10 Jan 2010 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2010
Rahmat Allah dan lahir baru kita
10 Januari 2010

“3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, 4 untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.”

Tujuan dari khotbah ini telah ditentukan bagi Anda dan saya di dalam frase pertama ayat 3, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus.” Petrus itu menyembah Allah. Jawabannya terhadap Allah yang melahirkan orang kembali dan membangkitkan Anak-Nya Yesus dari antara orang mati, dan memberikan kita pengharapan yang hidup , dan menyediakan bagi kita suatu warisan yang langgeng di surga adalah…menyembah Allah.

Dan jika itu jawabannya, maka haruslah demikian juga tanggapan kita. Yang dibicarakannya menyebabkan dia ingin memuji dan memberkati Allah. Namun dia tidak dipaksa untuk memperlihatkan kekaguman dan cinta untuk Tuhan. Dia bisa saja mengatakan, “Topik ceramah saya hari ini regenerasi. Dan saya ingin membahas beberapa ajaran yang berhubungan.”

“Marilah saya memberi daftar topic: 1) Allah; 2) regenerasi; 3) pengharapan; 4) kebangkitan Yesus; 5) warisan; 6) surga. Marilah kita memperhatikan hal-hal ini.” Dia bisa saja mulai dengan cara itu. Namun bukan begitu Petrus mulai suratnya.

Petrus mulai dengan kegirangan dan dorongan untuk memberkati dan kekaguman karena memang itulah hasil dari kenyataan-kenyataan di dalam hatinya. Dia mengatakan, “Terpujilah Allah!” Dia mengatakan hal ini disini, dan dia mengatakan hal itu di 1 Petrus 4:11, “Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.” Dan lagi di 5:11, “Ialah yang empunya kuasa sampai selama-lamanya! Amin.”

Petrus berkali-kali mulai lagi memuji dan memberkati. Dia menulis tentang kenyataan-kenyataan yang terbesar di semesta alam dengan hati yang penuh penyembahan. Dia menulis dengan kekaguman dan senang dan heran dan dengan hati yang penuh syukur.

Berkhotbah haruslah menjadi suatu penerangan penuh penyembahan dari kenyataan alkitabiah yang mulia. Jika Anda memikir bahwa di dalam kebaktian malam Minggu setengahnya ibadah dan setengahnya berkhotbah, itu salah. Kita bisa menyanyi tanpa ibadah, dan saya dapat berkhotbah tanpa beribadah. Itu hanya tata cara dan bersikap professional. Tujuan kita haruslah untuk menyembah Allah dengan segalanya yang ada dari permulaan sampai akhir.

Kita beribadah ketika akal budi kita memahami kebenaran Allah, dan hati kita mengikuti dengan perasaan patah hati dan kekaguman dan kegirangan dan bersyukur, dan mulut kita mengatakan sesuatu seperti, “terpujilah Allah Bapa Tuhan kita Yesus Kristus.”

Marilah kita melihat setiap dari lima kenyataan yang seharusnya mendorong kita untuk menyembah.

1. Belas kasihan Allah yang besar. Belas kasihan Allah itu sangat besar, kalau tidak mustahil kita menjadi anak-anak Allah. Petrus sangat tergerak oleh karena kebenaran itu dan kita harus merasa tergerak juga. Dia mengatakan, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar…”

2. Allah melahirkan kita kembali. Ini kenyataan kedua tentang Allah yang menyebabkan Petrus ingin menyembah: Allah satu-satunya yang menyebabkan kita lahir kembali. Kelahiran baru adalah pekerjaan Allah, “yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali...kepada suatu hidup yang penuh pengharapan..” Belas kasihan-Nya menghasilkan pribadi baru yang dipanggil anak Allah dan menghasilkan orang asing di dunia.

3. Pekerjaan Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Ini kenyataan ketiga tentang Allah yang mencengkeram Petrus, “Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati. “..Dia telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan..” Kebangkitan itu seluruhnya tentang Allah. Allah melakukan itu jadi kita dapat percaya Allah. Dan itu menyebabkan Petrus mulai menyembah.

4. Janji Allah ada warisan. Ada suatu kenyataan keempat yang mengagumkan Petrus: Allah menjanjikan suatu warisan kepada semua anak-anak yang lahir baru. Ayat 4, “.. untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu.” Allah adalah sumber warisan itu. Dari Allah semua itu meluap. Kita menjadi penerima setiap saat: dalam hal belas kasihan, kelahiran baru, kebangkitan dan warisan.

5. Pekerjaan Allah dalam pemeliharaan warisan kita. Warisan itu “tersimpan di sorga bagi kamu.” Siapakah yang memelihara itu? Jawabnya: Allah. Allah memilihara warisan itu supaya “tidak dapat binasa, tidak dapat cemar dan tidak dapat layu” selama-lamanya.

Nah, dari kelima kebenaran ini, pekerjaan Allah yang mana paling penting bagi kita? Pekerjaan Allah paling penting bagi kita manusia adalah menyebabkan adanya kelahiran baru. Membangkitkan Yesus dari antara orang mati adalah kemenangan dalam sejarah yang memungkinkan hal ini. Pengharapan hidup kita dan warisan besar itu mengalir dari kemenangan itu. Namun pekerjaan Allah utama adalah kelahiran baru manusia yang berdosa.

Salah satu alasan mengapa kita tidak bersemangat seperti Petrus adalah mungkin kita tidak mengerti hal ini atau kita tidak percaya, “Allah menyebabkan kita lahir baru.” Allah memberikan kita pribadi kedua sebagai anak-anak-Nya. Kita tidak ada sebelumnya sebagai anak-anak-Nya.

Yesus mengatakan di Yohanes 3:6, “Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.” Kita tidak hidup secara rohani sebelumnya. Kita menjadi sesuatu yang terjadi oleh karena bapak manusia dan ibu manusia dan anugerah umum. Tetapi kemudian Allah datang kepada kita dan menyebabkan kita lahir kembali. Dia membangkitkan kehidupan iman yang baru dan pengharapan kepada Allah. Itu adalah kehidupan Roh di dalam kita.

Namun ada banyak orang percaya yang telah diajarkan bahwa bukan Allah yang melakukan pekerjaan yang menentukan ini, kita yang melakukannya. Jadi tentu saja kita tidak merespon seperti Petrus dengan mengatakan, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, terpujilah Allah.”

Marilah saya mencoba menjelaskan ini dengan menanyakan suatu pertanyaan yang provokatif. Seandainya saya bertanya Anda, “Bagaimana Anda tahu Anda lahir dari rahim ibumu?” Apakah jawabanmu? Anda akan menjawab, “Saya hidup! Saya ada diluar rahim ibuku, saya ada disini.” Memang benar, jawaban itu sudah cukup.

Anda tidak akan menjawab dengan mengatakan, “Saya tahu saya lahir karena saya memiliki akte kelahiran dirumah.” Atau, “saya tahu saya lahir karena saya telah melakukan penelitian sejarah di Indonesia dan saya telah menemukan sebuah dokumen dengan nama saya.” Anda hanya mengatakan dengan sederhana, “Saya tahu saya lahir karena saya hidup.”

Sekarang anggaplah saya mengajukan pertanyaan itu kepada seorang yang rajin kegereja, “Bagaimana kau tahu kau dilahirkan kembali?” Saya mengharapkan jawaban yang sama. Namun daripada itu saya sering mendengar, “Saya tahu saya lahir kembali karena saya lakukan apa yang harus dilakukan untuk lahir kembali: saya minta Yesus masuk ke dalam hati saya; saya berdoa untuk menerima Kristus; saya maju kedepan di gereja dan menerima Yesus; dan saya ada kartu dalam dompetku yang ditandatangani Juni 6, 1998 dimana saya berjanji Yesus menjadi Tuhanku.”

Berapa banyak orang menjawab benar dengan mengatakan, “Saya lahir kembali karena saya sekarang hidup bagi Allah. Saya memiliki pengharapan yang hidup. Saya memiliki iman yang hidup. Dulu saya tidak ada kehidupan rohani, sekarang saya hidup penuh dengan keinginan rohani dan kesenangan rohani. Saya mengenal-Nya, saya mengasihi-Nya, saya percaya kepada- Nya, saya berharapa kepada-Nya dan saya mengikuti-Nya. Buktinya saya lahir kembali adalah cara-hidup saya sekarang.

Seharusnya tidak ada bedanya dalam jawaban kita bagaimana kita tahu kita dilahirkan secara fisik dan bagaimana kita tahu kita dilahirkan kembali secara rohani. Salah satu alasan adalah bahwa kita tidak ada hubungannya dengan kelahiran fisik kita itu dan keadaannya sama dengan kelahiran rohani kita juga. Itu sesuatu yang dilakukan kepada kita.

Tetapi mengenai kelahiran rohani kita, atau kelahiran kedua kita, jutaan orang Kristen tidak yakin. Mereka tidak percaya bahwa kelahiran kita yang kedua adalah sesuatu yang dilakukan kepada mereka dan bukan pilihan mereka atau bukan mereka yang menyebabkannya. Mereka diajarkan dengan berbagai cara bahwa kita sendiri yang memilih dan yang menyebabkan lahir baru kita.

Jadi tidak mengherankan bahwa ada orang Kristen yang menjadi dewasa dengan pengertian diri itu, keberadaan Kristen yang dibikin sendiri, bahwa mereka tidak meluap dengan puji-pujian tentang kelahiran baru itu. Dan mereka tidak akan mengerti kekaguman Petrus dalam hal itu yang menyebabkan dia memuji dan menyembah Allah.

Marilah saya memberikan lagi gambaran lahir baru dari Perjanjian Baru. Allah melakukan itu, dan Allah akan mendapatkan kemuliaan untuk itu. Efesus 2:4-5 mengatakan, “Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, 5 telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan- kesalahan kita.”

Saya tidak membangkitkan diri saya dari orang mati. Allah membangkitkan saya. Saya secara rohani tidak berada, belum diciptakan. Akan tetapi Allah menciptakan pribadi baru, dan saya menjadi ciptaan baru di dalam Kristus (Efesus 4:24; Galatia 6:15; 2 Korintus 5:17) Saya tidak menciptakan diri saya, Allah menciptakan saya.

Saya dulu buta akan hal-hal rohani. Darah dan daging tidak mampu menolong saya. Namun Bapak di surga dengan belas kasihan dan berdaulat membuka mata saya untuk melihat bahwa Yesus adalah Kristus Anak Allah yang hidup. (Matius 16:17, 11:27; Kisah Para Rasul 16:14). Allah menyebabkan saya bisa melihat dan mengaku kebenaran-Nya.

Ayah dan ibu saya menanamkan Firman Allah di dalam saya dan pendeta Rick Ferguson menyiramnya, akan tetapi Allah dan Allah sendiri yang melakukan mujizat memberi saya hidup dan memberi saya pertumbuhan (1 Korintus 3:6).

Saya dulu degil, pemberontak, sombong, selalu cari jalan sendiri dan tidak mungkin datang ke Yesus berdasarkan kemauan sendiri, tetapi Allah menarik saya, “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku.” (Yohanes 6:44)

Saya dulu tidak ada pertobatan di dalam hati, tidak menyesal atas dosa saya atau ada kemauan untuk berubah, namun Allah menuntun saya kepada pengetahuan kebenaran melalui cobaan tertentu dan saya diberikan kesempatan untuk bertobat (2 Timotius 2:25).

Saya dulu tidak ada iman, tidak ingin terlihat seperti orang lemah yang bergantung kepada orang lain. Namun Allah, dengan rahmat-Nya yang besar, mengaruniakan saya untuk percaya (Filipi 1:29) dan menyelamatkan saya oleh iman. Namun itu bukan hasil usahaku, tetapi pemberian Allah (Efesus 2:8). Saya menjadi percaya.

Memang saya memilih untuk percaya. Akan tetapi pilihan itu adalah pemberian Allah; dan hasilnya dari kelahiran baru bukan yang menyebabkan lahir baru. Seperti dikatakan Yohanes 1:13, “Saya diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.”

Beberapa tahun yang lalu saya mendengar cerita tentang seorang anak bernama Jeremy. Ia dilahirkan dengan tubuh yang bengkok, pikiran yang lambat dan penyakit terminal yang kronis yang membunuhnya perlahan-lahan selama hidupnya yang masih muda. Suatu Minggu pagi di awal musim semi guru sekolah minggu Jeremy menceritakan mereka tentang Yesus, dan untuk menekankan ide kehidupan baru, dia memberikan setiap anak sebuah telur plastik besar.”

“Nah,” dia katakan kepada mereka, “Saya ingin supaya kalian membawa ini pulang dan membawanya kembali Minggu besok dengan sesuatu yang memperlihatkan hidup baru. Semua mengerti?” Hari Minggu pagi kemudian, 19 anak-anak datang ke sekolah minggu sambil ketawa dan berbicara dan mereka berkumpul di keliling Ibu Miller sambil dia membuka setiap telur untuk melihat kedalamnya.

Di dalam telur plastic pertama ada bunga. “O iya, bunga itu sungguh tanda hidup baru. Ketika tanaman mulai muncul kita tahu musim semi sudah datang.” Seorang gadis kecil di baris pertama melambaikan tangannya .. “Itu telur saya, Ibu Miller,” serunya.

Telur berikutnya berisi kupu-kupu plastic, yang tampaknya sangat nyata. Ibu Miller mengangkatnya. “Kita semua tahu bahwa ulat itu berubah menjadi kupu-kupu indah. Iya itu hidup baru juga.” Judy kecil tersenyum bangga dan berkata, “Ibu Miller, itu saya punya.”

Di dalam telur lain ada batu dengan lumut di atasnya; dan lumut itu kelihatannya hidup. Billy berbicara dari belakang kelas. “Ayahku membantu saya” Dia mengatakan sambil tersenyum. Setelah itu Ibu Miller membuka telur keempat. Dia tersentak. Telur itu kosong. Tentu saja ini milik Jeremy pikirnya, dan tentu saja dia tidak mengerti instruksi-nya. Pikirnya, “Seharusnya saya menelpon orang tuanya.”

Karena ia tidak ingin membuatnya malu, dia diam-diam mengesampingkan telur itu dan mengambil telur lain. Tiba-tiba Jeremis berbicara. “Bu Miller, mengapa telur saya tidak dibicarakan?” Bingung, ia menjawab, "tapi Jeremy - telur Anda kosong."

Dia melihat ke matanya dan berkata dengan lembut, "ya, tetapi kubur Yesus itu juga kosong dan aku memiliki hidup yang baru karena itu.” Tiga bulan kemudian Jeremy meninggal. Mereka yang memberikan penghormatan di pemakaman terkejut untuk melihat bahwa 19 anak-anak telah menempatkan telur plastik di atas peti matinya, semuanya kosong.

Karena Yesus hidup untuk kita yang percaya Dia telah menebus dosa-dosa kita di kayu salib dan karena Jeremy menerima lahir baru pemberian Allah, dia menjadi percaya dan sekarang berada bersama Bapaknya disurga untuk selama-lamanya.

Tidak masalah bagaimana kita memulai kehidupan ini, kaya atau miskin, sehat atau cacat secara fisik atau mental, dan tidak masalah kita menjalani kehidupan kejahatan dan sekarang kita harus menanggung konsekwen segalanya yang kita lakukan, yang penting adalah bagaimana kita mengakhiri hidup kita. Setelah semua pengalaman hidup itu apakah menerima pemberian Allah dan mengaku Yesus sebagai Tuhan dan kita bertobat dan percaya? Keputusan itu lebih penting dari segalanya.

Petrus mengatakan, “Allah, karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali.” Allah melakukannya, untuk mencegah kita menjadi sombong dan kita gagal untuk memberkati Allah dan Bapa dari Tuhan kita Yesus Kristus dan supaya kita memproklamirkan keunggulan dari Yang memanggil kita keluar dari kegelapan ke cahaya yang mengagumkan (1 Petrus 2:9; 1 Korintus 1:24;2 Timotius 1:9).

Jadi marilah kita memuji Allah malam ini dengan segenap hati kita karena dia telah menyebabkan kita lahir kembali ke dalam keluarga-Nya dan memberikan kita pengharapan yang hidup. Ada beberapa diantara saudara-saudara yang tertarik dan dibangunkan oleh Roh Allah malam ini. Jangan menolak.

Ayat 23 mengatakan bahwa kita “telah dilahirkan kembali oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.” Semoga Allah menghidupkan firman-Nya dengan kuasa yang membangkitkan kehidupan Anda. Datanglah, percayalah dan berkatilah Tuhan bersama kita untuk pekerjaan-Nya yang besar dalam kelahiran baru, Amin?
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu