baca bahwa anak putra mengasihi ibunya akan tetapi dia akan mengikuti bapanya. Jadi pertanyaan bagi para bapa adalah, anak-anakmu dituntun arah kemana?

Belum lama saya mendengar verita seorang pendeta yang rendah hati yang anaknya sakit parah. Setelah anak lelaki itu diperiksa dengan banyak tes, bapanya diberi tahu hasil pemeriksaan itu bahwa anaknya yang tunggal sakit terminal. Anaknya telah menerima Kristus sebagai Juruselamat, jadi pendeta itu tahu bahwa kematiannya akan membewanya kepada kemuliaan.

Namun dia bergumul dengan caranya memberitahu anak yang baru menjadi remaja bahwa tidak lama lagi dia akan meninggal. Setelah memohon pengarahan dari Roh Kudus, berjalan di rumah sakit dengan hati yang tegang ke tempat tidur anaknya.

Ketika dia tiba disana dia membacakan putranya sebagian dari Firman Allah, dan setelah itu dia berdoa dengan anaknya. Setelah itu dengan lemah lembut dia mengatakan bahwa para dokter hanya menjanjikan dia hidup beberapa hari lagi. Dan dia menanyakan anaknya, “Apakah kamu takut bertemu dengan Yesus, anakku?” Sambil berkedip air matanya, anak kecil itu berkata dengan berani, "Tidak, jika Dia hampir sama seperti Anda, Dad!"

2. Kwalitas kedua yang dimiliki Yosua adalah dia ada rencana bagi keluarganya. Menjadi imam keluarga saja tidak cukup. Ayah Kristen juga harus ada rencana untuk kehidupan rohani kekasih-kekasihnya. Dan rencana Yoshua adalah, “Kita akan menyembah Tuhan.”

Tahukah Anda ketika Yosua berbicara suaranya berdering dengan suara kesatuan, “Aku dan seisi rumahku.” Kita harus bersatu. Alasan ada kesatuan adalah karena karakter ilahi Yosua. Imannya tulen dan sungguh-sungguh dan karena itu keluarganya mengatakan, “Apa juga yang kaukatakan Bapa, kita akan setujui.”

Melalui teladan Yosua kita bisa melihat bila keluarga itu bersatu, keluarga itu akan dapat menanggung pencobaan yang akan datang. Yosua bertekad untuk bertahan dengan keluarganya. Dia bersedia untuk berdiri sendiri dengan keluarganya jika itu diperlukan.

Marilah kita berbicara tentang keluarga sebentar. Tahukah Anda bahwa banyak perempuan sekarang mengatakan hal seperti ini, saya bisa dan saya sudah melakukan semua itu sendiri, dan mereka mengatakan bahwa mereka tidak memerlukan suami.

Pertanjaan saya kepada Anda adalah, “Bisakah keluarga hidup tanpa ayah dirumah? Apakah bapa-bapa bisa dibuang seperti pamper kotor? Apakah mereka diperlukan untuk keluarga yang sehat?”

Saudara-saudara, saya merasa bahwa setiap ibu tunggal di ruangan ini mungkin memiliki cerita yang sama jika mereka diberikan waktu untuk berbicara malam ini. Yah, pasti ada variasi disana-sini, tapi saya berpikir cerita mereka akan terdengar sangat mirip.

Ibu tunggal ini, yang Anda tahu bekerja dua job, yang sering belanja di Thrift Store untuk kebutuhannya, yang memakai mobil tua yang sering di bengkel, Anda tahu dia yang sering tidak mampu membayar tagihannya dan sering meminjam dari teman-teman untuk memenuhi kebutuhan.

Iya, saya tahu sakit Anda karena hampir tidak mungkin bagi satu orang untuk memenuhi peran dua. Rencana Allah adalah bahwa kedua orang tua diperlukan untuk membesarkan anak, iya, seorang ibu dan seorang bapa. Yang diperlukan ibu itu adalah ayah supaya mereka bersama dapat membesarkan anak-anak mereka. Karena itu ayah Kristen sangat berharga.

Kita perlu lebih banyak orang yang bersedia untuk memikul salib Kristus Yesus, bukan untuk keselamatan kita sendiri, tetapi juga untuk keselamatan anak-anak mereka. Bapa-bapa pertama bertanggung jawab atas kesehatan jasmani anak-anak mereka.

Seperti Jairus di Markus 5:23 ketika dia datang kepada Yesus dan berkata, “Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup." Dan juga seperti pegawai istana mengatakan di Yohanes 4:49, “Tuhan, datanglah sebelum anakku mati."

Ayah Kristen ilahi perlu mengikuti contoh Yosua jang mau mengajarkan mereka kebenaran ilahi yang baru. Ayub 1:5 mengatakan, “Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: "Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati." Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.”

Sayangnya, tidak setiap anak memiliki ayah seperti Ayub. Imam Eli memalukan panggilannya karena ia tidak menegur anak-anaknya yang jahat dan bertanggung jawab atas kesejahteraan rohani mereka.

1 Samuel 3:13-14 mengatakan, “Sebab telah Kuberitahukan kepadanya, bahwa Aku akan menghukum keluarganya untuk selamanya karena dosa yang telah diketahuinya, yakni bahwa anak-anaknya telah menghujat Allah, tetapi ia tidak memarahi mereka! 14 Sebab itu Aku telah bersumpah kepada keluarga Eli, bahwa dosa keluarga Eli takkan dihapuskan dengan korban sembelihan atau dengan korban sajian untuk selamanya."

Semua bapa-bapa, saya ingin memberitahu kalian malam ini bahwa Anda bertanggung jawab atas kondisi rohani anak-anakmu. Isterimu memang akan bekerja sama dengan Anda, namun yang bertanggung jawab adalah Anda. Janganlah sekali-kali kita mengabaikan tanggung jawab itu seperti Eli, daripada itu kita perlu aktif seperti Ayub dengan mengembangkan kerohanian anak-anak kita.

Dan kita melihat hal ini dibicarakan berkali-kali di Ulangan 6:6-9, dimana dikatakan, “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, 7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. 8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, 9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.”

Hai Bapa-Bapa, berapa banyak waktu diluangkan secara pribadi dengan anak-anakmu? Apakah Anda berinvestasi lebih banyak pada anak-anak Anda atau lebih berinvestasi pada pekerjaan Anda, atau dalam usaha bisnis Anda? Ingatlah yang dikatakan Allah tentang dimana Anda menginvestasi waktu Anda di Galatia 6:7, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.”

Caranya anak-anakmu menjadi dewasa sebagian besar tergantung kepada waktu yang Anda membrikannya sekarang. Ayah-ayah dan ibu-ibu, sekaranglah waktunya untuk mengajarkan mereka apa yang Anda percaya tentang Tuhan dengan memperlihatkan prioritas Anda sebenarnya.

Bapa-bapa Kristen juga bertanggung jawab atas kesejahteraan emosional anak-anak mereka. Mereka perlu dikasihi seperti apa yang dilakukan Daud. Kita semua tahu bahwa Daud bukan ayah yang sempurna. Dia memang kesalahannya banyak, namun saya kagum atas kasih yang diperlihatkan terhadap Absalom.

Di 2 Samuel 18:5 kita melihat tertulis, “Dan raja memerintahkan kepada Yoab, Abisai dan Itai, demikian: "Perlakukanlah Absalom, orang muda itu dengan lunak karena aku." Dan seluruh tentara mendengar, ketika raja memberi perintah itu kepada semua kepala pasukan mengenai Absalom.”

Jadi apakah maksud ayat ini? Bagi mereka yang tidak mengenal ayat firman Tuhan ini. secara sederhana, Absalom sedang memberontak terhadap ayahnya Raja Daud dan dia sedang mencoba untuk mengambil alih kerajaan itu. Dia adalah musuh takhta, namun Daud tetap mengasihinya karena dia adalah anaknya.

Pria, anak-anak Anda akan sewaktu-waktu mengecewakan Anda, namun janganlah hal itu menghalang Anda sebagai ayah Kristen, untuk mengasihi mereka. Bapa-bapa, apakah Anda telah memberkati mereka? Apakah mereka tahu dari tindakan Anda bahwa mereka spesial di mata Anda? Apakah Anda pernah mengatakan kepada mereka bahwa Anda bangga atas perbuatan mereka?

Orang lain bisa menjadi temanya, mentor mereka dan pelatih mereka. Namun tidak ada orang lain yang menjadi bapanya. Hanya Anda dapat mengisi peran itu. Mereka membutuhkan ketentuan fisik, spiritual dan emosional yang Allah telah menginstruksikan Anda untuk memberikan kepada mereka.

Namun jika Anda adalah bapa Kristen, ini bukan saja kewajiban Anda, tetapi juga sukacita Anda. Setelah menjadi bapa Kristen Anda akan merasa suka cita bangun di tengah malam demi anak-anak Anda. Ada sukacita dalam memenangkan kemenangan yang paling sukar demi anak-anak Anda.

Tidak peduli betapa sulitnya tantangan, seorang ayah Kristen tahu bahwa malam tergelap selalu diikuti dengan hari terang. Tidak peduli betapa sulitnya tantangan, seorang ayah Kristen tahu bahwa beban terberat selalu diikuti dengan berkat terbesar. Godaan terkuat selalu diikuti oleh momen yang menentukan kemenangan! Bapa Kristen tahu bahwa pertempuran terburuk selalu diikuti dengan kemenangan termanis!

Jadi boleh saya tanya Anda malam ini, apakah Anda hidup dengan suatu komitmen yang menyenangkan Allah? Apakah Anda benar-benar berkomitmen kepada keluarga Anda dengan memberikannya waktu dan tenaga? Apakah Anda membagikan kepercayaan Anda, dan belajar firman bersama, dan berdoa bersama, dan setia kepada anak-anakmu dan gerejamu?

Malam ini Allah memanggil Anda untuk berkomitmen sepenuhnya kepada-Nya. Dia tidak akan lakukan apa yang Dia inginkan dalam hidupmu sampai Anda memberikan diri Anda sepenuhnya kepada-Nya. Dan Dia tidak akan minta Anda melepaskan sesuatu yang tidak digantikan dengan seusatu yang lebih besar.

Bapa-bapa, Allah menantang Anda malam ini untuk mengambil langkah berikutnya. Tidak ada alasan Anda bisa membuat yang akan menutupi kekurangan komitmen dan pelayanan kepada-Nya. Pria, sudah waktunya untuk berdiri seperti Yosua - dan untuk menunjukkan keluarga Anda dan anak-anak Anda bagaimana mereka harus melayani Tuhan, Amin?
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu