24 Jan 2010 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2010
Sukacita yang menyakitkan melalui ujian iman
24 Januari 2010

“Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika, jika perlu, harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. 7 Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.”

Kekristenan adalah hidup penuh sukacita yang menyakitkan. Perjanjian Lama memerintahkan kita untuk bergembira di dalam Tuhan (Mazmur 37:4) dan untuk melayani Tuhan dengan suka cita (Mazmur 100:2) dan untuk bersukaria dihadapan Tuhan dalam segala usahamu (Ulangan 12:18).

Yesus memerintahkan kita di Lukas 6:23, “Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya upahmu besar di sorga.” Dan dia mengatakan kepada kita di Yohanes 15:11, “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.”

Rasul Paulus memerintahkan kita di Filipi 4:4, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Dia mengatakan di 2 Korintus 1:24, bahwa dia turut bekerja untuk sukacita kita” dan di Filipi 1:25 bahwa dia tinggal bersama-sama kita supaya kita makin maju dan bersukacita dalam iman,dan di 2 Korintus 9:7 tertulis bahwa Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.”

Dia mengatakan di Galatia 5:22 bahwa buah Roh ialah sukacita. Dan masih banyak pemulis lain dari Firman Tuhan yang mengatakan yang sama. Pesannya adalah: Kekristenan itu adalah hidup penuh sukacita besar yang menyertai kita selalu. Sekarang Petrus memakai tema yang indah ini di ayat 6 untuk memberikan kita alasan mengapa kita harus bersuka cita, dan di dalam proses itu mengapa suka cita itu juga menyakitkan.

1. Janji masa depan yang indah. Marilah saya mengingatkan Anda akan alasan yang pertama karena Petrus mulai dengan hal itu di permulaan ayat 6. Dia mengatakan, “Bergembiralah akan hal itu.” Dan yang dia maksud dengan “hal itu” mengacu kembali kepada alasan suka cita itu di ayat-ayat 3-5.

Ayat 3” Allah telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan. Ayat 4: Allah menyimpan bagi kita suatu warisan yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu. Ayat 5: Dan itu dipelihara dalam kekuatan Allah.

Ada warisan dan orang percaya adalah pewaris. Dan alasan pertama kita bersuka cita adalah bahwa Allah memelihara keduanya: Dan memelihara warisan kita dengan sempurna; dan Dia memelihara iman kita sehingga kita tidak mungkin kita kehilangan iman kita dan kehilangan warisan.

Jadi di ayat 6 Petrus mengatakan, “Bergembiralah akan hal itu.” Alasan pertama kita bergembira adalah karena masa depan indah yang di janjikan Allah dan komitmen-Nya untuk memelihara itu bagi kita dan memelihara kita bagi hal itu. Dengan kata lain dasarnya kita bersuka cita adalah masa depan ita bersama Allah dan kepastian kita akan sampai kesana.

Suka cita Kristen hampir identik dengan harapan Kristen. Karena itu Petrus mengatakan di ayat 3 bahwa kita dilahirkan kembali kepada hidup penuh pengharapan; dan ayat–ayat 4 dan 5 menjelaskan konten dari harapan itu; dan ayat 6 mulai dengan, “Bergembiralah akan hal itu.” Berdasarkan hal ini Anda memiliki pengharapan yang hidup yang penting, yang merubahkan hidup; dan itulah yang memberikan kita suka cita. Pengharapan kita adalah suka cita kita.

2. Suatu rencana untuk pencobaan kita. Alasan kedua adalah bahwa Allah ada rencana untuk semua masalah dalam hidup ini. Inilah yang dibicarakan di ayat 6 dan 7, rencana Allah untuk semua bencana hidup.

Masalah-masalah ini sendiri bekerja sama dalam mempersiapkan kita untuk menikmati warisan itu sepenuhnya. Kita tidak hanya melihat melampaui masa sulit ini untuk harapan yang pasti; kita mencari rencana Allah dalam semua masalah ini dan melihat bagaimana Allah mengerjakan semua kemalangan ini untuk kebaikan kita.

Marilah kita melihat rencana ini di ayat 6 dan 7. Pertama, dari mana saya mendapatkan ide bahwa bencana kita dirancang oleh Allah untuk kebaikan kita? Saya mendapatkannya dari frase "jika perlu" dalam ayat 6 dan perkataan “maksud semuanya itu” pada permulaan ayat 7.

Ayat 6 mengatakan, “sekalipun sekarang ini kamu seketika, jika perlu, harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.” Mengapa kita perlu ada pencobaan? Siapa atau apa yang membuat kesedihan pencobaan ini "perlu"?

Jawabnya adalah Allah. Petrus menerangkan bahwa pencobaan bagi orang Kristen hanya terjadi jika Allah menghendaki-Nya. Misalnya di 1 Petrus 3:17 dia mengatakan, “Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat.”

Mungkin saja Anda menderita karena berbuat baik, munkin juga tidak. Pilihan akhir adalah di dalam tangan Tuhan. “Jika hal itu dikehendaki Allah,” berarti mungkin kita akan menderita dan mungkin juga tidak. Atau di 1 Petrus 4:19 dikatakan, “Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia.”

Dengan kata lain Petrus mengajarkan kita bahwa kehendak Allah yang berdaulat mengatur segala pencobaan yang terjadi pada kita dan karena itu rencana di dalamnya bukan pada akhirnya rencana Iblis atau rencana orang-orang jahat, namun rencana Allah sendiri.

Jadi ketika Petrus mengatakan in ayat 6, “Jika perlu, harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan,” maksudnya, “Kalau Allah menganggap ini perlu.” Namun mengapa Allah melakukan itu? Dan ini membawa kita kepada “Maksud semuanya itu ialah” di permulaan ayat 7.

Ini memberikan kita alasannya mengapa Allah menganggap perlu bahwa kita akan berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan, “untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.”

Yang diterangkan ayat ini adalah rencana dalam pencobaan kita. Rencana-Nya adalah supaya masalah-masalah itu akan memurnikan iman kita sama seperti api memurnikan emas sehingga pada waktu Kristus kembali, kwalitas iman kita akan memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan.

Jadi apakah benar Allah menghendaki penderitaan dan pencobaan kita? Nah aku tahu bahwa ini menimbulkan suatu pertanyaan yang menyakitkan dan mengganggu. Kita tidak main-main disini. Kita membicarakan kenyataan hidup Anda dan hidup saya hari ini juga.

Apakah Allah menyebabkan perkawinan Anda bubar? Apakah Allah menhendaki Anda mendapat penyakit kanker, atau pendirian homoseksual Anda, atau pemberontakan anak Anda, atau kehilangan pekerjaan Anda, atau kekacauan yang mengancam di Haiti, Afganistan dan Somalia?

Saya akan memberikan Anda jawaban saya, yang saya percaya Alkitabiah berdasarkan ayat- ayat 1 Petrus 3:17 dan 1 Petrus 4:19. Jawabnya adalah Tidak, Allah tidak menghendaki hal itu, dan Iya, Dia melakukan itu. Tidak, dalam arti bahwa ia tidak suka menyakiti demi kepentingannya sendiri, Dia tidak memerintah ada dosa atau menyetujui dosa.

Namun Iya, Dia menghendaki hal-hal seperti itu terjadi, dalam arti Dia sanggup mencegah semua hal seperti itu akan tetapi kadang-kadang Dia tidak mencegahnya, melainkan membimbing hal- hal itu, karena rencana-Nya lebih tinggi dari pada kerusakan dosa atau tipu daya Iblis atau kesakitan penderitaan.

Ketika orang Kristen menderita karena perbuatan baik mereka, dosa di perlakukan terhadap mereka. Namun 1 Petrus 3:17 mengatakan bahwa kadang itu kehendak Tuhan. Dia tidak mendukung atau menyetujui dosa, namun Dia dapat dan kadang menghendaki perbuatan- perbuatan dosa terjadi untuk rencana-rencana-Nya sendiri yang mulia.

Ketika Kristus dibunuh di kayu salib, itu juga dosa, namun Allah menghendaki itu terjadi. Seperti tertulis di Yesaya 53:10, “Tetapi Tuhan berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan.” Dan dengan cara itu kita diselamatkan.

Ada lima unsur rencana Allah dalam kesulitan kita. Nah, di dalam rencana ilahi masalah-masalah kita, kita perlu belajar unsur-unsur ini apa. Karena pengetahuan ini memungkinkan kita bersuka cita walaupun kita banyak masalah.

1. Berbagai-bagai Pencobaan. Dalam rencana Allah, masalah-masalah kita terdiri dari berbagai pencobaan. Ayat 6 mengatakan, “jika perlu kamu harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.” Maksudnya ada berbagai-bagai cara kita akan mengalami pencobaan dan itu bergantung kepada keadaan kita.

Jadi di dalam rencana Allah “perlu” kita mengalami berbagai-bagai macam pencobaan. Bukan satu macam pencobaan saja yang akan dipergunakan. Allah mencat dengan banyak warna, ada banyak yang gelap dan ada banyak yang cerah. Dan pada akhirnya kanvas hidup Anda akan menjadi mulia, jika Anda mempercayakan jiwamu kepada Penciptamu yang setia (1 Petrus 4:19).

2. Kesusahan singkat. Dalam pandangan Allah, semua kesusahan itu singkat. Ayat 6 lagi, “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika, jika perlu, harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.”

Singkat itu relatif, benar? Jika Anda berkata, “Dia bisa menahan nafas waktu yang lama,” maksudmu dua atau tiga menit. Dan waktu itu lama untuk menahan nafas. Namun jika Anda berkata, “dia sudah bekerja lama di perusahaan itu,” maksudmu barangkali 15 atau 20 tahun.

Sama juga dengan frase “seketika” dalam ayat ini. Dibanding yang lain dan dibanding seumur hidup di dunia, mungkin pencobaan Anda rasanya lama sekali dan bukan seketika. Namun dibandingkan keabadian, dibanding warisan yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu, waktu itu seketika saja.

Pandangan hidup Petrus sama dengan apa yang dikatakan di Yakobus 4:14, “Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” Dibanding lamanya dan bersarnya masa depan yang disimpan Allah bagi Anda, semua pencobaan hidup ini memang sangat kecil dan pendek.

3. Ujian yang menyakitkan. Dalam rencana Tuhan pencobaan kita menyakitkan. Itu penderitaan. Perkataan di ayat 6, “berdukacita oleh berbagai pencobaan” berarti kita sakit dan sedih. Bukan ganda bicara ketika Petrus berkata, "Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang di dalam hidup ini kamu harus berdukacita.”

Anda bergembira walaupun Anda berdukacita. Kita tahu ini bukan suatu kesalahan, karena Paulus sendiri mengalami hal yang sama. Di 2 Korintus 6:10 dia mengatakan, “sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita.”

Dalam rencana Allah untuk pencobaan kita selalu ada tempat untuk dukacita yang nyata, asli dan sedih. Namun pengalaman ini pada dasarnya berbeda dengan pengalaman pencobaan yang dialami dunia. Kita tahu bahwa ada rencana Allah didalamnya. Orang-orang yang tidak percaya selalu menyalahkan ‘ibu alam.’

Karena itu akar kita tetap tertanam walaupun cabang-cabang tertiup angin keras. Dan daun-daun tetap hijau dan buah terus tumbuh karena akar kita mendalam dekat sungai anugerah Allah yang berdaulat, dan kita percaya rencana-Nya baik.

4 Seperti Api yang memurnikan. Dalam rencana Allah, pencobaan-pencobaan kita seperti api yang memurnikan emas dari kotorannya. Ayat 7, “Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.”

Dekat Cripple Creek, Colorado, emas dan telurium terdapat sebagai campuran bijih tellurite. Cara-cara memurnikannya di tempat pertambangan dulu itu belum bisa memisahkan kedua unsur, jadi bijih itu dibuang begitu saja ketumpukan sampah.

Pada suatu hari ada satu pekerja tambang yang memikir bijih itu batu bara dan melemparkannya ke dalam tungku. Tidak lama kemudian waktu sementara membersihkan abu dari tungkunya, dia menemukan di bagian bawah banyak manik-manik emas murni. Panasnya membakar tellurium itu dan yang tinggal adalah emas murni.

Pada saat emas itu meleleh di dalam api kotoran itu dapat dibuang. Setelah api yang memurnikan itu padam, emas itu malah lebih berharga. Demikan juga dengan iman kita kepada Allah. Iman Anda akan lebih kuat dan Anda akan percaya janji-janji-Nya.

Kita semua lasih memiliki banyak kotoran-kotoran. Masih ada unsur-unsur menggerutu dan pesimisme (Dan saya bicara dari pengalaman sendiri). Dan ada kecenderungan untuk percaya uang dan kedudukan dan popularitas bersama Tuhan, yaitu kotoran dicampur iman emas.

Kotoran di dalam iman kita menghalang pengalaman Allah sepenuhnya dalam kebaikan-Nya dan kebesaran-Nya. Jadi Allah merencanakan untuk memurnikan iman kita dengan api pencobaan dan duka cita. Tujuan-Nya adalah supaya iman kita menjadi lebih murni dan lebih asli. Maksudku, supaya iman kita bergantung seluruhnya kepada Dia untuk sukacita kita dan bukan bergantung kepada harta milik atau orang lain.

Salah satu ilustrasi terbaik tentang bagaimana ini bekerja datang dari pengalaman rasul Paulus. Di 2 Korintus 1:8-9 Paulus menggambarkan recana Allah yang sangat memurnikan itu dalam pencobaan Paulus sendiri.

“Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. 9 Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati (itulah emasnya).”

Allah mengambil dari Paulus perasaan aman biasa dan membiarkan dia merasakan sepertinya sama sekali ditinggalkan orang. Inilah api yang dibicarakan di 1 Petrus 1:7. Dan ini terjadi bukan karena Allah tidak mengasihi Paulus, namun karena Allah melihat iman Paulus sebagai emas yang layak dimurnikan.

5. Pada akhirnya dalam rencana Allah, hasil pemurnian iman kita akan memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan. Ayat 7 mengatakan, “bukti kemurnian imanmu menghasilkan puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.”

Ketika Yesus datang dalam kemuliaan-Nya, dua hal akan terjadi. Kemuliaan-Nya akan dicerminkan dalam iman kita penuh kemegahan. Dia menjadi Yang kita percaya dan Yang kita harapkan dan Yang kita bersukacita di dalam-Nya. Dan semakin murni emas kepercayaan kita, semakin besar kelayakan-Nya akan dicerminkan.

Namun karena Allah meninggikan mereka yang meninggikan-Nya, Dia akan memuji dan menghormati dan memuliakan iman kita. Dia akan mengatakan dari Matius 25:21, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, “ Dia akan memberikan kita apa yang dikatakan Petrus di 1 Petrus 5:4, “mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu.”

Dan kita akan menyadari akhirnya bahwa rencana Allah dalam pencobaan-pencobaan kita ada maksud ilahi yang sangat indah. Semua itu adalah pekerjaan kuasa pemeliharaan-Nya dalam memperlihatkan kasih-Nya untuk kebaikan kita dan untuk membagikan kemuliaan Allah sendiri yang sangat luar biasa.

Janganlah berduka cita dalam pencobaan Anda dan janganlah kecil hati, Allah sendiri sedang bekerja di dalam Anda dan disekitar Anda untuk mencapai tujuan-Nya untuk merubah Anda menjadi lebih seperti diri-Nya sendiri, Amin?
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu